TenggaraNews.com, ANDOOLO – Penanggulangan terorisme dibutuhkan payung hukum baru, mengingat dalam aksinya pelaku telah mengadopsi cara-cara yang dilakukan jaringan terorisme internasional seperti Islamic State In Iraq and Syria (ISIS) dan kelompok pelaku terorisme Internasional lainnya.
Kasus peledakan bom di Mapolrestabes Surabaya tahun 2018 menjadi contoh, betapa batas-batas kemanusiaan sudah sedemikian dilanggar, dimana anak-anak tidak berdosa dilibatkan di aksi bom bunuh diri tersebut.

Hal ini disampaikan Kasubdit Pengamanan Lingkungan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) Rahmat Suhendro saat membacakan sambutan tertulis Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Polisi R Ahmad Nurwahid, SE, MM di acara Workshop Internalisasi Nilai-nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam menumbuhkan moderasi beragama di Kendari, Kamis 10 September 2020.
Ini, kata Ahmad Nur Wahid menunjukkan kalau terorisme di Indonesia nyata dan masih ada. Karenanya, dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, termasuk di dalamnya tenaga pendidik, baik kepala sekolah terlebih para guru yang langsung berhadapan dengan peserta didik di kelas, agar terorisme bisa diatasi hingga ke akar-akarnya.
Ia mengatakan, terorisme merupakan ancaman nyata bagi kedamaian di Indonesia. Dalam prosesnya ada patut digarisbawahi kalau dari berbagai peristiwa tindak pidana terorisme yang terjadi, kelompok pelaku terorisme tinggal dan membaur di tengah-tengah masyarakat.
Ini menuntut kita agar selalu mengedepankan kewaspadaan, tidak hanya untuk alasan keselamatan, melainkan juga mencegah tersebarluaskannya paham radikal terorismekatanya.
Sebagai lembaga negara yang mendapat mandat melaksanakan penanggulangan terorisme , lanjut Ahmad Nur Wahid, BNPT terus berupaya menekan kejahatan luar biasa tersebut. Tidak hanya melalui penindakan secara tegas, namun menjalankan program-program bersifat soft approach atau penanganan secara lunak.
Workshop Internalisasi nilai-nilai agama dan budaya di sekolah dilaksanakan BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sultra diikuti tenaga pengajar dari berbagai jenjang pendidikan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tiga nara sumber dihadirkan di acara tersebut yakni, Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT Ahmad Suhendro, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd serta Atik Tapipin dari Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII).
Laporan : Rustam









