TenggaraNews.com, KENDARI – Pertikaian antar masyarakat lingkar tambang yang terjadi beberapa waktu lalu, di areal PT. Virtue Dragon Nickel Indistri (VDNI) telah menarik banyak perhatian publik. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya tanggapan terhadap video yang diunggah di media sosial oleh akun facebook bernama Hendrik Pelesa beberapa waktu lalu.
Didalam video tersebut, telah terjadi insiden keributan dan saling serang antar sesama masyarakat lingkar tambang PT. VDNI. yang melibatkan Desa Besu dan Desa Puurui.
Hal itu dipicu akibat proses perekrutan karyawan PT. VDNI yang dinilai tidak mengakomodir tuntutan masyarakat Besu, serta adanya aksi-aksi premanisme diduga berasal dari Desa Puurui yang digunakan oleh perusahaan, untuk mengintervensi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi mereka.
Akibatnya, konflikpun tak terhindarkan, kedua kelompok masyarakat di dua desa tersebut saling serang karena dirugikan atas persoalan tersebut.
Atas kejadian itu, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Muhamad Ikram Pelesa sangat menyayangkan insiden saling serang antar kedua desa di areal lingkar perusahaan tambang yang beroperasi di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe.
“Sangat disayangkan, insiden saling serang terjadi antar kedua desa di areal lingkar tambang. Mereka itu serumpun, mereka sangat memegang teguh yang namanya azas “Pepokoasoa” (persatuan),” ungkap Ikram kepada TenggaraNews.com, Rabu 19 September 2018.
Lebih lanjut, Ia mensinyalir adanya aktor yang sengaja memicu kegaduhan di areal lingkar tambang Morosi. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi jika persoalan internal perusahaan tidak merembet ke masyarakat, dan menjadikan masyarakat sebagai ladang adu kepentingan oleh oknum-oknum pejabat perusahan itu.
“Pasti ada aktor yang menjadi biang dari persoalan ini,” tegas aktivis Forum Mahasiswa Pemerhati Investasi Pertambangan (Forsemesta) Sultra.
Lebih jauh, Ikram menyoroti bahwa peristiwa tersebut merupakan potret ketidakmampuan General Manager (GM) PT. VDNI, Rudi Rusmadi dalam menyelesaikan sekelumit persoalan yang mendera perusahaan pemilik angka investasi terbesar di Indonesia dalam bidang pertambangan. Sebab, inti dari masalah tersebut tidak terlepas dari 12 poin tuntutan masyarakat yang telah disepakati perusahaan pada tahun 2016 lalu, namun tak kunjung direalisasikan oleh Rudi Rusmadi Selaku GM PT. VDNI
“Kuat keyakinan saya bahwa insiden beberapa waktu lalu, tidak terlepas dari adanya oknum-oknum perusahaan yang ingin “Cuci Tangan”, atas kegagalannya dalam menjaga kepentingan perusahaan dengan mendalangi insiden tersebut,” pungkas mantan Ketua IPPMIK Kendari ini. (MIP/IC)








