TenggaraNews.com, KENDARI – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) merasa prihatin atas kondisi yang dialami pengusaha hotel di Sulawesi Tenggara (Sultra). Tingkat hunian kamar hotel mengalami penurunan antara 30 sampai 40 persen. Ini terjadi sebagai dampak naiknya harga tiket pesawat sejak awal tahun 2019. Padahal sebelumnya, kamar-kamar hotel yang masih terisi 60 sampai 80 persen.
“Harga tiket penerbangan naik, ini sangat berpengaruh terhadap jasa perhotelan di Sultra. Hunian mengalami penurunan drastis, 30 persen sampai 40 persen.” Kata Ketua DPD PHRI Sultra, Hugua saat ditemui di Waroeng X Bro, Rabu 26 Juni 2019.
Dampak lain akibat naiknya harga tiket penerbangan, juga berpengaruh sektor jasa lain, seperti pengunjung jasa restoran atau rumah makan turun. Harga sayur-mayur dan ikan juga mengalami penurunan.
“Kalau penghuni hotel berkurang, akibat kebanyakan orang menunda perjalanan ke luar daerah dengan menggunakan jasa penerbangan, tentu jumlah orang yang makan di restoran atau rumah makan akan berkurang juga. Jadi banyak sekali dampak kenaikan harga tiket pesawat,” jelas Hugua berkali-kali.
Untuk mensiasati minimnya okupansi (hunian) hotel, pengusaha manajemen perhotelan terpaksa banting harga. Jika sebelumnya tarif hotel Rp 1 juta per malam, bisa turun sampai Rp 400 ribu per malam.
“Bisa dibayangkan tarif hotel jor-joran. Ini hanya untuk menutupi biaya operasional saja. Ya hanya cukup untuk bertahan saja. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus mengeluarkan regulasi terhadap maskapai penerbangan di Indonesia,” kata Hugua yang pernah menjabat Bupati Wakatobi selama dua periode.
Laporan : Rustam









