DI Pulau Muna ternyata memiliki ragam warisan leluhur, Wale -Ale adalah salah satunya dan hingga kini masih terus lestari dan masih tetap dipertahankan oleh masyarakat adat setempat.
Adalah tradisi Kafonisino Sangia dimana hingga kini ritual itu terus dilakukan oleh masyarakat adat rumpun adat Wale-Ale, dan dilakukan sejak dari berabad -abad yang lalu.
Sebagaimana diuraikan oleh La Ari dalam Sebuah skripsinya pada Program Studi Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO), berjudul “Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei di Desa Wale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna”.
Hasil skripsi dibawah bimbingan Drs. H. Abd. Rauf Suleiman, M.Hum, dan Drs. H. La Ode Baenawi, M.Pd, sebagai pembimbing I dan II ini dan skripsinya meyakinkan secara Ilmiah (lulus ujian) dari beberapa penguji, antara lain Dr. Mursiddin, M.Pd, Pendais Haq, S.Ag., M.Pd, Dra. Haswati, M.Hum, Drs. Ali Hadara, M.Hum, dan Drs. H. Hayari, M.Hum.
Dalam skripsinya menyatakan, Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei merupakan salah satu warisan leluhur yang tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Wale-Ale sampai saat ini.
Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei dilaksanakan oleh para tokoh adat yang telah dilantik oleh golongan sahano liwu/lembaga adat kampung Wale-Ale sehingga mampu melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai aturan dan mekanisme yang dilakukan oleh para pendahulu.
Tradisi itu menjadi budaya yang langka dan menjadi salah satu kekayaan budaya yang ada di pulau Muna yang masih bertahan ditengah perkembangan teknologi modern.
Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei ini memiliki makna yang tersimpan didalamnya bukan hanya sekedar berkunjung dan berziarah tetapi ada hal-hal yang bersifat religius atau bersifat ghaib.
Dalam skripsinya, Ia mengkaji lebih luas tentang latar belakang, proses pelaksanaan, perubahan serta nilai yang terkandung dalam tradisi Kafonisino Sangia Warumbei. Selain itu tradisi Kafonisino Sangia Warumbei menjadi tempat pertemuan bagi masyarakat Desa Wale-Ale yang tinggal diberbagai tempat.
Latar Belakang Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei di Desa Wale-Ale
Tradisi Kafonisino Sangia Warumbei merupakan salah bentuk ziarah atau kunjungan ke makam Sangia Warumbei dan beberapa tempat yang berada pada suatu area di sekitar makam tersebut. Kompleks Sangia Warumbei terletak di atas ketinggian (gunung) di bagian Selatan Desa Wale-Ale.
Selain Sangia Warumbei, ada pula tempat yang wajib dikunjungi setiap pelaksanaan tradisi Kafonisino Sangia ini. Tempat tersebut adalah Sangia Wakahihi dan Sangia Wale-Ale. Namun yang lebih dikenal di tengah-tengah masyarakat sekarang adalah Sangia Warumbei, maka disebutlah tradisi Kafonisino Sangia Warumbei.
Namun dalam pelaksanaannya tidak hanya Sangia Warumbei yang dikunjungi tetapi ada beberapa sangia yang harus dikunjungi, terutama SangiaWale- Ale. Sangia Wale-Ale merupakan sebuah batu yang diyakini oleh masyarakat Wale-Ale sebagai tempat bersemedinya seorang tokoh yang dianggap sebagai Wali-wali karena pada saat itu belum ada tempat yang dikhususkan untuk berdoa.
Tokoh tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan masyarakat Wale-Ale pada saat itu. Beliau membangun masyarakat Wale-Ale menjadi kesatuan serta mengajarkan pada masyarakat Wale-Ale tentang tata cara hidup secara menetap pada suatu wilayah.
Sebelum kedatangan Wali-Wali ini, masyarakat Desa Wale-Ale hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan menggantungkan hidup pada alam. Selain itu, masyarakat Wale-Ale saat itu hidup secara berkelompok dan memilih tempat tinggal di dalam gua.
Kehadiran tokoh ini berhasil menyatuhkan seluruh masyarakat yang hidup secara nomaden tersebut. Selain itu, tokoh itu juga memiliki kesaktian dan keberanian sehingga berhasil mengusir para pemberontak dan perampok yang datang mengganggu ketentraman dan kedamaian masyarakat Wale-Ale.
Pada saat berada di tanah Wale-Ale, beliau selalu bersemedi di sebuah tempat yang kini dinamakan sebagai Sangia Wale-Ale. Tujuan tokoh tersebut bersemedi adalah untuk berdoa kepada maha pencipta agar masyarakat Wale-Ale selalu diberikan rezeki dan kedamaian serta ketentraman dalam menjalani kehidupan.
Selain itu tujuan beliau bersemedi adalah bermohon agar diajuhkan dari seluruh bahaya serta musibah yang dapat melanda Wale-Ale.
Tokoh tersebut dianggap oleh masyarakat Wale-Ale sebagai “Wali-Wali” karena kesaktian dan kemurahan hatinya yang ditunjukan kepada masyarakat Wale-Ale. Tokoh tersebut menghilang tanpa jejak dan sampai saat ini tidak diketahui serta tidak ada sumber yang menunjukan kuburan atau keberadaannya.
Sebelum beliau menghilang, ia berpesan kepada seluruh masyarakat Wale-Ale agar setiap tahun pada hari dan bulan tertentu datang ketempat ia bersemedi dengan tujuan berdoa memohon keselamatan untuk semua masyarakat Wale-Ale. Pesan itulah yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Wale-Ale sampai sekarang (La Botu Unde, Gelar Langkabaua, Wawancara 26 September 2016).
Hingga kini, tradisi Kafonisino Sangia Warumbei ini rutin digelar atau diziarahi setiap tahunya dan dilaksanakan oleh para tokoh adat setempat, tepatnya tiap empat hari sebelum masuk bulan Ramadhan/Puasa.
Sumber : Skripsi Universitas Halu Oleo (La Ari, Pendidikan Sejarah Angkatan 2010)
Laporan : Hasan Barakati









