TenggaraNews.com, KOLAKA, – Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian (BIPP) bersama anggota DPR-RI Komisi VII, Gelar panen perdana padi hasil riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Desa Kaloloa, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Uji coba Padi Batan demplot persawahan milik BIPP dengan luas kurang lebih 40 Are atau 4.000 meter persegi. Acara ini dihadiri camat Samaturu, petani dan Penyuluh Pertanian. Padi BATAN pertama kali diperkenalkan untuk menggejot ketahanan pangan di Sultra membantu masyarakat dimasa Pandemi Covid-19.
Hal ini diungkapkan Komisi VII DPR-RI Rusda Mahmud mengatakan, padi BATAN diperkenalkan kepada masyarakat dan penyuluh pertanian ikut melakukan pengamatan langsung tentang hasil panen ini.
” Bila perlu evaluasi biji padi atau riset sampai tingkat rasa nasi dan tentukan teksturnya. Apakah nasinya pulem atau keras,” ujarnya.
Lebih lanjut, mantan Bupati Kolaka Utara (Kolut) ini, meminta kepada petani dan penyuluh memberikan masukan atau keluhannya tentang persoalan terkait padi BATAN..
” Saran dan keluh petani, akan dibahas dalam forum kerja Komisi VII DPR-RI bersama BATAN maupun Badan Riset Nasional (BRIN),” terangnya
Di tempat yang sama, Kepala BIPP H. Suharso, menjelaskan tentang cara menanaman padi Batan bisa menggunakan metode tanam pindah, membutuhkan waktu 103 hari bisa di panen, kalau seandainya tanam langsung, membutuhkan waktu 90 hari bisa di panen.
” Prediksi dengan luas 1 Hektar tanah bisa menghasilkan kurang lebih 7 ton padi, tanpa harus menggunakan pupuk kimia, hanya menggunakan metode organik penuh. Jika menggunakan metode pupuk kimia, bisa menghasilkan kurang lebih 10 ton setiap panen,” jelasnya.
Camat Samaturu Rida Tharir, hadiri acara panen perdana ini mengatakan kepada anggota DPR-RI Komisi VII bahwa, keluh masyarakat khusunya petani.
Kurangnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar agar bisa dicarikan solusi, karena dalam waktu penggarapan sawah kadang petani tidak mendapat bahan bakar.
” Di daerah ini hanya yang ada tempat pengisian BBM untuk nelayan tapi bukan untuk petani, inilah salah satu hal yang yang di hadapi petani saat ini,” tegasnya
Laporan : Rustam









