Tahun 2000-2002 saya menempuh studi pasca sarjana, Magister Administrasi Publik (MAP) UGM. Pada kurun waktu itu, diskusi santer-santernya tentang AFTA (Kawasan Perdagangan Bebas Asia) terilhami dari terbentuknya Uni Eropa, maka bangsa-bangsa ASEAN juga membahas kemungkinan terkait perdagangan diantara enam negara ASEAN saat itu.
Dalam perkembangan diskusi saat itu, dikemukakan bahwa dengan AFTA maka tenaga kerja lintas ASEAN akan melaksanakan pekerjaan sesuai keahlian – masing-masing negara anggota. Saat itu direncanakan AFTA akan direalisasikan pada tahun 2002.
Dalam konteks tersebut, kami beberapa mahasiswa MAP UGM menggagas seminar Nasional yang kami beri bertema “Jejaring Antar Daerah Otonom menyongsong AFTA 2002”. Hadir beberapa pemateri, dari para dosen kami di UGM, di antaranya Ichlasul Amal, Sofyan Efendi, Muhtar Mas’ud. Dari eksternal kami undang Susila Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu digunakan Menkopolhukam, makalanya dibawakan oleh HR. Rachmat Karyono, salah satu deputi di Kemenkopolhukam, perwakilan Fornas UKM pak Soyan Tan. Juga perwakilan pemda saat itu bupati Kutai Syaukani HR ketua Asosiasi Pemkab se Indonesia. Naskah diskusi dalam seminar tersebut kami susun menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh rekan kami penggiat usaha kecil menengah di Jogya, Idham Ibti.
Saya sebagai ketua panitia yang pada momen seminar tersebut, kami membentuk forum komunikasi mahasiswa dan alumni MAP UGM dengan Mahadi Sinambela sebagai ketua umum dan saya sebagai ketua harian. Saat ini forum tersebut telah berubah menjadi Kagama Unit MAP.
Satu pemikiran yang kami kemukakan saat itu adalah bahwa Indonesia sebagai Negara terbesar di ASEAN, jumlah penduduk kelima di dunia, memiliki luas wilayah lebih luas dari negara ASEAN lainnya. Saat ini memiliki 34 propivinsi dengan 514 Daerah kabupaten / kota. Merupakan suatu potensi yang teramat besar secara ekonomi jika dikelola dengan baik khususnya dalam bidang perdagangan antar pulau. Satu propinsi kita yang merdeka seperti Timor Leste saat ini menjadi sebuah negara. Tidakkah akan sangat menguntungkan bila 34 provinsi melakukan perdagangan perdagangan perdagangan antar bangsa.
Hanya saja kita mesti mendesain dulu keunggulan masing-masing daerah. Misalkan di Sulawesi Tenggara sebagai penghasil jagung, ubi, ketelah dan mete. Sulawesi Selatan sebagai sentra beras, daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat sebgai sentra beras untuk penyuplai daera perkotaan dan Jakarta serta sebagai industri garmen dan rumah tangga untuk menyuplai seluruh provinsi lainya. Papua, kalimantan sebagi sentra produksi kayu hutan dan tanaman hutan. Bali dan NTB sebagai daerah pariwisata utama. Madura dan NTTsebagai sentra garam, Maluku sentra cengke dan rempah-rempah.
Selain kekhususan utama satu provinsi dibanding propinsi lainnya maka disetiap kabupaten juga dibuat kekhususan produk. Misal Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe raya dan Bombana dapat dikhususkan sebagai penghasil utama padi di Sultra yang akan menyuplai kab / kota lainnya di Sultra, bila terjadi kekurangan stok beras. Buton dan Muna jadi sentra jagung dan ubi kayu, mete serta sentra pengolahan hasil laut. Kolaka raya sebagai daerah sentra cengke, kakao. Wakatobi dan Baubau sebagai sentra daerah kunjungan wisata utama di Sultra.
Kekhususan yang harus diasah dan diharapkan produk yang dihasilkan harus bisa bersaing dengan produk negara lain, baik dari segi harga dan kualitas. Bahkan mesti lebih murah karena ketiadaan pajak impor dan biaya pengiriman yang lebih rendah.
Dengan demikian kita tidak usah mengejar ekspor, cukup mensuplai saja kebutuhan dalam negeri sudah segitu menguntungkan bagi ekonomi bangsa kita. Apalagi kalau nanti bisa mengekspor.
Tetapi tentunya pemerintah harus melindungi produk dalam negeri tersebut dari serbuan barang penting. Pemerintah harus membuat regulasi yang harus melarang promosi barang baik secara lagsung maupun tidak langsung melalui prodak seni misalnya sinetron. Kita mesti menggaungkan lagi ACI. Aku Cinta Indonesia. Mencintai produknya dan hasil alamnya.
Kita mesti mengoptimalkan kembali stok laut dan kesuburan alam kita. Kita negara besar dari segi maritim kok ikan kaleng saja impor. Garam impor, sayur dan buah-buahan impor. Saya terkesima dengan pernyataan pak Jokowi saat awal pencalonan presiden yang kesal dengan impor. Apa apa yang penting dari kesal beliau saat itu.
Permainan para pemburu rente dari keuntungan penting ini lihai memainkan masalah seolah prodak luar lebih berkualitas dan awalnya di murahkan, karena produk murah sehingga barang produk dalam negeri menjadi kalah bersaing. Setelah produktifitas dalam negeri mati baru kemudian prodak impor dinaikan harganya pelan-pelan. Begitulah ulah pemburu rente warga, bangsa miskin nasionalisme tapi kaya materi rente. Saat ini kita lihat masyarakat kita sedikit yang masi mau bertani karena pertama stigma yang dibangun seolah-olah bertani pekerjaan jadul yang tidak bisa membuat orang sukses. Pekerjaan tidak keren bagi anak muda.
Setelah itu harga dimainkan dipersaingkan dengan produk impor yang dikemas bagus dan diiklankan secara massal, maka jadilah itu barang diburu oleh kelas menengah, petani lokal merugi. Giliran saat ini kita sudah miskin petani, maka mereka pemain impor panen untung. karena rakyat sudah bergantung dan tidak ada lagi produk lokal yang tersedia secara memadai. Betul-betul pembodohan massal.
Itu baru sisi pertanian, apalagi pacul, sekop arit, baut, linggis impor. Zaman prakemerdekaan saja kita buat sendiri setelah merdeka malah impor. Ya inilah yang disebut dalam mimpi modern.
Itu baru kekayaan agraris dan laut kita, bagaimana dengan tambang mineral? Lebih miris lagi, seolah-olah bangsa yang baru belajar sekolah. Ekspor bahan dasar mentah, tanah ekspor kadar nikel 1,7% di luar sana baru dimurnikan, waduh sama seperti tuan tanah yang belum pernah sekolah hanya tahunya jual kayu satu pohon dengan harga yang cocok, angkut. Tidak peduli jenis dan mau jadi apa itu kayu. Karena sang tuan tanah belum bisa membuat mebel. Para pembeli tertawa dalam hati dan dibelakang kita, ya kita masih primitif. Mengolah hasil kita saja belum bisa.
Syukurlah, Saat ini digalakkan pembangunan smelter, dilarang ekspor tanah. Bagus semoga sukses segera, biar kita tidak terus jadi bangsa penjual tanah dan air kita.
Semoga bangsa besar ini kembali besar. Sriwijaya jaya dilaut, Majapahit berbasis agraris yang sukses. NKRI harus lebih besar dari pengisi. Syaratnya Nasionalisme yang mesti digaungkan kembali bukan hanya sekedar kata tapi ACTION !!!
AKU CINTA INDONESIA (ACI) Jawaban dalam menghadapi Resesi Global menuju Indonesia mandiri dan Sejahtera.
Penulis: DR. AZHARI
Rektor Universitas Sembilanbelas November









