TenggaraNews.com, KENDARI – Berita bohong (hoax) kebanyakan diciptakan orang pintar tapi jahat. Ironisnya, berita hoax itu disebarkan (share) oleh orang baik tapi bodoh. Agar tidak masuk dalam golongan penyebar hoax, maka lakukan verifikasi informasi untuk mengetahui kebenaran informasi sesungguhnya.
Ini ditegaskan Yosep Adi Prasetyo, mantan Ketua Dewan Pers Indonesia periode 2016-2019 di hadapan peserta workshop Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kota Kendari, Rabu (11/9/2019).
Stanley, begitu panggilan akrab Yosep Adi Prasetyo, berita hoax selalu digunakan kelompok-kelompok radikal. Mereka viralkan melalui jaringan internet, untuk mempengaruhi orang lain. Seolah-olah berita yang dishare itu mengandung kebenaran.
Agar masyarakat tidak terjebak dan tidak terpengaruh berita hoax, Stanley menyarankan, agar selalu melakukan verifikasi informasi. “Kalau menemukan artikel, gambar atau video yang meragukan kebenarannya. Apalagi sampai berita tersebut sifatnya menghasut, maka segera kros cek kebenarannya. Jika sudah dicek dan ternyata itu berita hoax, segera buat bantahannya. Supaya orang lain tidak terpengaruh berita hoax,” jelasnya.
Cara melakukan pengecekan berita hoax, mantan Wakil Ketua Komnas HAM periode 2007-2012 ini menyarankan, agar masuk situs : stophoax.id atau turnbackhoax.id. “Dalam waktu yang sangat singkat, akan terjawab berita yang diperoleh apakah benar atau hoax. Kalau hoax, pasti ada bantahannya atau klarifikasi, ” bebernya.
Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia juga menjelaskan tiga bentuk media kepada peserta workshop. Bentuk media konvensional, meliputi media cetak dalam bentuk koran, majalah atau tabloid. Media televisi dan radio juga masih kategori media konvensional.
Kemudian media baru yang saat ini tumbuh dengan pesatnya di Indonesia, yaitu media online atau media siber, media streaming. Sedangkan kategori media sosial, diantaranya facebook, line, twitter, whatsapp, blog.
Letak perbedaannya, informasi yang ditayangkan di media sosial bukan karya jurnalistik. Sedangkan media konvensional dan media online, streaming menayangkan karya jurnalistik.
Dengan mengenal bentuk-bentuk media, peserta workshop diharapkan dapat membedakan mana berita karya jurnalistik dan mana berita yang bukan karya jurnalistik. Sehingga masyarakat bisa melakukan optimalisasi pemanfaatan media secara baik dan benar.
Di moment workshop ini, peserta juga diajarkan cara membuat siaran pers pengumuman jadwal peristiwa, pengumuman untuk media dan siaran berita. Kemudian diajarkan cara membantah berita, foto atau vidoe hoax.
Simulasi ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi semua peserta.
Laporan : Rustam









