TenggaraNews.com, MUNA – prosesi pemakaman pejuang demokrasi, Randi (21) warga Desa Lakarinta, Kecamatan Loghia, yang gugur waktu melakukan unjuk rasa di gedung DPRD Provinsi Sultra, Kamis 26 September 2019 berlangsung penuh haru.
Sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya, jenazah almarhum ditandu menggunakan bambu dengan berjalan kaki berjarak kurang lebih 5 KM dari kediaman orang tuanya.
Almarhum dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Lakarinta, usai ba’da Ashar sekira pukul 15.20 Wita.
Para pelayat bukan saja dari warga sekitar, tetangga dan keluarga. Prosesi pemakaman Randi juga dihadiri aparat TNI-Polri, organisasi, simpatisan dari masyarakat Muna yang ingin mendoakan dan mengantatkan almarhum sampai ke liang lahat.
Ayah korban, La Sali turut pula mengantarkan anaknya sampai pemakaman usai, meski disetiap langkah kakinya selalu dipapah oleh dua orang anggota keluarganya, juga disemangati agar bisa mengikhlaskan kepergian anak laki-laki satu-satunya itu.
Nampak sesekali La Sali mengeluarkan kata-kata, bahwa anaknya adalah ujung tombak dari keluarganya. Sementara ibu kandung almarhum, Wa Ifa tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman. Dia Hanya diam membisu dan nampak dari pipinya hanya ditetesi air mata seakan tidak merelakan anaknya untuk pergi selama-lamanya.
“Anakku itu ujung tombak keluargaku” ucap La Sali sembari menitihkan air mata, Jumat 27 September 2019.
Berdasarkan informasi yang dihimpun jurnalis Tenggaranews.com, almarhum merupakan sosok yang ikut berperan membantu perkuliahan kakaknya, yang rencananya akan wisuda pada November 2019 mendatang. Begitu pula sekolah adik-adiknya.
Kepergian almarhum menjadi babak baru untuk kehidupan ayah dan ibunya, karena kini tak ada lagi yang membantu kebutuhan biaya pendidikan adik-adiknya. Sebab, bila hanya mengandalkan penghasilan dari ayahnya, memungkinkan tidak akan mencukupi.
Salah satu rekan kerja alamrhum, La Pure mengatakan, semasa hidup, Randi dikenal baik dan patuh. Jikalau jadwal mata kuliah tidak ada, dirinya rela menjadi kuli bangunan untuk membiayai sekolahnya juga untuk uang makan saudaranya Fitriani dan Murmin, yang saat ini tinggal di Kota Kendari.
“Dia orangnya baik, kalau dia kerja sama saya kadang dia memasak dan cuci piring tidak pernah mengeluh, kami merasa kehilangannya,”bucapnya pilu.
Kini,npenegak keadilan itu telah pergi, meninggalkan seluruh keluarga, sahabat, tetangga dan rekan-reka seperjuangannya. Dia akan dikenang oleh masyarakat Kota Muna bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Bahwa pernah ada nahasiswa asal Desa Lakarinta yang gugur tertembak, karena memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia.
Laporan: Phoyo
Editor: Ikas









