TenggaraNews.com, KENDARI – Perwira TNI Angkatan Darat (AD), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka yang memiliki keahlian tempur pertahanan udara adalah sosok pemimpin yang telah disumpah sebagai prajurit yang taat seluruh peraturan dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menukil tulisan Mayjen TNI Burhanuddin Siagian Komandan Seskoad tahun 2012, menyebutkan bahwa pemimpin masa depan harus manusia yang utuh atau paripurna (men of integrity) dia bukan hanya pintar, akan tetapi berkarakter (pemimpin dalam era globalisasi).
Mari kita lihat nilai-nilai yang terpatri dalam jiwa “Aku Sahabat Rakyat” Mayjen TNI Andi Sumangerukka (ASR) yang akan bertarung dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sultra tahun 2024 mendatang.
Nilai-nilai yang ada hanya pada prajurit TNI. Apa itu? Sapta Marga jawabnya.
Dalam tulisan Mayjen TNI Burhanuddin yang bertajuk Pemimpin TNI AD Berkarakter Sapta Marga Yang Bercirikan Kearifan Indonesia Guna Menjaga Keutuhan NKRI, menyebutkan bahwa Sapta Marga adalah landasan pengabdian bagi seluruh Prajurit TNI tanpa terkecuali, karena di dalam ketujuh marga tersebut secara eksplisit maupun implisit telah memuat dan merangkum seluruh aturan dan ketentuan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh setiap Prajurit. Demikian pula nilai- nilai lebih yang terkandung di dalamnya, diantaranya nilai hakiki seorang pemimpin.
Dalam aspek tata kelola pemerintahan, pemimpin dalam pengabdiannya harus memahami seluruh aspek pendukung baik orang yang dipimpin maupun aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap penerapan teori, gaya dan pola kepemimpinannya.
Kemudian Sapta Marga, sesungguhnya bukan sekedar sebagai acuan yang dapat dieksplorasi dari sisi norma kehidupan prajurit saja, tetapi aspek yang lebih penting adalah bahwa di dalam Sapta Marga itu sesungguhnya telah tertuang figur, karakter dan jati diri seorang pemimpin yang diinginkan oleh organisasi.
Nilai-nilai kepemimpinan yang dapat digali dari ketujuh Marga sebagaimana ditulis Mayjen TNI Burhanuddin, meliputi:
Marga pertama, “Kami warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila“, bahwa TNI AD adalah bukan sekelompok kasta atau golongan yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan warga negara lainnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam pandangan ideologinya, pada marga ini sekaligus menegaskan bahwa prajurit TNI AD senantiasa bersendikan kepada dasar falsafah negara Pancasila. Untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, yang menjadi landasan pertama dan utama adalah pengakuan dan kemauan dari seorang pemimpin untuk menjaga dan mengamalkan kemurnian Pancasila.
Dengan demikian lahirnya seorang pemimpin TNI AD, apabila ditinjau dari sisi moral dan ideologi bangsa seiring dengan pasang surutnya pengamalan nilai- nilai Pancasila, sesungguhnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Termasuk didalamnya aspek loyalitas, nasionalisme dan semangat pengabdian yang disandarkan kepada Pancasila sebagai dasar falsafah negara.
Sikap kebangsaan ini sejalan dengan azas kepemimpinan yaitu Satya, yang memiliki penjabaran sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan, dari bawahan terhadap atasan dan kesamping serta loyalitas kepada organisasi, bangsa dan negara.
Membaca penjelasan tersebut, artinya pengamalan nilai-nilai Pancasila terhadap diri Mayjen TNI Mayjen TNI Andi Sumangerukkan tidak perlu diragukan lagi di tengah-tengah masyarakat. Lihat saja buktinya saat ini. Dimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila benar-benar diamalkan.
Marga kedua, “Kami patriot Indonesia, pendukung serta pembela ideologi negara, yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah” bahwa seorang pemimpin adalah sebagai “Patriot Indonesia“, harus berpegang pada prinsip- prinsip: Cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan, Ikhlas berkorban untuk membela Negara dan Bangsa, lebih mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan pribadi dan golongan. Serta mampu sebagai pendukung dan pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah, yang berarti pemimpin patriot yang mengerti dan meyakini kebenaran Pancasila dan harus berani mengorbankan jiwa raganya demi menegakkan, mengamankan dan memelihara kemurniaan dan kelangsungan hidup ideologi negara.
Oleh karena itu, figur pemimpin yang memiliki semangat pantang menyerah yang selalu berorientasi kepada kepentingan nasional pada era sekarang ini menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi.
Marga ketiga, “Kami ksatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan“. Bahwa seorang pemimpin harus berjiwa ksatria Indonesia, memiliki sifat- sifat sederhana, ulet, tabah, tahan uji, gagah berani, bersedia menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
Semangat ksatria ini dilandasi sifat keperwiraan yang berbudi luhur dan ketaqwan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam implementasinya watak kstaria ini harus menunjukkan kepribadian seorang pemimpin yang dalam implementasinya memiliki keberanian untuk membela kejujuran dan kebenaran.
Kemampuan untuk melihat setiap permasalahan secara obyektif dan menyelesaikan dengan bijaksana, yang didasarkan kepada komitmen dan konsistensi serta kepentingan organisasi. Pada Marga ini seorang pemimpin dituntut untuk selalu bertindak adil dan tidak membeda-bedakan kepada yang dipimpinnya. Jiwa dan karakter seorang pemimpin Sapta Marga lebih mengutamakan aspek moral spiritual sebagai bentuk pertanggung jawaban sejati dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sifat ksatria yang dilandasi moral spiritual yang mendalam yang meyakini sepenuh hati adanya kuasa Tuhan, sejalan dengan azas kepemimpinan yaitu Taqwa, yang berarti beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya, dengan sungguh- sungguh menjalankan semua perintah-Nya, dan berserah diri hanya kepada-Nya.
Marga keempat, “Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia adalah Bhayangkari Negara dan Bangsa Indonesia“, mempunyai makna bahwa Pemimpin TNI AD adalah bukan sekedar pengawal yang menjaga keutuhan dan kepentingan organisasi TNI AD, tetapi makna yang lebih mendalam adalah bahwa pemimpin yang dilahirkan dari institusi TNI AD adalah sosok yang siap untuk mengawal dan mengamankan bangsa dan negara, menjadi garda terdepan dan sekaligus menjadi benteng bagi keutuhan NKRI.
Bhayangkari negara adalah pembela dan penjaga tanah air, siap tampil didepan dari setiap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mengganggu stabilitas dan tidak pernah mengenal lelah dalam mengamankan kelangsungan hidup Bangsa dan Negara.
Sikap untuk selalu menjadi benteng negara, siap menjadi teladan dan keikhlasan untuk bekerja bersama dengan seluruh komponen bangsa ini tercermin dalam azas kepemimpinan yaitu Ing Ngarso Sung Tulada, yang berarti memberi suri tauladan dihadapan anak buahnya, Ing Madya Mangun karsa, ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah dan Tut Wuri Handayani, mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah, demi kepentingan yang lebih besar.
Marga kelima, “Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan prajurit“ bahwa makna yang terkandung didalamnya adalah seorang pemimpin TNI AD harus selalu memegang teguh disiplin, setiap langkah dan tindakan harus mengacu kepada aturan dan ketentuan yang berlaku.
Berani memberikan reward and punishment secara proporsional terhadap setiap prestasi dan pelanggaran yang dilakukan oleh anak buah. Disamping menjaga disiplin, pemimpin TNI AD harus patuh dan taat kepada pimpinan yang memiliki makna bahwa hierarki kepemimpinan harus dipertanggung jawabkan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut.
Mengutamakan sikap dan kehormatan sebagai pemimpin, adalah benteng yang dapat digunakan untuk menahan kemungkinan godaan dan berbagai hal yang tidak diinginkan, dan kemungkinan akan melanggar norma kepemimpinan yang ada.
Pengamalan marga kelima ini merupakan perwujudan perpaduan yang serasi antara jasmaniah dan rohaniah yaitu disiplin
lahir dan disiplin batin yang dilandasi keikhlasan untuk senantiasa mengabdi dengan perasaan ikhlas dan bangga. Keikhlasan
dan kerelaan ini cerminan dari azas kepemimpinan Legawa, yang bermakna kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk mengabdi dengan penuh tanggung jawab dan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
Marga keenam, “Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia mengutamakan keperwiraan di dalam melaksanakan tugas serta senantiasa siap sedia berbhakti kepada Negara dan Bangsa“, bahwa kepemimpinan TNI AD mengutamakan keperwiraan di dalam melaksanakan tugas, artinya bahwa seorang pemimpin mempunyai tekad yang teguh untuk mencapai cita-citanya selaras dan sesuai dengan hakekat keperwiraan, sehingga timbul rasa tanggung jawab moril padanya untuk melaksanakan tugas dengan sebaik- baiknya.
Sifat keperwiraan harus senantiasa dipegang teguh untuk menjamin keteguhan dalam pelaksanaan tugasnya. Pemimpin TNI AD senantiasa harus siap sedia berbhakti kepada Negara dan Bangsa, dalam makna yang lebih dalam adalah pemimpin harus siap mengabdi tanpa mengenal batas waktu dan bahkan siap bekerja melebihi panggilan tugas. Semua ini dlakukan semata-mata hanya untuk menjamin terselenggaranya tugas secara baik dan tercapainya tugas pokok sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan.
Dalam melaksanakan tugasnya seorang pemimpin juga harus mampu memprioritaskan tugas dan siap untuk berbuat yang terbaik. Sikap ini merupakan cerminan dari azas kepemimpinan Waspada Purba Wisesa, yang berarti selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani memberi koreksi kepada anak buah, Ambek Parama Arta, dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
Marga ketujuh, “Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia setia dan menepati janji serta Sumpah Prajurit“, makna yang terkandung didalamnya adalah bahwa seorang pemimpin TNI AD harus memegang sumpah setia.
Kehormatan yang paling tinggi dari seorang pemimpin adalah tatkala mampu mempertahankan kehormatannya, yang diikat dengan janji dan sumpah Prajurit yang menjadi bagian dari kehidupan pengabdian TNI AD.
Bagi seorang pemimpin, kesetiaan dan menepati janji adalah sebuah komitmen yang memiliki strata tertinggi dalam pengabdiannya. Oleh karena itu dalam setiap pelaksanaan tugasnya harus benar-benar mampu membuat “self control” yang didasarkan kepada kesadaran pribadi akan tugas dan tanggung jawabnya. Komitmen ini sejalan dengan azas kepemimpinan Prasaja, tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan, dan Gemi Nastiti, yang berarti kesadaran dan kemampuan mengabdi dan bekerja hanya kepada yang benar-benar diperlukan.
Setelah membaca tulisan ini, pembaca yang budiman dapat memahami bahwa pemimpin yang lahir dari kesatuan Tentara Nasional Indonesia, telah terikat janji dan sumpah yang tidak bisa ditawar. Pemimpin TNI mempunyai jati diri sebagai insan Sapta Marga.
Artinya, jiwa dan raga Mayjen TNI (Purn) Andi Sumagerukka dapat dipahami dalam kandungan Sapta Marga. Soal pengamalan nilai-nilai kandungan Sapta Marga, sudah banyak dibuktikan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di lingkungan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra).
#Bravo Mayjen TNI (Purn) Andi Sumagerukka…
#Kita Kuat Karena Rakyat….
#NKRI Harga Mati…
Penulis : Rustam









