TenggaraNews.com, BELAWAN – Hari kedua penggusuran kios dan permukiman pinggiran rel kereta api di Belawan nyaris rusuh. Ini dikarenakan pihak masyarakat keberatan atas penutupan akses jalan ke rumah permukiman yang ditutup dengan pagar rel besi pada minggu kemarin 6 September 2020.

Sebelumnya dihari pertama kemarin proses penggusuran berjalan lancar, karena kebanyakan masyarakat menganggap pihak PT KAI hanya mengurusi draunasi jarak kanan kiri rumah dengan rel saja, namun hari ini masyarakat melakukan perlawanan karena pemasangan pagar besi rel kereta api tidak ada tertulis dalam surat pemberitahuan kemarin.
Dahlia Lubis dan ibu Ginting warga setempat merasa keberatan rumahnya dipagari besi oleh pihak PT.KAI.
“Tidak ada pemberitahuan kenapa tiba-tiba mau dipasangi pagar di depan pintu rumah kami serta akses jalan kami, kami bukan binatang, kami manusia mau lewat dari mana kalau mau keluar jadi jangan ditutup kalau ditutup kami ribut,” ucapnya.
Sama halnya dengan kerumunan masyarakat yang ikut menolak pemagaran. “Kami menentang adanya pemasangan pagar ini, kalau dipaksa dipasak, matipun kami rela,” sorak warga.
Masyarakat berharap pagar besi tersebut dibuka, agar masyarakat bisa beraktifitas dengan normal, sepeda motor dan becak masyarakat bisa keluar masuk dari rumah.
Dalam kegiatan tersebut pihak PT KAI pun belum ada yang angkat bicara. Proses penggusuran, pengerukan drainase dan pemasangan pagarpun terus berlanjut.
Laporan : RJ Samosir









