Mereguk Kesuksesan Setelah Berkali-kali “Jatuh”
Laporan: Ikas Cunge
TenggaraNews.com, KENDARI – Tenunan khas Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kini telah go nasional dan mendunia. Hal ini pun menjadi kebanggan bagi masyarakat bumi anoa. Setiap wisatawan domestik maupun asing yang berkunjung ke jazirah Sultra, produk tenunan kerap kali dicari untuk oleh-oleh sanak keluarga mereka.
Jika berbicara soal tenun khas Sultra, maka sudah pasti akan langsung merujuk pada sosok wanita tangguh berikut, yang tekun dan ulet mengembangkan motif-motif khas bumi anoa dengan penuh rasa cinta.

Hj. Endang, dialah sosok yang paling berjasa dalam pengembangan produk tenunan di Sultra, melalui jemari dan kecerdasanya, owner Mahkota Tenun ini telah menghasilkan beragam motif, yang kemudian dirajut menjadi lembaran-lembaran kain tenun siap dijual.
Beragam pameran, baik skala nasional maupun international sering diikuti. Hal ini pula yang menjadikan tenunan khas Sultra dikenal hingga ke ke kanca dunia.
Kendati berada pada posisi tersebut, Hj. Endang belum mau dikatakan sukses. Pasalnya, masih banyak impiannya yang belum terwujud, sehingga dirinya terus berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi daerah ini.
Ditemui beberapa waktu lalu di sebuah warung kopi (Warkop), melalui pembicaraan santai, dirinya banyak bercerita soal perkembangan usaha hingga kendala yang dihadapi.
Saat ditanya soal perjalanan usahanya, dengan senyum kecil dia pun memulai percakapan tersebut bersama para penggiat Komunitas Jurnalis Jalan Jalan (KJ3) yakni Rustam Djamaluddin sebagai Pembina, Mirkas sebagai Ketua KJ3 dan Muhammad Fadhil Attamimi selaku Wakil Ketua I KJ3.
Tepat di Tahun 2007 lalu, Hj. Endang memulai usaha dengan menjual obralan berupa tas, jilbab dan sepatu di Mall Mandonga Kendari. Barang jualan tersebut bukanlah miliknya, melainkan punya teman yang memberikan kepercayaan terhadap dirinya. Sehingga, bisa dikatakan bahwa dirinya saat itu tak memiliki modal, karena dua kali mengalami kerugian akibat musibah kebakaran di Pasar Mandonga, yakni pada Tahun 1999 dan 2000 lalu.
Bahkan, pasca pasar tempat dirinya berjualan sembilan bahan pokok (Sembako) selama 15 tahun tersebut terbakar, tiga tahun berikutnya dia pun menganggur karena kehabisan modal usaha.

Kondisi tersebut memberikan pelajaran berharga bagi dirinya, bahwa untuk merintis sebuah usaha ternyata tak mesti harus memiliki uang sebagai modal utama, tetapi kepercayaan dan pertemanan bisa menjadi modal.
Seiring perjalanan waktu, di periode pertama masa pemerintahan Nur Alam dan Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra, pemerintah saat itu tengah gencar mempromosikan tenunan khas Sultra. Anehnya, tidak ada satu pun toko oleh-oleh yang menjual tenunan tersebut, kalaupun ke Dekranasda pilihannya juga sangat sedikit.
Kondisi tersebut memotivasi dirinya untuk turut serta memberikan kontribusi positif dalam pembangunan daerah. Olehnya itu, dirinya pun pulang ke rumah kemudian membongkar lemari ibunya, dan menemukan banyak koleksi tenunan, mulai dari yang berukuran kecil hingga besar.
Kemudian, wanita yang populer dengan sebutan Endang Mahkota ini mulai mencoba mempelajari ciri khas setiap daerah di Sultra, mulai dari filosofi hingga peletakan kembang. Hal itu dilakukannya dengan inisiatif bertanya pada banyak orang, yang memahami dengan kekayaan daerah ini, seperti isteri Anas Bunggasi.
Alhasil, Ia pun mulai menekuni profesi tersebut, dan hingga saat ini karyanya pun telah menembus pasar nasional dan international.
-
Perjuangan Tak Kenal Lelah, Demi Rasa Cinta Terhadap Daerah
Cerita pahit yang dialaminya di atas tak berhenti menemani perjalan Hj. Endang dalam menekuni usaha tenunan tersebut. Meski telah berhasil survive dari keterpurukannya, namun kendala lain tentu masih saja banyak yang ditemukan. Salah satunya, minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Sultra yang bisa tekun menenun. Khususnya di Kota Kendari dan sejumlah daerah di daratan bumi anoa.

Sedangkan untuk wilayah kepulauan, Kabupaten Buton dan Muna bisa memberikan kontribusi hasil tenunan, karena didua daerah tersebut masih memiliki warga yang tekun menenun.
Dikatakannya, khusus tenunan Muna dan Buton didatangkan langsung dari kedua daerah tersebut. Sedangkan untuk daerah lain proses produksinya di luar daerah seperti Sengkang hingga Jepara.
“Kalau di Buton dan Muna masih banyak alat tenun. Makanya, untuk motif di dua daerah tersebut di produksi di sana juga,” ujarnya.
Di tengah minimnya SDM, Endang Mahkota memutuskan untuk membeli motif di Dekranasda Sultra, kemudian memproduksinya di Kabupaten Sengkang. Namun, keputusannya itu ternyata dipertanyakan oleh Ketua Dekranasda Sultra yang juga istri Gubernur saat itu, Tina Nur Alam.
Anggota DPR RI itu memprotes kenapa harus memproduksi tenunannya ke daerah lain. Lalu, Ia pun memberikan pemahaman bahwa aktivitas menenun itu harus dilakukan turun temurun, dan hanya orang yang tekun, telaten dan ikhlas yang bisa menenun, tidak semudah membalikan telapak tangan, karena prosesnya berpuluh-puluh tahun, sehingga jika mau mengkader sangat susah.
Kendati demikian, Tina Nur Alam tetap ngotot agar masyarakat Kota Kendari diberdayakan, yang dimulai dengan memberikan kursus menenun. Setelah dicoba, ternyata tidak ada yang bisa bertahan untuk menekuni profesi tersebut di ibukota provinsi ini. Hanya di muna dan Buton saja yang masih bertahan menghasilkan tenunan khas kedua daerah tersebut hingga saat ini.

Lebih lanjut, Endang menjelaskan, bahwa setiap daerah memiliki keragaman motif, tapi ada juga yang paling populer. Kabupaten Kolaka misalnya, meiliki dua motif, tapi yang paling populer adalah motif sangia.
Dari semua jenis motif yang ada, bunga cinta khas Kabupaten Koltim merupakan karya yang paling mahal dan berkelas. harganya mencapai hingga Rp 600 ribu per lembarnya. Hanya saja, dirinya selalu berkeinginan agar masyarakat bawah bisa menggunakan hasil karyanya, sehingga dirinya membuat produk dengan bunga yang sama tapi harga terjangkau.
Dirinya ikhlas dalam berkarya karena didasari atas rasa cintanya terhadap daerah ini. Namun hal itu tak disambut baik pemerintah yang masih kurang respek. Padahal, dirinya selalu membuka ruang jika pemerintah ingin bersinergi dalam mengembangkan produk tenunan. Seyogyanya pemerintah bisa melibatkan pihak-pihak yang telah lama menekuni bidang tersebut, sehingga bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan keinginan pasar
“Kami tidak meminta untuk di bayar kok, malah kami bangga jika bisa berkontribusi untuk daerah,” ungkapnya.
-
Keluarga Selalu Jadi Penyemangat Saat Terjatuh
Setiap usaha dan upaya selalu dibarengi dengan dua hal, yakni kesuksesan dan kegagalan. Kendati kerap berada dalam posisi yang kurang memuaskan (terjatuh), Hj. Endang selalu sigap untuk berusaha bangkit lagi.









