TenggaraNews.com, KENDARI – Melalui rapat koordinasi (Rakor) mitigasi penanganan penyebaran virus corona, Selasa 28 Januari 2020, DPRD, Pemprov Sultra dan unsur Forkopimda menyepakati delapan rekomendasi rapat tersebut.
Dipenghujung Rakor, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sultra, Muh. Endang SA membacakan delapan rekomendasi yang telah disepakati bersama.
Ketua DPW Partai Demokrat Sultra ini menyebutkan, adapun delapan rekomendasi dari Rakor ini yakni meminta pemerintah agar mengambil sikap tegas untuk menghentikan masuknya TKA dan WNA asal China, mengimbau pemerintah untuk melakukan pengawasan secara ketat, dibentuk tim khusus untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di Sultra, memperkuat kapasitas dan memperketat pengawasan TKA, memperketat pengawasan terhadap mobilitas TKA di pelabuhan dan membentuk public service (pusat pengaduan).
“Selanjutnya, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat serta menghentikan pernyataan yang membingungkan atau menimbulkan keresahan masyarakat,” kata Endang.
Lebih lanjut, politisi Partai Demokrat ini menjelaskan, virus corona yang kini telah menyebar di sejumlah negara di dunia tidak boleh dianggap remeh. Utamanya bagi Pemprov Sultra.
“Mengingat Sultra memiliki banyak tenaga asing (TKA) yang bekerja di PT VDNI yang berada di Kabupaten Konawe,” jelasnya.
Endang berharap antisipasi terkait penyebaran virus corona bisa terus ditingkatkan. Apalagi, data yang ada saat ini, terdapat 744 TKA Cina yang bekerja di PT VDNI.
“Kita ingin mengetahui apa yang sudah dilakukan Pemprov Sultra, dan yang akan dilakukan dengan mitigasi penyebaran corona ini,” tambahnya.
“Kemarin, saya habis ke bandara dan saya lihat penanganannya biasa-biasa saja, belum ada yang luar biasa. Yang kita inginkan penanganan luar biasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Asisten III Setda Sultra, Zunuriah mengakui jika penanganan mitigasi corona di Bandara Haluoleo masih terlalu lemah. Peralatan yang digunakan pun masih manual dan belum terlalu canggih.
“Memang sudah ada scan untuk suhu tubuh di bandara dan di pelabuhan, tapi alatnya belum terlalu canggih. Dinkes harus mengambil langkah-langkah untuk mengadakan alat-alat canggih, karena makin banyak TKA yang masuk,” katanya.
Laporan: Ikas









