TenggaraNews.com, KENDARI – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka Timur melaksanakan program klaster padi sawah organik.
Kepala KPw BI Sultra, Bimo Epyanto menyebutkan, program pengembangan potensi daerah di sektor pertanian itu menyasar tiga desa di Kabupaten Koltim.
Ketiga desa yang dimaksud adalah Desa Mokupa, Desa Mondoke dan Desa Onemanu. Ketiga desa itu berada di Kecamatan Lambandia.
Bimo menjelaskan, bahwa program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2020 lalu dan akan berlangsung hingga 2023 mendatang.
“Pengembangan klaster tersebut bertujuan untuk mendorong percepatan peningkatan produksi, pengolahan pasca panen, dan perluasan akses pasar serta pemanfaatan teknologi,” ungkap Bimo Epyanto, Rabu 2 Mei 2021.
Bimo juga menjelaskan, pengembangan klaster padi sawah organik dilakukan melalui pengembangan demplot pertanian, yang terintegrasi padi sawah dan peternakan sapi secara terukur dengan sistem digital atau yang lebih populer dengan istilah integrated digital eco farming.
“Jadi, sistem pertanian ini terintegrasi dengan peternakan melalui pemanfaatan limbah ternak, untuk kebutuhan pembuatan pupuk dengan teknologi MA-11 dan pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak,” jelas Bimo.
Bimo mengatakan, selain bantuan teknis penguatan kelembagaan dan SDM, pihaknya juga mendorong pengembangan padi organik itu melalui pemberian Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa peralatan digital farming, dan peralatan produksi pertanian kepada salah satu koperasi tani di Desa Mokupa.
Tahun ini, lanjut Bimo, direncanakan pembangunan gudang dan lantai penjemuran untuk mempercepat ekosistem pengembangan padi sawah di Kabupaten Kolaka Timur, sekaligus sebagai bentuk wujud nyata dedikasi Bank Indonesia untuk negeri.
Pada kesempatan panen perdana 24 Mei 2021 lalu, demplot padi sawah di lokasi tersebut memiliki produktivitas sebesar 7,1 ton per hektare. Hal ini lebih tinggi dibandingkan produktivitas padi organik pada umumnya yang hanya sebesar 3-4 ton per hektare.
“Penerapan integrated digital eco farming pada demplot tersebut juga berhasil menurunkan biaya produksi dari Rp5 sampai Rp8 juta per hektare menjadi Rp3,5 juta per hektare dengan berhasil memanfaatkan tiga ekor sapi untuk kebutuhan 1 hektare sawah,” bebernya.
Laporan : Muh Beni









