TenggaraNews.com, KENDARI – Melalui dialog dan silaturahmi lintas Agama, semua pihak diajak untuk turut serta memerangi berkembangnya paham radikalisme. Hal itu dilakukan dalam rangka memutus mata rantai kelompok teroris.
Kegiatan dialog dan silaturrahmi dihadiri oleh Kabiro Kesra Provinsi Sultra , Kapolda Sultra , Kabinda Sultra, Danrem 143/Ho, Danlanal Kendari, Danlanud Halu Oleo. Kemudian para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemerintah, tokoh pemuda, dan perwakilan mahasiswa serta mahasiswi yang ada di wilayah Kendari.
Dalam sambutannya, Kakanwil Depag Sultra, Dr. Abdul Kadir, M.Pd. mengutuk keras aksi terorisme yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa barat dan mengajak seluruh masyarakat Sultra bersatu melawan paham radikalisme dan terorisme.
Kakandepag juga menyampaikan agar masyarakat Sultra menanamkan bimbingan agama sejak dini kepada anak-anak.
“Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal juga harus diajarkan kepada anak dan keluarga,” ujarnya, Rabu 16 Mei 2018.
Di tempat yang sama, Kapolda Sultra, Brigjen (Pol) Irianto, mengungkapkan, bahwa pelaku teroris di Mako Brimob adalah salah satu dari 156 teroris yang dititip di sel tahanan yang disiapkan di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa Barat.
“Aksi terorisme jangan sampai merembes di Sultra,” ungkapnya.
Kapolda juga mengingatkan, akibat konflik dibutuhkan 20 tahun lagi untuk kembali normal seperti semula. Kejadian aksi teroris yang terjadi dibeberapa tempat di Jawa belakangan ini jangan sampai terjadi di Sultra.
Menurut dia, aksi terorisme yang terjadi di Indonesia sangat berpengaruh bagi negara lain. Dengan mayoritas Islam penduduknya, menjadikan negara Indonesia sensitif dengan kejadian-kejadian umat Islam di negara lainnya.
“Indonesia secara geografis terletak di wilayah strategis dunia, dimana Indonesia persilangan dunia menjadikan Indonesia sebagai sebutan dunia,” terangnya.
Kapolda berharap agar masyarakat Sultra senantiasa menjaga kedamaian dan ketertiban, mengingat even besar sebentar lagi akan tiba yaitu Pilkada 2018, yang akan dilaksanakan pada bulan Juni ini.
Sementara itu, Danrem 143/Ho, Kolonel Arm. Dedi Nurhadiman mengatakan, kejadian aksi teroris di Mako Brimob dan pengeboman di 3 gereja di Jawa Timur, merupakan aksi brutal dan tidak manusiawi. Dia juga mengingatkan masyarakat Sultra untuk senantiasa waspada dari segala aksi teroris.
Selain itu, lanjutnya, media massa memiliki peran penting bagi tumbuhnya faham radikalisme dan terorisme, oleh karena itu, Danrem mengimbau agar masyarakat menghindari ujaran kebencian apalagi yang berbau SARA.
“Masyarakat harus bersama-sama untuk melawan faham radikalisme dan terorisme,” imbaunya.
Laporan: Ikas Cunge








