Sahabat Inspiratif
Salam Antusias…!!!
Sadarkah kita jika selama ini lebih fokus mengelola waktu daripada mengelola emosi dengan alasan demi produktivitas kerja. Jadilah kita bekerja dalam waktu yang panjang dan lama karena berfikir, semakin lama berkutat dengan kerjaan maka semakin produktiflah kita. Eeeiitt…jangan salah, sebuah artikel yang ditulis Tony Schwartz dan diterbitkan Harvard Business Review mengungkapkan fakta bahwa, untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja, ada hal lain yang harus dikelola yaitu mengelola Emosi, karena terkait langsung dengan Energi Produktivitas kerja.
Jika selama ini kita hanya tahu dan diajarkan mengelola waktu dengan baik, sebenarnya kemampuan ini belumlah memadai. Anda harus pula mengelola Energi, khususnya dalam bekerja. Orang yang bekerja dua jam saja, tetapi dengan energi seratus persen, itu sama efektifnya dengan mereka yang bekerja empat jam, tetapi hanya mempunyai energi lima puluh persen. Artinya, lamanya waktu bekerja, tidak selalu berkorelasi positif dengan produktivitas kerja. Pada prinsipnya, waktu yang lama tidak selalu identik dengan kerja yang produktif.
Titiek Pusptiwaty,ELT

Terkait dengan prinsip itu, tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengerjakan banyak hal sesuai target dan dilakukan sebaik mungkin dengan waktu terbatas?. Nah…Pada titik inilah Menejemen Energi sangat dibutuhkan. Seseorang bisa bekerja dengan baik jika mempunyai Energi Berlimpah. Bekerja dengan Total Energi, itulah kuncinya. So, jangan bangga dulu kalau anda bisa bekerja lama. Banyak orang bisa bekerja dalam waktu lama, tetapi produktivitas yang dihasilkannya sebenarnya sedikit. Menarik bukan…? Lalu apa penyebabnya?.
Dalam sebuah tes psikologi “Personal Analysis System Report (PASR)” terhadap beberapa peserta pelatihan kecerdasan emosi diketahui bahwa, peran emosi-emosi yang tidak menyenangkan, ternyata akan banyak menyerap sekaligus menghabiskan energi mereka dikantor. Tak heran jika pulang ke rumah, mereka dalam kondisi yang capek dan kelelahan yang tidak wajar (Burn Out).
Kaitan emosi dan menurunnya level energi seseorang akan mempengaruhi staminanya dalam bekerja. Penyebabnya ada beberapa hal, ibarat pipa air, energi dipengaruhi oleh kebocoran dan sumbatan yang terjadi dalam talang emosi seseorang. Karena itu penting mengelola emosi agar energi di kantor tidak semakin habis.
Cara mengatasi agar level stamina energi kita selalu tinggi bisa melalui langkah berikut. Yang pertama, hindari kebocoran Emosi. Kebocoran emosi ini terjadi jika kita bekerja setengah-setengah. Menyelesaikan tugas dengan setengah hati. Akibatnya kita tidak bisa focus bekerja.
Yang kedua, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan. Sifat menunda-nunda pekerjaan (procrastination) merupakan kebiasaan yang bisa menghabiskan banyak energi kerja kita. Menumpuk pekerjaan adalah salah satu kebiasaan negatif yang bisa menyedot energi kita.. Orang yang terbiasa menumpuk pekerjaan, pada akhirnya tidak melakukan apapun. Untuk mengatasi ini, buatlah prioritas kerja, pilihlah yang paling sulit. semakin sulit dan menyebalkan, harus ditangani lebih dulu.
Cara yang ketiga adalah, tidak harus menunggu waktu yang tepat untuk memulai. Banyak orang menunda dan mempersiapkan pekerjaan dengan bertele-tele. Menunggu mood datang. Padahal datangnya mood tidak pernah bisa ditebak. Intinya tidak ada waktu yang tepat selain memaksa untuk memulainya. Jadi mulai sekarang berhati-hatilah dengan emosi anda. Apapbila didalam diri anda sering muncul perasaan atau emosi yang tidak menyenangkan seperti mudah marah, kecewa, jengkel, iri hati dll, maka berhati-hatilah, itu tanda-tanda kebocoran emosi dan akan berakibat pada melemahnya energi kerja.
Sekarang anda sudah mengerti bahwa kebocoran emosi akan berpengaruh pada melemahnya level energi seseorang. Bukan saja dapat berakibat buruk pada hasil, prestasi, kemajuan, karir dan produktivitas anda, tetapi juga terhadap kondisi fisik dan mental anda. Dibutuhkan lebih banyak latihan pengembangan kemampuan mengelola kualitas emosi, dengan melatih aspek-aspek emosi positif.
Semoga tulisan sederhana ini bisa mencerahkan dan menambah kewaspadaan kita terhadap kebocoran emosi ditempat kerja. Dengan mengelola emosi dan energi positif, kita mampu meningkatkan produktivitas kerja dan bukan hanya sekedar berlama-lama dalam bekerja.
Akhirnya, harus diingat “Beban emosi kerja, membuat beban pekerjaan normal menjadi berlipat ganda beratnya”. Pahamilah bahwa “Bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan, tetapi berapa banyak energi yang dicurahkan dalam mengerjakan suatu pekerjaan”.
Semoga bermanfaat. Salam Antusias….!!!
- Sharing & Pertanyaan melalui titiekbms_kendari@yahoo.com atau wa : 082292091186
- Pengasuh Rubrik : Titiek Puspitawaty ELT
- Certified Licensed Trainer (MWS-Indonesia)
- Trainer Pengembangan Diri (Self Help & Soft Skill Trainer)
- Public Speaker
- Mental & Character Booster
- Founder TPW Resources Trainer Kendari (Jasa Trainer & Penyelenggara Training)
- Outbound Instructure
- Radio Talk Motivator for Youth & Woman di RRI Prosatu fm 96.7 mhz & Produa 90.8 fm Kendari
- Facebook : Titiek_Puspitawaty
- Funpage : Tpw Resources-Trainer Kendari
- Twitter : @Ti2ekpw
- Instagram : titiekpuspitawaty









