TenggaraNews.com, KENDARI – Kehadiran Indomaret yang saat ini mulai menjamur di Kota Kendari dinilai akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan usaha retail lokal di ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) ini. Sejumlah pelaku usaha lokal dipastikan akan gulung tikar, jika pemerintah kota (Pemkot) Kendari tak segera mengambil sikap, untuk membatasi hadirnya gerai-gerai baru usaha franchise tersebut. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang X Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sultra, Hendrawan.
Dia menjelaskan, bahwa sistem pasar yang dilakukan Indomaret memang terkesan membunuh kelangsungan usaha lokal yang ada disekitarnya. Sehingga bisa dipastikan, pelaku usaha lokal di bidang retail akan merasakan dampak yang begitu besar, mulai dari merugi hingga berujung pada penutupan usaha karena tak mampu berkembang.
Menurut dia, pelaku usaha lokal bisa berkompetisi dalam pengembangan usaha retailnya, apabila pemerintah bisa melakukan pembatasan jumlah gerai Indomaret. Tapi, jika dibiarkan brand waralaba tersebut dengan bebasnya menggurita, maka pemerintah tak lagi pro kepada pengusaha lokal.
“Kalau dengan jumlah yang ada saat ini sih pengsuaha lokal masih bisa dan mampu berkompetisi. Tapi, jika dibiarkan mereka (Indomaret) terus membuka gerai disetiap sudut kota, saya bisa memastikan usaha-usaha retail lokal yang ada disekitarnya pasti akan mati. Untuk itu, Pemkot harus segera bertindak guna melakukan pembatasan, jangan dibiarkan gerainya menjamur sehingga menndominasi pasar,” beber Wakil Ketua KNPI Sultra ini kepada TenggaraNews.com, Selasa 24 April 2018.
Hendrawan memberi contoh, dimana Indomaret ini benar-benar membunuh perkembangan usaha retail-retail lokal di beberapa kota metropolitan. Seperti yang terjadi di Kota Makassar, pada awal tahun 2011 lalu Indomaret masuk ke daerah daeng tersebut, dengan leluasanya membuka gerai dan mendominasi pasar di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan itu.
Pada akhirnya, kata dia, sejumlah supermarket lokal dan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dahulu masih bisa ditemukan di jalan-jalan protokol kini sudah tak ada lagi. Olehnya itu, pemerintah hendaknya berkaca dan mengambil pembelajaran dari Makassar, jangan sampai pelaku UKM lokal justru tak memiliki ruang usaha di kampung sendiri.
Apalagi, brand franchise ini akan terus membuka gerai hingga ke lorong-lorong. Biasanya, lanjut Hendrawan, kehadiran salah satu usaha waralaba akan diikuti dengan brand franchise lainnya, seperti Alfa Mart, Alfa Midi, Cirkle K dan usaha retail lainnya.
“Hal seperti inilah yang harus diantisipasi pemerintah. Kompetisi boleh saja, tapi harus dipertimbangkan bagaimana sisitem pasar yang diterapkan dengan cara mendominasi kemudian tak terjadi, karena hal itu jelas akan membunuh usaha lokal,” kata pengusaha ini.
Hal lain yang juga selalu dijadikan alasan pemerintah dan pengusaha franchise ini bahwa kehadiran mereka untuk menyerap tenaga kerja lokal. Padahal, hal itu merupakan paradigma yang keliru, karena para pengusaha lokal pun jelas menggunakan tenaga kerja lokal yang justru lebih banyak ketimbang Indomaret dan kawan-kawannya.
“Kalau mereka mau mengatasnamakan penyerapan tenaga kerja lokal, justru itu yang salah. Karena kami juga pengusaha lokal kan mempekerjakan tengaga lokal, yang justru lebih banyak jumlahnya ketimbang Indomaret ini. Saya kasih pertimbangan yah, satu gerai Indomaret itu hanya diisi oleh lima karyawan, sedangkan gerai pengusaha lokal itu diisi oleh 12 pekerja,” bebernya
Hendrawan menerangkan, secara umum harga yang ditawarkan Indomaret akan lebih murah dari supermarket lokal, karena produk yang dijual dibeli dengan harga pabrik. Sedangkan usaha retail lokal memiliki jalur distribusi yang panjang, sehingga harga jual pun akan cenderung tinggi.
“Untuk produk yang dijual, retail lokal ini kan merupakan tangan ketiga dari pabrik, sehingga dari jalur distribusi yang panjang ini tentu harga akan mengalami kenaikan dari pihak pertama hingga ke pihak ketiga. Sedangkan Indomaret kan terima langsung barangnya dari pabrik, makanya harga belinya pun jelas lebih murah,” terangnya.
Untuk diketahui, saat ini Indomaret sudah memiliki 10 gerai yang tersebar di beberapa sudut kota lulo. Bahkan, jumlah gerai masih akan bertambah lagi.
Untuk itu, Hendrawan meminta agar pemerintah tak lagi memberikan izin untuk penambahan gerai, cukup dengan yang sudah ada saat ini. Pemilik Nana Jaya ini juga memastikan akan melakukan upaya-upaya advokasi terhadap pengusaha lokal, baik itu melalui komunikasi ke pihak DPRD kota, Pemkot Kendari dan tidak menuntut kemungkinan juga akan dilakukan upaya hukum.
“Ini kami lakukan untuk menyelamatkan peluang usaha bagi pengusaha lokal,” pungkasnya.
Laporan: Ikas Cunge









