TenggaraNews.com, KENDARI – Melalui dialog interaktif inovasi daerah, terkait pengembangan model sinergitas Pemda, forum kelitbangan dan koorporasi dalam upaya penguatan-penguatan Sistem Inovasi Daerah (Sida) Sulawesi Tenggara (Sultra). Berbagai pihak terkait menyamakan persepsi untuk membangun sinergitas yang baik.
Turut hadir dalam dialog tersebut, Kepala Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Sultra, Minot Purwahono, Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan ( Balitbang) Sultra Sukanto Toding, Ketua Dewan Riset Daerah Sultra Andi Bahrun, GM UBP Nikel Pomalaa PT Antam Tbk Muhammad Rusdan, Management PT Kala Kakao Indonesia, Laode Muhtamar.
Kepala Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) Minot Purwahono menyatakan, BI dalam meningkatkan kapasitas ekonomi Sultra dengan melihat banyak potensi yang ada. Potensi itu harus di gali dan punya daya saing salah satunya dengan inovasi.
“Sehingga bagaimana kita dengan pemerintah daerah dalam hal ini dengan Litbang, dan perbankan dapat mengembangkan inovasi-inovasi yang ada di Sultra, khususnya komoditas produk unggulan salah satunya kakao,” ungkapnya saat ditemui usai menghadiri dialog inovasi daerah, Kamis 24 Mei 2018.
Lanjutnya, kakao benar-benar bisa menjadi satu unggulan yang punya daya saing tinggi, tidak hanya pada pasar nasional tetapi pasar internasional.
Menurut dia, pelaku sektor perkebunan dan pertanian harus ditingkatkan kapasitasnya, sehingga kakao menjadi unggulan dan punya daya saing. Olehnya itu, diperlukan inovasi serta kreatifitas sehingga produk yang di hasilkan mampu bersaing di pasar.
“Misalnya selama ini tanaman kita per hektar hanya menghasilkan 500 sampai 700, sementara negara lain bisa 1 ton lebih,” jelasnya.
Yang dibutuhkan saat ini, kata dia, yakni bagaimana meningkatkan produktifitas. Untuk itu, langkah-langkah yang harus dilakukan yakni, pertama dari sisi hulunya. Disamping itu, kualitas yang harus dipastikan apakah sudah sesuai dengan standar pangan internasional.
Minot menambahkan, pihaknya mengembangkan teknologi mikroba, dan mikroba ini bagaimana mengkondisikan tanah yang subur tanpa menggunakan pupuk kimia, tetapi kembali dipupuk organik. Apalagi di pasar nasional, produk-produk pangan sudah kembali pada yang sifatnya organik.
“Jadi, kita bagaimana memanfaatkan yang ada di lingkungan kita itu, kita bisa olah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mengembangkan teknologi di pertanian,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sultra, Sukanto Toding mengatakan, tujuan utama dialog tersebut yakni menyatukan pemikiran untuk membangun sinergitas lembaga, sistem informasi dan sumberdaya dengan kerangka inovasi serta kebutuhan teknologi.
“Seiring teknologi yang semakin pesat, kalau masyarakat tidak berinovasi berarti akan tertinggal, daya saing rendah dan ekonomi akan turun, kalau kita tidak berinovasi, maka kita akan diremehkan,” tutupnya.
Laporan: Muhamad Isran









