TenggaraNews.com, KENDARI – Guna memposisikan Sagu sebagai kuliner kebanggan, Food and Agriculture Organization of The United Nation (FAO) menggelar Festival Sagu Kendari, Minggu 5 November 2017 di salah satu hotel di Kota Kendari.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan Kepala Badan Ketahanan Pangan RI Tri Agustin, Kadis Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Amal Jaya dan Kadis Ketahanan Pangan Kota Kendari, Ismawati serta Markom FAO Bidang Ketahanan Pangan, Aswan Zanynu. Selain itu, festival ini juga turut dihadiri puluhan pemuda-pemudi.
Dalam sambutannya, Aswan Zanynu mengungkapkan, seyogyanya festival tersebut akan dilakukan bertepatan dengan hari pangan sedunia, tapi karena satu dan lain hal sehingga baru bisa terlaksana hari ini.
“Kami melibatkan remaja, karena 48 persen populasi masyarakat Kota Kendari adalah pemuda, dengan rens usia 15 hingga 38 tahun,” ungkapnya.

Aswan berharap, jajanan pangan bisa lebih kokoh kedepannya, karena generasi ini masih akan terus berkembang.olehnya itu, pihaknya melibatkan banyak anak-anak muda dalam festival ini.
“Semoga festival ini bisa menjadi salah satu memori sepanjang tahun 2017 ini,” harapnya.
Kadis Pangan Kota Kendari, Ismawati mengatakan, festival sagu ini bukan yang pertama dan terakhir kalinya, melainkan bisa menjadi agenda tahunan Pemkot Kendari. sejak tahun 2012 lalu, pihaknya intens menggelar sosialisasi tentang pangan lokal seperti sagu.
“Kami juga sudah sosialissaai di tingkat kelurahan, dengan sasaran ibu rumah tangga, dengan asumsi bahwa ibu-ibu yang selalu mengolah bahan makanan,” katanya.
Untuk itu, melalui festival tersebut pangan lokal akan tersentuh mulai dari anak-anak, remaja hingga ibu-ibu.
Pada dasarnya, lanjut Ismawati, pangan lokal tidak kalah enak cita rasanya dan kandungan gizinya dengan pangan international, hanya saja masih kurang dari sisi penyajian ataupun kemasannya.
Sementara itu, Kadis Ketahanan Pangan Provinsi Sultra, Amal Jaya menjelaskan, pangan lokal merupakan andalan, sehingga harusnya dapat dicintai. Dia juga berharap, festival ini kiranya bisa menjadikan bahan untuk dikaji lebih jauh, sehingga sagu tak hanya dijadikan sebagai pangan pokok lokal, tapi menjadi pangan nasional hingga international.
“Sagu Kini sudah banyak diimpor hingga kebeberapa negara,” jelasnya.
Melalui FAO, pengelolaan sagu kini telah bertransformasi, dari manual menjadi lebih modern yang dikelola menggunakan mesin, sehingga hasil produksi jauh lebih bersih dan berkwalitas.
“Bisa dijadikan sebagai makanan hari-hari, yang tak kalah dengan makanan-makanan yang beredar di sekitar kita,” tutupnya.
Laporan: Ikas Cunge









