TenggaraNews.com, WAKATOBI – Disenyalir proyek talud dari Kementerian PUPR yang dikerjakan PT. Tri Artha Mandiri di Desa Wapia-pia, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, tak memiliki dokumen Analisis Masalah Dampak Lingkungan (AMDAL).
Proyek tersebut bernilai Rp.23.847.596.573,15 yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dikerjakan PT. Tri Artha Mandiri.
Dari papan informasi kegiatan diketahui, awal pekerjaan pada tanggal 11 Februari 2021 dan waktu pelaksanaan selama 313 hari kalender.
Namun, dari fakta lapangan belum ada nampak atau progres pekerjaannya. Terlihat baru adanya cincin talud yang ditampung di bagian pekerjaan.
Untuk mengkonfirmasi masalah ini, basecamp PT Tri Artha Mandiri di Desa Sombu, Kecamatan Wangi-wangi, sudah tutup sejak adanya polemik dengan para nelayan sekitarnya.
“Sudah ada sekitar satu minggu basecamp tutup. Tidak ada pelayanan dari perusahaan,” ujar warga yang tak mau disebutkan identitasnya.
Pantauan jurnalis, sehari sebelumnya, terlihat alat berat jenis excavator 1 unit masih terparkir di basecamp. Namun sejak hari ini, Senin 9 Agustus 2021, excavator tersebut sudah tidak terlihat lagi.
Jurnalis juga mencoba menghubungi pihak PT Tri Artha Mandiri di basecamp, namun tak ada seorangpun pegawai perusahaan tersebut yang terlihat.
Pekerjaan proyek tersebut juga dianggap bertentangan dengan aktifitas para nelayan setempat. Proyek ini kemudian mendapat penolakan keras dari para nelayan di Desa Wapia-Pia.
Sebenarnya nelayan setempat tidak menolak, namun karena dinilai akan membawa malapetaka bagi para nelayan, yaitu disamping akan menutup area perlindungan perahu, juga menutup akses pantai sebagai aikon wisata yang ada di Desa Wapia-pia.
“Kami tidak menolak pembangunan itu, hanya saja kami mengusulkan agar pembangunannya tidak seperti itu, tetapi pembangunanya itu dimajukan ke arah lautnya sehingga ada perlindungan perahu ketika musim ombak datang,” ujar para nelayan saat ditemui di rumah jaga nelayan Desa Wapia-pia, Senin, 9 Agustus 2021.
Para nelayan juga mendapat informasi proyek tersebut, dibekap oknum. Bahkan sempat ada masyarakat yang diprovokasi dan berlagak sebagai perangkat keras.
Namun, untuk mempertahankan kearifan lokal dan ciri khas masyarakat setempat, para nelayan tetap bertahan dengan segala kemampuan yang mereka miliki demi mempertahankan sumber ekonominya kedepan.
Laporan : Syaiful









