DISADARI atau TIDAK, kita masih hidup di dunia laki-laki. Mengapa demikian? Saya berharap teman-teman sadar akan isu-isu gender yang masih bermunculan sampai saat ini. Banyak sekali perlakuan-perlakuan keji atau tidak adil yang menimpa perempuan baik secara fisik maupun verbal.
Di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, diskriminasi dan ketidaksetaraan berbasis gender sangat terlihat. Perempuan paling sering mendapatkan tindak kriminal. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan kepada perempuan baik anak ataupun perempuan dewasa terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di tahun 2017 terdapat 348.466 korban dan meningkat menjadi 406.178 di tahun 2018 dan mengalami kenaikan 65% di tahun 2019.
Sebagaimana dilansir di laman Kumparan.com, bahwa hidup di dunia yang didominasi oleh laki-laki, perempuan juga mendapatkan kesempatan terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan memiliki akses terbatas dalam berperan aktif di beberapa program atau aktivitas lainnya di masyarakat, seperti kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sebagainya. Itu sebabnya mengapa isu kesetaraan gender muncul dan menjadi perdebatan yang sangat panjang hingga saat ini.
Namun anehnya, banyak sekali perempuan justru menjatuhkan perempuan lainnya seakan mereka berpihak kepada laki-laki dan justru hidup di dunia laki-laki. Padahal, perempuan sering menjadi korban perlakuan laki-laki namun masih saja belum sadar akan pentingnya saling memberikan dukungan kepada sesama perempuan, bukan malah membunuh sesama perempuan.
Sering saya lihat dan dengar komentar-komentar yang pedas dari perempuan ke perempuan lainnya. Seperti yang terjadi pada artis muda Cut Syifa, yang sering mendapatkan kata-kata pedas, bahkan mendapatkan umpatan dan do’a jelek dari banyak perempuan lain. Ia dituduh merebut laki-laki perempuan lain yang kejadian tersebut belum terbukti kebenarannya.
Kejadian lainnya misalnya video privat artis Gisella Anastasya yang sempat viral beberapa bulan lalu. Saya meyakini bahwa hubungan seksual apapun bentuknya itu adalah hal privasi yang haknya tidak bisa diganggu gugat. Tapi faktanya, banyak perempuan yang turut serta menghakiminya.
Banyak perempuan yang mencacinya seakan Gisella adalah perempuan yang paling nista di antara perempuan lain. Padahal video tersebut bukan dengan sengaja dia sebar melainkan ada pihak lain yang membocorkannya. Jika seperti ini lantas mau bagaimana?
Ada berapa banyak perempuan yang saling menjatuhkan perempuan lainnya dan membandingkan diri satu sama lainnnya? Menganggap si perempuan A lebih cantik dan lebih baik dari si perempuan B. Bahkan ada juga perempuan yang ikut serta menentukan standar peran perempuan. Mereka mengkritik sikap dan keputusan yang diambil oleh perempuan lain.
Berapa banyak pula perempuan yang berdebat siapa ibu terbaik apakah yang bekerja atau ibu rumah tangga? bayi mana lebih sehat apakah bayi ASI atau Sufor?
Saling membandingkan perempuan yang suka berdandan dengan perempuan yang beparas alami tanpa make up. Banyak juga yang saling nyinyir terhadap keputusan perempuan mengenai caranya berpakaian.
Sering saya memikirkan hal ini, untungnya apa sih saling menjatuhkan sesama perempuan? Apalagi hanya karena masalah laki-laki. Agar kita tidak hidup dalam belenggu patriarki, sudah seharusnya sebagai sesama perempuan kita harus solid dan saling mendukung. Perempuan juga perlu menghormati keputusan yang diambil oleh perempuan lainnya bukan malah nyinyir menjatuhkan hingga membunuh karakternya.
Jika semakin banyak perempuan membunuh perempuan lain dan mematikan karakternya, akan berkurang pula peluang perempuan mendapatkan kebebasan. Bukankah apa yang kita hadapi sama? Sama-sama mempunyai peran ganda, sama-sama didiskriminasi, dan mendapatkan ketidakadilan yang juga sama.
Sepertinya dunia mulai resah dengan kejadian yang seperti ini. Aktivis gerakan feminis juga melawan fenomena yang menggambarkan seolah perempuan membunuh perempuan. Oleh karena, itu bar-baru ini muncul tagar #womenempowerwomen di sosial media sebagai ajakan kesadaran bahwa perempuan seharusnya memberdayakan perempuan lainnya. Bagaimana kita bisa memperjuangkan sebuah ideologi untuk melawan kontruksi patriarki yang telah berabad-abad menjajah perempuan jika kesadaran untuk saling memberdayakan saja tidak ada?
Hidup di dunia patriarki seharusnya menuntut perempuan untuk saling memberdayakan, misalnya dengan cara memberikan hak kepada perempuan untuk memilih dan mengambil keputusan dengan tidak menghakiminya. Menurut saya tindakan tersebut termasuk langkah untuk memberdayakan sesama perempuan.
Melalui tulisan ini saya mengajak sesama perempuan untuk tidak menggunakan kacamata patriarki. Jadi seharusnya jika kamu perempuan, pilih saja keputusan yang terbaik untuk dirimu. Entah setelah lulus studi mau bekerja atau menjadi rumah tangga, entah mau memakai celana atau gamis, entah mau suntik pemutih atau mau kulit natural saja. You have your own body, you have your own life, u have the right to decide which better for you yourself. Tidak usah mengambil pusing omongan orang lain.
Dan jika kamu perempuan, sudahlah berhenti mem-bully sesama perempuanmu, berhenti nyinyir dengan komentar-komentar pedas yang keluar dari mulut atau jarimu, tak usah usil dengan apa yang menjadi keputusan perempuan lain. Jika ingin protes, proteslah pada laki-laki yang menentukan peranmu sehari-hari, kamu harus begini kamu harus begitu. Proteslah pada laki-laki yang sudah melakukan kekerasan terhadap perempuan, proteslah pada laki-laki yang mengambil hak perempuan.
Ingat, perempuan seharusnya sama-sama berjuang untuk mendapatkan kesetaraan dengan saling memberdayakan agar perempuan semakin kuat dan berdaya, bukan saling membunuh. Mungkin ini bukan hal yang mudah bagi sebagian perempuan, tapi saya berharap dengan tulisan ini akan tumbuh kesadaran pada perempuan-perempuan sehingga semakin banyak perempuan yang saling memberdayakan sesama perempuan.
Penulis : Hesty Nuraini









