SELAMAT HARI GURUKU, untuk para Guruku yang saat ini masi sehat, semoga Allah menyehatkan selalu kalian di sisa waktu pengabdian di muka buminya Ini. Kepada para Guruku yang telah mendahului berpulang, Semoga Allah menjadikan kubur kalian sebagai bagian dari taman Surgawi.
Saya punya banyak Guru. Guru SD Negeri 4 Mawasangka, Guru SMP Negeri 1 Mawasangka, Guru SMA Negeri 1 Mawasangka, Guru Guruku di STPDN, Guru Guruku di Pasca Sarjana MAP UGM dan Program Studi Antar Bidang S3 UGM, Para Pembimbing dan penguji Skripsi, Tesis, Disertasiku. Guru mengajiku, Guru Olahraga beladiriku, Guru Agamaku, Guru yang memberi nasehat kehidupan pada saya. Terlalu banyak Guruku untuk disebut, tetapi terlalu sedikit untuk berhenti berguru dalam khazana lautan Ilmu yang tak bertepi ini.
Saat mulai belajar ilmu pengetahuan, ayahku yang adalah Guru utamaku, menyetir kata bijak warisan para Guru di negeri kami: ” peelu mini, Guru momondo mosusuakana dala, neupakawakamo maka membalimpu mori matangka amondo te katandaina”. Carilah guru yang lengkap dalam ilmu dan perilaku, bila ketemu jadilah murid yang kuat dalam fisik dan jiwa serta kuat akan ingatan atas laku dan nasehatnya.
Guru adalah pribadi yang diguguh dan ditiru. Menjadi guru bukanlah hanya mentransfer pengetahuan umum, tapi juga menjadi contoh akan tingkah laku keseharian kepada anak didik. Setiap kita yang dewasa apalagi telah berumah tangga adalah guru. Guru buat anak-anak kita. Karena anak adalah pencontohan dan penduplikat kuat dari perilaku orang tuanya di rumah. Saat anak telah berumur cukup untuk belajar kepada orang lain, maka tugas orang tua mencari orang yang tepat untuk menitipkan anak-anaknya belajar ilmu dan adab. Manakala mereka telah beranjak dewasa maka nasehat tadilah yang terucap.
Carilah guru yang baik dalam ilmu dan lakunya. Kuatlah engkau menerima pedisnya nasehat gurumu, kuatlah engkau menjadi pengikut setia pada setiap langka gurumu. Lalu ingat dan simpan baik-baik apa yang engkau lihat dan dengar darinya.
Menjadi guru yang menjiwai tugasnya itu berat. Apalagi dizaman ini. Zaman yang serba materialis dan hedonis. Zaman yang ilmu apapun dapat dipelajari sendiri lewat google. Zaman yang penghargaan atas proses menjadi terabaikan, karena yang instan juga banyak. Zaman yang pencarian akan arti kesejatian diri yang mati lalu hidup dan selanjutnya pasti mati dan akan hidup lagi, semakin menjadi jalan sunyi, yang tidak lagi diminati oleh banyak orang. Zaman yang berubah cepat, semakin hari semakin canggih.
Tapi secangih-canggihnya zaman dan tekhnologi, tetap akhirnya akan mati dan dihidupkan lagi. Sebab bila mati lalu lahir, untuk kemudian berusaha merengkuh dunia yg sesa’at ini, lalu kemudian mati lagi, tanpa ada hidup setelah mati, maka buat apa ada rasa baik dan buruk, senang dan susah, marah dan ceriah. Karena dari proses rasa itu lahirlah kebutuhan akan keteraturan, dari kebutuhan akan keteraturan itu maka timbullah berbagai UU.
Untuk apa semua itu, bila proses kehidupan dan kematian kita hanya seperti daun yang bertumbuh, hijau menguning lalu jatuh dan melebur bersama tanah, untuk kemudian tiada. Kita hidup karena memang berproses dan akhir proses itu adalah, hidup lagi untuk selamanya. Mari kita persiapkan hidup nanti yang selamanya, disaat hidup yang sementara ini.
Hampir 16 tahun lamanya, saya menelusuri jalan pengabdian ini. Senang, bangga, sedih, gundah bahkan juga air mata yang berlari menitik disela kesendirian, menghadap Sang Pengatur segala rencana. Berbisik lirih dikesunyian malam, “Rabb Engkau Maha Tahu, sejak aku pandai menyebut cita-cita, aku tak pernah menyebut untuk menjadi kepala sekolah, aku juga sekolah, di sekolah yang bukan untuk menjadi begini, Tapi Takdirmulah, yang mengantarkan aku di sini. Maka bimbinglah aku yang lemah dan sendiri ini, aku hanya punya Engkau di sini.
Aku tak akan bisa apa apa tanpaMu. Maka jangan tinggalkan aku, aku coba berlari kejalanMu, tapi aku mahluk yang lemah yang Engkau kuasakan pula atas jenisku mahlukmu dari jenis lain yang gaib dari jenisku, untuk menggangguku, membujuku agar aku lalai dariMu. Tanpa ampunanMu saya hina, tanpa keyakinan akan janjimu saya akan terhanyut”.
Ya 16 tahun lalu, saya menapaki jalan para budiman ini, sungguh bukan atas rencanaku, bukan pula atas keinginanku. Tapi atas perintah dari orang tua angkat, yang menjadi pimpinanku saat itu. Mesti bertanggungjawab atas misi yang telah saya tuliskan untuknya, akan menjadikan STKIP menjadi Universitas. Setelah jadi bupati, beliau minta saya tunaikan janji itu. Perjalanan itupun dimulai. Pengalaman itupun dijalani. Berbagai rasa itupun dirasai.
Ya. Seorang yang baru berumur 27 tahun menapaki karier menjadi pimpinan sekolah para sarjana yang akan menjadi Guru. Saya mungkin sukses sebagai manajer karena janji ditunai, STKIP menjadi Universitas, bahkan Universitas itupun kini menjadi milik negara. Bahkan telah pun terijabah doa untuk membangun di pulau tempat saya terlahir. Niat utamanya hanya satu, sebanyak banyaknya anak-anak kurang mampu dikampung-kampung itu bersekolah dengan biaya murah, bila mungkin beasiswa. Bangunan-bangunan pun, telah berdiri megah, menggantikan gedung-gedung kuliah berdinding papan saat pertama saya masuk. Mahasiswaku yang awalnya banyak yang berumur diatasku, kini berganti anak-anak belia yang penuh cita dan energi.
Ya sampai disini mungkin saya bisa dibilang sukses sebagai manajer. Tapi sebagai guru saya belum layak menyandang sebutan itu dengan lapang. Guru adalah di guguh dan ditiru. Saya tahu belum layak diguguh oleh yang muda. Secara lahir mungkin sy, bisa berkata kata dengan lancar tanpa hambatan, sebagai imbas berderetnya titel sekolah formal yang saya jalani. Tapi secara batin, secara keihlasan, secara kesadaran diri, saya belumlah cukup menjadi seorang yang budiman dan berilmu. Karena itu, saya pun masi selalu ingin berguru kepada setiap yang budiman. Semoga Allah mengirimkan padaku lagi Guru-guru yang budiman, untuk menjalani sisa waktu didunia menuju pada keabadian hidup yang sesungguhnya.
Selamat hari Guru ke 75 tahun, Jangan pernah lelah berbuat yang berguna untuk yang lemah.
Mari menempatkan guru pada tempatnya.
Salam Takzimku untuk para guru dimanapun berada.
Penulis : DR.Azhari Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka









