Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
No Result
View All Result
Home OPINI

Perempuan Hidup di Dunia Laki-laki

redaksi by redaksi
May 31, 2021
in OPINI
0
Ilustrasi - Manusia hidup berdampingan

Ilustrasi - Manusia hidup berdampingan

Smiley face

DISADARI  atau TIDAK, kita masih hidup di dunia laki-laki. Mengapa demikian? Saya berharap teman-teman sadar akan isu-isu gender yang masih bermunculan sampai saat ini. Banyak sekali perlakuan-perlakuan keji atau tidak adil yang menimpa perempuan baik secara fisik maupun verbal.

Di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, diskriminasi dan ketidaksetaraan berbasis gender sangat terlihat. Perempuan paling sering mendapatkan tindak kriminal. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan kepada perempuan baik anak ataupun perempuan dewasa terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di tahun 2017 terdapat 348.466 korban dan meningkat menjadi 406.178 di tahun 2018 dan mengalami kenaikan 65% di tahun 2019.

Sebagaimana dilansir di laman Kumparan.com, bahwa hidup di dunia yang didominasi oleh laki-laki, perempuan juga mendapatkan kesempatan terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan memiliki akses terbatas dalam berperan aktif di beberapa program atau aktivitas lainnya di masyarakat, seperti kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sebagainya. Itu sebabnya mengapa isu kesetaraan gender muncul dan menjadi perdebatan yang sangat panjang hingga saat ini.

Namun anehnya, banyak sekali perempuan justru menjatuhkan perempuan lainnya seakan mereka berpihak kepada laki-laki dan justru hidup di dunia laki-laki. Padahal, perempuan sering menjadi korban perlakuan laki-laki namun masih saja belum sadar akan pentingnya saling memberikan dukungan kepada sesama perempuan, bukan malah membunuh sesama perempuan.

You Might Also Like

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

Sering saya lihat dan dengar komentar-komentar yang pedas dari perempuan ke perempuan lainnya. Seperti yang terjadi pada artis muda Cut Syifa, yang sering mendapatkan kata-kata pedas, bahkan mendapatkan umpatan dan do’a jelek dari banyak perempuan lain. Ia dituduh merebut laki-laki perempuan lain yang kejadian tersebut belum terbukti kebenarannya.

Kejadian lainnya misalnya video privat artis Gisella Anastasya yang sempat viral beberapa bulan lalu. Saya meyakini bahwa hubungan seksual apapun bentuknya itu adalah hal privasi yang haknya tidak bisa diganggu gugat. Tapi faktanya, banyak perempuan yang turut serta menghakiminya.

Banyak perempuan yang mencacinya seakan Gisella adalah perempuan yang paling nista di antara perempuan lain. Padahal video tersebut bukan dengan sengaja dia sebar melainkan ada pihak lain yang membocorkannya. Jika seperti ini lantas mau bagaimana?

Ada berapa banyak perempuan yang saling menjatuhkan perempuan lainnya dan membandingkan diri satu sama lainnnya? Menganggap si perempuan A lebih cantik dan lebih baik dari si perempuan B. Bahkan ada juga perempuan yang ikut serta menentukan standar peran perempuan. Mereka mengkritik sikap dan keputusan yang diambil oleh perempuan lain.

Berapa banyak pula perempuan yang berdebat siapa ibu terbaik apakah yang bekerja atau ibu rumah tangga? bayi mana lebih sehat apakah bayi ASI atau Sufor?

Saling membandingkan perempuan yang suka berdandan dengan perempuan yang beparas alami tanpa make up. Banyak juga yang saling nyinyir terhadap keputusan perempuan mengenai caranya berpakaian.

Smiley face

Sering saya memikirkan hal ini, untungnya apa sih saling menjatuhkan sesama perempuan? Apalagi hanya karena masalah laki-laki. Agar kita tidak hidup dalam belenggu patriarki, sudah seharusnya sebagai sesama perempuan kita harus solid dan saling mendukung. Perempuan juga perlu menghormati keputusan yang diambil oleh perempuan lainnya bukan malah nyinyir menjatuhkan hingga membunuh karakternya.

Jika semakin banyak perempuan membunuh perempuan lain dan mematikan karakternya, akan berkurang pula peluang perempuan mendapatkan kebebasan. Bukankah apa yang kita hadapi sama? Sama-sama mempunyai peran ganda, sama-sama didiskriminasi, dan mendapatkan ketidakadilan yang juga sama.

Sepertinya dunia mulai resah dengan kejadian yang seperti ini. Aktivis gerakan feminis juga melawan fenomena yang menggambarkan seolah perempuan membunuh perempuan. Oleh karena, itu bar-baru ini muncul tagar #womenempowerwomen di sosial media sebagai ajakan kesadaran bahwa perempuan seharusnya memberdayakan perempuan lainnya. Bagaimana kita bisa memperjuangkan sebuah ideologi untuk melawan kontruksi patriarki yang telah berabad-abad menjajah perempuan jika kesadaran untuk saling memberdayakan saja tidak ada?

Hidup di dunia patriarki seharusnya menuntut perempuan untuk saling memberdayakan, misalnya dengan cara memberikan hak kepada perempuan untuk memilih dan mengambil keputusan dengan tidak menghakiminya. Menurut saya tindakan tersebut termasuk langkah untuk memberdayakan sesama perempuan.

Melalui tulisan ini saya mengajak sesama perempuan untuk tidak menggunakan kacamata patriarki. Jadi seharusnya jika kamu perempuan, pilih saja keputusan yang terbaik untuk dirimu. Entah setelah lulus studi mau bekerja atau menjadi rumah tangga, entah mau memakai celana atau gamis, entah mau suntik pemutih atau mau kulit natural saja. You have your own body, you have your own life, u have the right to decide which better for you yourself. Tidak usah mengambil pusing omongan orang lain.

Dan jika kamu perempuan, sudahlah berhenti mem-bully sesama perempuanmu, berhenti nyinyir dengan komentar-komentar pedas yang keluar dari mulut atau jarimu, tak usah usil dengan apa yang menjadi keputusan perempuan lain. Jika ingin protes, proteslah pada laki-laki yang menentukan peranmu sehari-hari, kamu harus begini kamu harus begitu. Proteslah pada laki-laki yang sudah melakukan kekerasan terhadap perempuan, proteslah pada laki-laki yang mengambil hak perempuan.

Ingat, perempuan seharusnya sama-sama berjuang untuk mendapatkan kesetaraan dengan saling memberdayakan agar perempuan semakin kuat dan berdaya, bukan saling membunuh. Mungkin ini bukan hal yang mudah bagi sebagian perempuan, tapi saya berharap dengan tulisan ini akan tumbuh kesadaran pada perempuan-perempuan sehingga semakin banyak perempuan yang saling memberdayakan sesama perempuan.

 

Penulis : Hesty Nuraini

Post Views: 297
Previous Post

DPR RI Terima Informasi, Indonesia Tak Dapat Kuota Haji 2021

Next Post

Bupati Konsel akan Evaluasi Absensi Kepala Dinas

redaksi

redaksi

Related News

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

by redaksi
May 30, 2026
0

PENINGKATAN pendidikan Hindu di Indonesia Timur kembali mencatat langkah penting. Tim Visitasi dari Subdirektorat Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat...

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

by redaksi
May 17, 2025
0

Kebijakan Kementerian Agama RI yang membuka kemungkinan penyembelihan Dam jamaah haji musim 1446 H/2025 M dilakukan di tanah air menimbulkan...

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

by redaksi
May 2, 2025
0

Di Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, mari kita berhenti sejenak dari euforia perayaan, dan bertanya lebih dalam. Apakah kita benar-benar...

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

by redaksi
May 2, 2025
0

Keberadaan umat Hindu di Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak pertama kali dimulai Tahun 1968 melalui program transimigrasi pertama di Desa Jati...

Next Post
Bupati Konsel akan Evaluasi Absensi Kepala Dinas

Bupati Konsel akan Evaluasi Absensi Kepala Dinas

Ini Aspirasi Warga Padaleu Disampaikan ke AJP

Ini Aspirasi Warga Padaleu Disampaikan ke AJP

Trending News

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

September 27, 2019
Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

September 27, 2019
Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

September 17, 2019

About

The best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc.

Categories

  • ADVETORIAL
  • crime & Justice
  • Daerah
  • Education
  • Ibukota
  • Kombis
  • Komunitas
  • Kongres PAN
  • Nasional
  • News
  • Operation
  • OPINI
  • Opinion
  • Perempuan dan Anak
  • Politic
  • Politika
  • Ramadhan Story
  • TNC Edukasi
  • TNC Health
  • TNC Inspiration
  • TNC Sportainment
  • TNC TV
  • Uncategorized
  • Veteran

Tags

#Ali Mazi #Asrun #Basarnas #Bombana #Demo #DPR RI #Gerindra #Golkar #Hugua #Jakarta #Jakarta Barat #Kendari #Kolaka #Konawe #Konkep #Konsel #konut #Korupsi #KPU #Kriminal #Muna #Narkoba #Opini #Pariwisata #PDIP #Pemkot #Pilcaleg #Pilgub #Pilgub Sultra #Politik #Polres #polres muna #Rusda Mahmud #Sjafei Kahar #Sultra #Tambang #Teguh Setyabudi #tenggaranews #Tenggaranews.com #TNI #VDNI #Wakatobi Dr Bahri Pemda Mubar Virus Corona

Recent Posts

  • BNI WondrX 2026 Lampau Target Transaksi, Capai Rp2,73 Triliun
  • PT IPIP Digugat soal Dugaan Penyerobotan Lahan Warga di Pomalaa
  • Purchase Now
  • Features
  • Demos
  • Support

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara