TenggaraNews.com, WAKATOBI – Pembangunan pengaman pantai Waha mendapat sorotan. Pasalnya Icon wisata Wakatobi yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, Cagar Biosfer, Taman Nasional dan bahkan sebagai Ekowisata Dunia, kini kondisinya memperihatinkan.
Sebab, adanya mega proyek dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu melakukan pekerjaan, tanpa koordinasi yang baik sehingga merusak obyek wisata kelas dunia di Kabupaten Wakatobi.
Kepala Dinas Pariwisata Wakatobi, Nadar mengaku sangat prihatin proyek pembangunan talud di Pantai Waha.
“Apa yang ada hari ini sangat tidak sesuai dengan konteks kebutuhan pariwisata kita,” ujar Nadar, Kadis Pariwisata Wakatobi.
Selain itu pegiat lingkungan Saleh Hanan mengungkapkan, bahwa beton atau tembok bukan solusi yang baik untuk wisata alam, apalagi Wakatobi sebagai pusat Ekowisata Dunia.
“Tembok bukan cara yang baik untuk wisata alam, sebagaimana spirit wakatobi sebagai pusat ekowisata dunia,” ujar pegiat lingkungan Saleh Hanan, Selasa, 7 September 2021.
Lebih jauh Mantan Kepala TNC WWF Kabupaten Wakatobi itu menerangkan, dalam pendekatan climate change, tembok juga tidak direkomendasikan, yang lebih utama adalah pendidikan perilaku positif terhadap pengelolaan lingkungan.
Lanjutnya, apalagi yang berkepentingan utama dengan pantai itu adalah nelayan yang secara kultur berlabuh di situ. Langkah bijak pemerintah mestinya harus mengakomodir kepentingan kultur lokal tersebut dan itu berlaku untuk semua pantai.
Ia juga menyampaikan perlu adanya koreksi tujuan dari membangun, jika kultur lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah diabaikan.
“Jadi mengakomodir kultur sangat simpel jika kita tidak dikendalikan hayalan tinggi tinggi,” ujar Mantan Ketua TNC WWF Kabupaten Wakatobi itu.
Laporan : Syaiful









