TenggaraNews.com, KENDARI – Pernyataan kontoversi Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Haluoleo Kendari, Kolonel Pnb. Muzafar yang menyebut wartawan yang melakukan liputan kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA), Selasa (30/7/2020) ditunggangi teroris dinilai telah melukai hati awak media di seluruh nusantara.
Untuk itu, DPD Jurnalis Online Indonesia (Join) Kendari meminta secara tegas kepada Danlanud Haluoleo Kendari agar segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada awak media.
Ketua DPD Join Kendari mengatakan, bahwa pernyataan Danlanud tersebut telah menimbulkan keresahan publik, ditengah situasi pandemic Covid-19 dan gelombang penolakan kedatangan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) di Sultra.
Apalagi, Danlanud tak dapat membuktikan ucapannya, bahwa wartawan yang melakukan peliputan kedatangan TKA itu ditunggangi teroris.
“Yah, kami (Join Kendari) meminta dengan tegas, agar beliau (Danlanud, red) segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka terhadap profesi wartawan. Karena pernyataan beliau, jelas telah melukai kami (wartawan),” tegasnya, Rabu 8 Juli 2020.
Tak hanya itu, Join Kendari juga mendesak Panglima TNI agar mengevaluasi kinerja anggotanya di daerah. Bila perlu, kata dia, Panglima TNI segera mencopot Danlanud.
Mirkas mengatakan, pernyataan Danlanud tersebut merupakan hal yang ngawur. Dan hanya bagian dari pembenaran untuk melindungi diri dari sorotan publik.
Untuk itu, Danlanud diminta menunjukan bukti, jika benar ada teroris yang menunggangi aktivitas para wartawan dalam melakukan aktivitas jurnalistiknya saat aksi penokakan TKA jilid II.
“Bagaimana bisa beliau mengatakan bahwa wartawan yang meliput saat itu ditunggangi teroris. Kalau ada buktinya, yah silahkan ditunjukan ke publik, jangan asal ngomong,” tegasnya lagi.
Menurutnya, pernyataan Danlanud tersebut aneh dan cenderung memojokan profesi wartawan. Sebagai aparat, lanjutnya, tentu sudah memahami tugas para awak media.
“Itu kan aneh dan lucu. Kalau memang ada yang menunggangi, apalagi itu teroris, yah silahkan langsung ditangkap saja. Kenapa malah sekarang baru bilang wartawan yang ditunggangi teroris,” jelasnya.
Laporan : Rustam









