TenggaraNews.com, MUNA – Bendahara Umum (Bendum) Muhammadiyah Kabupaten Muna, Alifuddin Hamid, ST menyambut baik rumor yang beredar di publik terkait kesiapannya ikut dalam bursa Pilbup Muna, yang akan dihelat pada 2020 mendatang.
Kepada awak media, Alifuddin Hamid juga siap untuk mendampingi dr. H. LM. Baharuddin, M.kes di kontestasi Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 nanti.
Menurutnya, dr. H. LM. Baharuddin, M.Kes merupakan sosok karakter kuat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kemudian,0 perhatiannya terhadap komitmen juga dimilikinya.
“Sebelumnya saya mendengar isu-isu negatif tentang beliau, namun setelah duduk bersama, kemudian berdiskusi lalu sharing bahkan sampai ke level perdebatan tentang sebuah rencana, ternyata beliau adalah sosok jiwa yang mau menerima saran dan memikirkannya kedepan. Olehnya itu, beliau membutuhkan pendamping yang mampu mengeksekusi apa yang beliau rencanakan, mengenai masyarakat yang menyatakan bahwa beliau mempunyai karakter feodal saya tidak sepakat mengenai hal itu,” ungkap
David, sapaan Akrab Alifuddin Hamid, Senin 1 Juli 2019.
Walau tergolong baru karena pertama kali terjun ke dunia politik, namun David mempunyai tekad kuat untuk merangkul kaum millineal dan level akademisi, agar mempunyai keterampilan professional yang mampu bersaing dari segi waktu, kualitas dan kuantitas kerja.
“Masyarakat Muna di luar sana sangat cerdas-cerdas, namun setelah balik Ke Muna pemikirannya kaku. Saya berkeyakinan mereka tidak diberi ruang dan kesempatan, kalau itu diberi maka saya yakin sekali potensinya keluar,” paparnya.
Lanjut David, bahwa kelemahan generasi muda yang dimiliki masyarakat Muna saat ini adalah paling besar tidak memiliki mental entrepreneur bukan masalah pengetahuan, tapi mereka harus mempunyai keyakinan bahwa kalau mereka melangkah maka pasti akan berhasil, yang paling penting mental usaha kemudian dipadu padankan dengan ilmunya.
“Sebenarnya generasi kita akan berhasil jika mentalnya terbentuk kemudian pengetahuannya diisi, jangan pengetahuannya dulu diisi baru dibentuk mentalnya, karena hal tersebut sangat beresiko untuk potensinya yang kemudian mereka tidak akan fokus terhadap apa yang direncanakan kedepan,” ujarnya.
Dia juga menambahkan, tidak ada satu pemimpin yang bisa mengangkat derajat daerahnya jika tidak berlandaskan kearifan lokal daerah itu sendiri, bahkan ada pemimpin yang kemudian bisa mengangkat daerahnya tapi tidak berlandaskan kearifan lokal. Namun, pada akhirnya, masyarakatnya nanti yang kemudian tidak mempunyai arah.
“Kita berpikir banyak tentang kearifan lokal, karena itu merupakan dasar modal kita untuk memajukan pembangunan di Muna. Contohnya, hampir 10 tahun masyarakat Muna banyak perencanaan di bidang pertanian tapi tidak memahami potensi lokal, sehingga masyarakat tidak merubah karakter mereka, tidak dipaksa kemudian menjadi modern, tidak berlandaskan kepada kearifan lokal budaya dan kearifan lokal potensinya, sehingga pada saat perjalanan mereka tidak sampai lupa apa yang mereka sebenarnya harus capai,” jelas David.
Saat ditanya mengenai isu miring yang menerpa dirinya, kontraktor muda kelahiran 1976 itu menepis, bahwa apa yang di beritakan tentang dirinya tidaklah benar dan memang isu apapun pasti akan muncul dipermukaan dalam setiap kegiatan di kanca politik.
“Mungkin karena jarangnya saya berada di Muna sehingga orang-orang jarang melihat saya di tempat ibadah, saya punya waktu kadang sebulan di Muna ini hanya seminggu, yang tiga minggunya di tempat-tempat saya kerja, bahkan dalam setahun bisa jadi cuman enam bulan ada di Muna, jadi isu itu bisa dikatakan hoax. Kalau memang saya seperti yang dikabarkan, toh tidak mungkin saat ini saya menempati posisi sebagai Bendahara Umum Muhammadiyah di Kabupaten Muna,” tutupnya.
Laporan: Phoyo
Editor: Ikas









