TenggaraNews.com, WAKATOBI – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Wakatobi menunjukan indeks kedalaman kemiskinan (P1) dari tahun 2017 hingga 2018 mengalami peningkatan.
Pada tahun 2017 lalu, indeks kedalaman kemiskinan di Kabupaten Wakatobi berada di angka 2,59 persen. Sedangkan pada tahun 2018 naik menjadi 2,90 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Wakatobi Towedy Marthinus Layico mengungkapkan, meski indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2018 lalu, namun tak menandakan bahwa pertumbuhan sektor ekonomi menurun.
“Sektornya itu terjadi peningkatan pada pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), meski mamang ada beberapa sektor yang mengalami penurunan, dan memang indeks kedalaman kemiskinan itu meningkat,” ungkap Towedy Marthinus Layico, Senin 22 Juli 2019.
Kepala BPS Wakatobi ini juga menerangkan, indeks kemiskinan semakin dalam berarti jumlah penduduk miskin yang tidak bertambah dan berkurang, namun kesenjangan pengeluaran semakin banyak sehingga mengalami kemiskinan yang lebih dalam lagi.
Ditanya soal kondisi masyarakat yang mengalami kelesuhan ekonomi beberapa tahun terakhir ini, ditengah pertumbuhan ekonomi meningkat, Towedy Marthinus Layico mengaku ada penyebabnya, namun pihaknya tak bisa mengungkapkan ke publik.
“Sebenarnya ada penyebabnya, namun kita di BPS hanya mengungkapkan angka, karena menganalisa bukan tupoksinya BPS jangan sampai ada ketersinggungan di pihak lain,” ungkapnya.
Berdasarkan konsep basic need approach yang digunakan BPS, kemiskinan adalah ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Sedangkan penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Laporan : Syaiful
Editor: Ikas









