TenggaraNews.com, KENDARI – Pasar ekonomi syariah di Sulawesi Tenggara (Sultra) terus dikembangkan, salah satunya dengan melibatkan masyarakat melalui organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Di Sultra, MES dinahkodai oleh seorang pengusaha tulen, Akhmad Aljufri, yang baru saja dilantik bersama pengurus lainnya, Sabtu 31 Agustus 2019 di Aula Teporombua Bank Indonesia Perwakilan Sultra.
Pasar ekonomi syariah terus tumbuh dan berkembang. Perbankan konvesional pun perlahan-lahan mengembangkan investasi ke sistem syariah. Setidaknya, sejumlah bank plat merah dan swasta sudah memiliki bank syariah. Untuk di Sultra, terdapat tujuh perbankan syariah, seperti BNI syariah, Mandiri, BRI, Mega, Panin, Muamalat dan BTPN Syariah.
Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas mengatakan, bahwa pemerintah provinsi (Pemprov) mendukung program MES dalam upaya pengembangan perekomomian syariah di bumi anoa.
Apalagi, kata dia, komposisi Pengurus Provinsi MES Sultra diisi oleh para pengusaha-pengusaha handal dan teruji, sehingga organisasi ini diharapkan bisa berkontribusi dalam pembangunan daerah di masa-masa mendatang.
“Yah, kita berharap MES ini dapat membantu program Pemda. Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi syariah sudah cukup bagus. Memang banyak yang harus dilakukan, dan itu saya optimis bisa dilakukan,” ujar Lukman Abunawas.
Di tempat yang sama, Sekretaris Pengurus Pusat MES, Anwar Abbas berharap, agar kepemimpinan Akhmad Aljufri dapat membawa gerbong MES sebagai agen perubahan untuk pertumbuhan perekonomian syariah.
Pada dasarnya, lanjut pria berusia 64 tahun ini, pemerintah mendukung pembangunan iklim perekonomian syariah, tapi masih fokus pada sektor finansial. Sedangkan sektor finansial bergantung pada real sector.
“Sektor real kita memang lemah. Kita minim pelaku-pelaku usaha syariah,” katanya.
Kondisi saat ini, Indonesia hanya memiliki tiga persen pelaku usaha syariah. Sedangkan negara lain seperti Amerika sudah diangka 11 persen, Jepang 10 persen, Singapura tujuh persen dan Malasya lima persen.
“MES harus mampu menggerakan, mengembangkan dan menyebarkan virus entrepreunership di pasar ekonomi syariah,” harap alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Ketua Pengurus Provinsi MES Sultra, Akhmad Aljufri menjelaskan, inklusi ekonomi syariah di Sultra jauh lebih besar ketimbang pelaku ekonomi syariah. Sebenarnya, kata dia, masyarakat sudah memahami tentang ekonomi syariah itu, namun belum menjalankannya.
“Jadi, inklusi dan realita itu belum linear,” katanya.
Untuk itu, lanjutnya, perlu dilakukan sosialisasi secara terus menerus, agar masyarakat memiliki keberanian untuk ikut terjun ke pasar syariah.
“Nanti, kita akan melakukan pertemuan dulu (pengurus), untuk merumuskan program. Intinya, sosialisasi tentang ekonomi syariah perlu terus dilakukan,” ucapnya.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Suharman Tabrani berharap, agar MES Sultra dapat berkontribusi dalam mendorong perekonomian daerah ke arah yang lebih baik lagi. Untuk itu, Ia menilai perlunya koordinasi antara MES dan pemerintah serta lembaga keuangan.
Suharman menambahkan, pihaknya mendorong perkembangan ekonomi syariah melalui MES. Sebagai bank central, BI selalu berkomitmen untuk mendukung semua kegiatan positif.
Tentunya, kata Suharman, BI dan MES bisa senantiasa berkoordinasi dan bekerja sama. Misalnya, program pengembangan atau pemberdayaan ummat melalui berbagai kegiatan ekonomi, yang akan disinkronkan dengan program yang ada di BI.
“Kehadiran MES adalah bagian dari upaya untuk mendorong ekonomi syariah,” jelas Suharman.
Laporan: Ikas









