Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
No Result
View All Result
Home OPINI

Bangsa Indonesia dan Warisan Rasisme

Oleh: Arkilaus Baho

redaksi by redaksi
June 12, 2020
in OPINI
0
Smiley face

Perasaan senasib akibat dijajah oleh kolonial Belanda saat itu, maka secara bersama-sama berjuang menghapus rasisme, menolak penjajahan manusia satu atas manusia lain, bangsa satu atas bangsa lain. Perasaan tersebut dimaknai sebagai perjuangan bangsa Indonesia.

Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, maka itu, Bangsa Indonesia artinya sama senasib seperjuangan, gotong royong berjuang melawan dan mengusir penjajahan. Itulah akar dari nasionalisme kita. Bukan bangsa Indonesia dipandang dari aspek teritorial, jauh sekali esensinya.

Memang orde baru selama berkuasa, mengikis semangat kebangsaan Indonesia yang senasib sependeriraan kedalam pemahaman yang sempit sebatas nasionalisme teritorial. Padahal, bukan seperti itu yang dimaksud bangsa Indonesia.

Rasisme merupakan musuh bangsa. Sebab, bila makin subur, bangsa Indonesia yang dimaksud diatas, hilang dari spirit kebangsaan. Memelihara atau membiarkan cara pandang rasis yang verbal maupun fisik, sama saja memecah belah negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa.

Warisan Rasisme

You Might Also Like

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

Produksi rasis sudah ada sejak praktik kolonialis di nusantara. Penduduk di bagi atas kaum pribumi dan keturunan eropa. Pemisahan penduduk era Belanda itu, kaum pribumi dianggap sebagai kelas dua sedangkan darah eropa sebagai kelas satu. Praktik penguasaan politik maupun ekonomi, kaum pribumi yang punya negeri selalu menjadi penonton.

Rasisme era sesudah negara Indonesia, diproduksi oleh oligarki kekuasaan cendana. Orde baru berkuasa, warga Indonesia keturunan Tiongkok mendapat serangan rasisme hingga keruntuhan orde baru, sampai sekarang belum semua kasus diselesaikan.

Nasionalisme negara Indonesia yang awalnya merupakan pemersatu bangsa bangsa itu, dikebiri oleh oligarki kekuasaan semenjak orde baru hingga sekarang. Cara mengebirinya mudah, ketika terjadi tindakan yang nyata-nyata rasis, pihak berwajib seakan mengedepankan pasal-pasal kriminal, menjauhkan narasinya dari praktik rasisme. Akibatnya, penegakan hukum atas kejahatan tersebut belum total dilakukan. Terjadi pembiaran.

Rasisme Musuh Bersama

Cara pandang terhadap masalah rasis, kita tidak bisa memandangnya secara harafiah. Sebab, konotasi akan warna, bentuk dan latar belakang, sama sekali tidak menyelesaikan pokok masalah rasisme itu sendiri. Hitam, putih, keriting, lurus, coklat, kuning, mata sipit, dll. Perbedaan yang dibeda bedakan adalah cara penjajah ingin menguasai dan mengeksploitasi, dengan cara memecah belah persatuan rakyat melalui warna dan simbol belaka.

Karena berpola pikir warna dan simbol, manusia sebagai bangsa Indonesia yang senasib sependeritaan, sebagai spirit persatuan dalam mengusir penjajah, berhasil diceraikan melalui propaganda warna dan simbol. Orang Papua bergaul hanya sesama Papua, rambut lurus dan keriting saling jaga jarak, bahkan ketika menyebut bangsa Indonesia seakan bukan Papua, atau bukan sumatera dan lainnya.

Smiley face

Bahwa penjajah masa lalu mewariskan oligarki kekuasaan mereka kepada sekelompok elit di Indonesia, untuk terus memperaktikkan cara-cara rasis sebagai jalan memecah belah bangsa-bangsa yang senasib, punya musuh bersama, lalu bersatu. Oligarki tersebut melahirkan borjuis yang kemudian memproduksi aturan negara terkait rasisme. Penguasa yang memproduksi Undang-undang. Jadinya, memandang rasisme bukan sebagai musuh bersama tapi lebih pada warna dan simbol, ayat dan pasal atau aturan negara lainnya, berdampak pada saling sandera, curiga, apatis antar sesama bangsa Indonesia.

*Cara Pandang*

Cara pandang yang berdampak pada rasisme, saya analogikan agar memudahkan kita memahami sebenarnya rasis itu bermula dari apa yang dilihat, dipelajari, oleh lingkungan dan pergaulanya.

…Seorang warga negara inggris berkunjung ke pasifik selatan. Di Inggris, masyarakat disana hidup diatur oleh bunyi mesin industri. Pagi ke kantor atau pabrik untuk kerja, sorenya pulang ke rumah. Hidupnya selalu dia jalani ketika saatnya dia bekerja. Semasa remaja pun dia menyaksikan kesibukan orang tua dan tetangganya melakukan aktivitas tiap hari pergi pagi pulang sore.

Suatu waktu dia ingin berkunjung ke pasifik selatan. Disini, masyarakatnya pribumi. Belum mengenal kerja industri, atau upahan. Warga inggris tadi bengong dan terheran-heran, kok orang-orang disini kerjanya duduk di rumah pondok atau para-para berkumpul cerita dari pagi sampai sore, mereka tidak kerja kah? Orang Inggris tersebut lalu berkesimpulan bahwa oh…berarti orang hitam dan keriting itu bodoh, malas kerja, tidur bangun berkumpul dan cerita saja. Padahal, si bule itu tidak paham, masyarakat pribumi bekerja berburu dan berkebun jika persediaan makanan di rumah sudah habis. Bukan bekerja ikut bunyi mesin pabrik sebagaimana dilingkunganya di Inggris.

Gegara gagal paham itulah, muncul stigmatisasi (bodoh, malas kerja, tidur bangun saja ) dan seterusnya yang dikemudian hari dipakai sebagai senjata psikologi untuk melemahkan penduduk pribumi tertentu supaya merasa minder dan tidak bisa maju dan bersaing.

Analogi diatas juga menjadi acuan dalam memahami apa itu rasisme. Orang memahami rasisme menurut tafsir dari buku atau catatan yang dia baca dan pahami. Rasisme menurut hukum dan undang-undang, rasisme menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, versi orang Papua, versi bangsa lain di Indonesia, bahkan persamaan nasib sebagaimana telah diulas bangsa Indonesia dan warisan rasisme.

Penulis merupakan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Periode 2004-2006

Post Views: 235
Previous Post

KTKBM-TIRA Laksanakan RAT Tahun Buku 2019

Next Post

Soal Pembagian Kios, Pedagang Minta Keadilan Perindag Wakatobi

redaksi

redaksi

Related News

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

Dari Daratan ke Kepulauan, Sulawesi Tenggara Siap Miliki 15 Satuan Pendidikan Widyalaya

by redaksi
May 30, 2026
0

PENINGKATAN pendidikan Hindu di Indonesia Timur kembali mencatat langkah penting. Tim Visitasi dari Subdirektorat Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat...

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

Dam Haji di Tanah Air: Antara Fatwa, Pendapat Mazhab dan Rasionalitas Maqasid

by redaksi
May 17, 2025
0

Kebijakan Kementerian Agama RI yang membuka kemungkinan penyembelihan Dam jamaah haji musim 1446 H/2025 M dilakukan di tanah air menimbulkan...

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

Hardiknas 2 Mei 2025, Optimalisasi Anggaran Pendidikan dan Penguatan SDM

by redaksi
May 2, 2025
0

Di Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, mari kita berhenti sejenak dari euforia perayaan, dan bertanya lebih dalam. Apakah kita benar-benar...

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

Pendidikan Widyalaya Mulai Menggeliat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara

by redaksi
May 2, 2025
0

Keberadaan umat Hindu di Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak pertama kali dimulai Tahun 1968 melalui program transimigrasi pertama di Desa Jati...

Next Post
Soal Pembagian Kios, Pedagang Minta Keadilan Perindag Wakatobi

Soal Pembagian Kios, Pedagang Minta Keadilan Perindag Wakatobi

Tangkap DPO, Seorang Polisi Kena Bacok

Tangkap DPO, Seorang Polisi Kena Bacok

Trending News

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

September 27, 2019
Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

September 27, 2019
Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

September 17, 2019

About

The best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc.

Categories

  • ADVETORIAL
  • crime & Justice
  • Daerah
  • Education
  • Ibukota
  • Kombis
  • Komunitas
  • Kongres PAN
  • Nasional
  • News
  • Operation
  • OPINI
  • Opinion
  • Perempuan dan Anak
  • Politic
  • Politika
  • Ramadhan Story
  • TNC Edukasi
  • TNC Health
  • TNC Inspiration
  • TNC Sportainment
  • TNC TV
  • Uncategorized
  • Veteran

Tags

#Ali Mazi #Asrun #Basarnas #Bombana #Demo #DPR RI #Gerindra #Golkar #Hugua #Jakarta #Jakarta Barat #Kendari #Kolaka #Konawe #Konkep #Konsel #konut #Korupsi #KPU #Kriminal #Muna #Narkoba #Opini #Pariwisata #PDIP #Pemkot #Pilcaleg #Pilgub #Pilgub Sultra #Politik #Polres #polres muna #Rusda Mahmud #Sjafei Kahar #Sultra #Tambang #Teguh Setyabudi #tenggaranews #Tenggaranews.com #TNI #VDNI #Wakatobi Dr Bahri Pemda Mubar Virus Corona

Recent Posts

  • BNI WondrX 2026 Lampau Target Transaksi, Capai Rp2,73 Triliun
  • PT IPIP Digugat soal Dugaan Penyerobotan Lahan Warga di Pomalaa
  • Purchase Now
  • Features
  • Demos
  • Support

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara