TNC, KENDARI – Jika umumnya, kedelai merupakan bahan dasar yang dibutuhkan untuk pembuatan kecap. Maka lain lagi dengan inovasi dari anggota Kelompok Konstituen (KK) Matahari, Kelurahan Kemaraya Kecamatan Kendari, yang berhasil memproduksi kecap berbahan baku air kelapa.
Jumat, 9 Desember 2016 lalu merupakan awal dari lahirnya produk kecap tersebut. WD Rosnambe, Divisi Pengaduan KK Matahari mulai mendemokan pembuatan kecap berbahan baku air kelapa itu. Awalnya, wanita ibu rumah tangga ini ragu untuk memperkenalkan hasil inovasinya tersebut, namun berkat support dari dua pengurus Rumpun Perempuan Sultra (RPS) yakni Ulfah dan Sarsina, akhirnya kegiatan itu terlaksana dengan disaksikan oleh anggota KK Matahari dan awak media.
“Semua ini berkat dukungan yang tanpa henti dari ibu Ulfah dan ibu Sarsina, sehingga akhirnya saya pun memberanikan diri mendemokan cara pembuatannya,” ujar Rosnambe, Sabtu (8/7/2017).
Menurut dia, jika produksi kecap ini bisa dikembangkan, tentu bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat, khususnya anggota KK Matahari. Apalagi, bahan bakunya mudah ditemukan, jika dibandingkan dengan produksi kecap yang selama ini beredar di pasaran dan dikonsumsi masyarakat, yang diolah dari kedelai, masih sulit didapatkan di Sulawesi Tenggara (Sultra).
“Sempat menghayal juga andaikan suatu saat nanti produk kecap ini dapat menjadi besar dan dilirik investor, bisa jadi kecap air kelapa menggantikan produk kecap kedelai yang sudah lama beredar . Apalagi, pabrik kecap kedelai yang saya maksud tersebut, saat ini sementara dihentikan proses produksinya, karena bahan baku dan alat yang digunakan tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan,” jelas Rosnambe.
Ditambahkannya, momen ini merupakan peluang usaha yang bisa dimanfaatkan, orderan yang akan diperoleh akan membanjir, mengingat kebutuhan kecap yang lumayan besar bagi industri kuliner di Sultra, khususnya Kota Kendari yang saat ini lagi marak pertumbuhan jajanan kuliner.
Menindaklanjuti peluang usaha itu, kata dia, pihaknya pun langsung melakukan diskusi untuk pelabelan, yang dimulai dengan pembentukan kelompok usaha bersama (Kube). Alhasil, disepakati diberi nama Kube Matahari, yang diketuai oleh Wd Imu, yang juga Ketua KK Matahari.
Setelah itu, lanjut Rosnambe, berdasarkan rencana tindak lanjut (RTL) dari diskusi tersebut, pihaknya telah mengurus surat pembentukan Kube di kantor kelurahan setempat.
“Kami bersyukur karena pak lurah merespon positif pementukan KUBE Matahari, yang beranggotakan 10 orang. Dua hari berselang, kami pun menuju ke kantor Disperindogkop dan UMKM Kota Kendari, dan alhamduillah di kantor ini pula kami langsung ditemui Sekretaris Disperindagkop dan UMKM Kota Kendari, Ld Kubais. Setelah mendengar penjelasan dari kami tentang maksud kedatangan kami, beliau mengungkapkan akan memprioritaskan Kube Matahari, untuk mendapatkan bantuan modal usaha sesuai dengan kebutuhan kelompok,” bebernya.
Karena produk KUBE Matahari yaitu kecap, maka Disperindagkop dan UMKM Kota Kendari menganjurkan agar ke Dinas Kesehatan Kota Kendari, guna pengurusan perizinan pangan industry rumah tangga (PIRT).
“Di Dinkes kami diberikan formulir untuk dilengkapi, dan jika telah lengkap maka dapur tempat produksi kecap akan disurvey kelayakannya. Karena itu, saat ini kami pun sedang membenahi Sekreariat KK, yang akan kami gunakan sebagai dapur yang akan disurvey,” papar Wd. Rosnambe.
Sembari membenahi dapur, saat ini pengurus KK sedang mencari informasi tentang kemasan kecap yang praktis, mengingat kemasan yang disarankan pihak Dinas cukup langka di Kota Kendari. Pasalnya, harus di pesan langsung dari Jawa. Hal ini pula yang sempat mematahkan semangat para pengurua Kube tersebut.
Untung saja, solusi datang tatkala pertemuan Forum Konstituen Kota Kendari (FK3), tanggal 20 Januari lalu di Kantor RPS. Saat ini, Kube Matahari telah mengantongi izin kelayakan produk, dan sementara mengurus perizinan PIRT dan kemasan.
“Kami berharap kecap yang kami produkai laris manis di pasaran, dan pengurus KK dapat mengambil manfaat dari pembuatan kecap tersebut, baik untuk dikonsumsi pribadi maupun di jual,” pungkasnya.
Untuk diketahui, keterampilan membuat kecap diperoleh perempuan berkulit hitam manis ini, melalui pelatihan Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Kota Kendari, Juni 2016 lalu. Pasca pelatihan, dirinya belum berfikir untuk mengajarkan kepada orang lain, dan hanya sebatas membuat untuk konsumsi pribadi. Setelah tergabung dalam KK, barulah dirinya mulai berfikir untuk membagikan ilmu yang dimiliki, sekaligus dapat dijadikan usaha kelompok yang bernilai ekonomi. (***)








