Aneh, pada negeriku Muna. Masyarakat yang cerdas tetapi tidak taat petunjuk pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19) atau biasa disebut Virus Corona.
Hingga kini, Muna tercatat telah memiliki 12 pasien yang positif terkonfirmasi Corona. Meksipun demikian, masih banyak masyarakat melakukan aktifitas seperti biasa. Misalkan, di pusat pertokoan dan pasar.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna seakan tidak mampu mengatur pelayanan publik secara efektif guna memutuskan mata rantai Covid-19. Penempatan para pedagang dan pengendalian masyarakat menjadi tidak teratur.
Tentu sangat membahayakan karena riwayat perjalanan pasien positif di Muna, tidak diketahui. Siapa yang pernah berinteraksi dengannya?
Tenaga medis hanya menggunakan peralatan sederhana diperintahkan bekerja secara maksimal meskipun nyawa taruhannya. Hampir setiap hari posko-posko dan setiap Puskesmas menerima pasien memiliki riwayat, pernah berinteraksi dengan mereka yang terkonfirmasi virus corona.
Tetapi tidak menyurutkan semangat teman-teman tenaga medis. Mereka adalah pahlawan.
Pemkab Muna harus lebih tegas, putuskan mata rantai penyebaran virus corona. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai saat ini belum ada kabarnya. Akibatnya, Pelabuhan masih terbuka.
Arus keluar-masuk orang masih seperti biasa. Tenaga medis sebagai garda terdepan, terus memantau dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai petunjuk.
Teman-teman tenaga medis sangat berani. Namun, resiko itu belum terlalu dipikirkan oleh Pemkab Muna. Seberpa banyak lagi orang yang harus positif Virus Corona, agar masyarakat sadar diri?
Sudah seharusnya Pemkab Muna memberlakukan sistem buka-tutup pasar, pelabuhan dan area publik lain karena roda perekonomian masyarakat tetap berjalan.
Misalkan pelabuhan, segera diberlakukan jalur transportasi ditutup selain kargo pengangkut alat-alat kesehatan, sembako. Begitu juga di pasar.
Pemkab Muna bersama tim gugus covid 19 dan Dinas Kesehatan harus lebih memperhatikan tenaga medis dilapangan yang kocar-kacir , tetapi diikat dengan sumpah profesi sehingga mereka tetap bekerja penuh tanggungjawab.
Bekerja apa adanya meksipun sebagian masih menggunakan jas hujan sebagai Alat Pelindung Diri (APD) dalam menangani setiap pasien.
Saya sebagai salah satu tenaga medis sangat merasakan apa yang terjadi dilapangan. Kami diperhadapkan dengan 2 (dua) pilihan. Antara mati atau hidup? Berkaca pada daerah-daerah lain di Indonesia. Pada situasi ini, masyarakat harus tertib dan mengikuti anjuran pemerintah. Jangan bandel.
Sekali lagi, Pemkab Muna harus tegas dan lebih maksimal dalam menjalankan tugas tim gugus pencegahan, penanganan virus corona didaerah.
Demikian
Penulis merupakan Ketua GMNI Cabang Muna









