TenggaraNews.com, MANADO – Kabar duka atas kepergian Sajad Ali, cepat menyebar. Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi dinyatakan meninggal dunia pada Rabu 13 Februari 2019, sekitar pukul 15.30 Wita di ruang ICCU Irina A, RS Prof RD Kandouw.
Seperti yang dilansir Harian Manado (INN Grup), Sajad menghembuskan nafas setelah menanggung sakit yang amat perih, akibat luka bakar stadium 4. Hampir sekujur tubuh mahasiswa berdarah Afganistan melepuh dilahap api. Yang tersisa wajah dan lengan.
Aktivis HMI Komisariat Teknik ini terbakar saat aksi protes atas perlakuan pemerintah dan PBB (UNHCR) yang mengurung mereka di rumah detensi tahanan para imigran.
“Sajad sempat dikabarkan wafat. Sempat dipompa jantungnya, tapi tidak bisa tertolong,” kata dr. Taufik Pasiak yang membantu Sajad.
Informasi diperoleh, semasa hidupnya, Sajad bersama warga Afganistan lainnya sudah berulang kali melakukan aksi protes, meminta kejelasan nasib mereka kepada pemerintah serta lembaga Internasional. Namun, tindakan tersebut selalu gagal dan diamankan petugas Rudenim.
“Yang kami tahu aksi protes sudah berulang kali dilakukan Sajad bersama keluarganya serta warga Afganistan lain. Mereka menuntut agar pemerintah Republik Indonesia (RI) juga bersama lembaga-lembaga internasional memberikan jalan keluar. Puncaknya, Sabtu 9 Februari 2019akhir pekan kemarin, Sajad memberanikan diri menyiramkan bahan bakar jenis bensin ke tubuhnya,” ungkap teman dekat Sajad.
Zahra, adik kandung Sajad saat diwawancarai mengatakan, ketika Sajad membakar diri, ia tidak berada di lokasi kejadian (Rudenim, red). Tiba-tiba dirinya mendapat kabar bahwa saudaranya itu sudah melakukan tindakan membahayakan tersebut.
“Saat saya tiba sudah banyak petugas yang mengamankan lokasi. Keluarga saya bersama warga Afganistan lainnya diamankan petugas. Memang beberapa hari itu saya dan keluarga merasa ada yang tidak enak,” beber gadis berusia 23 tahun itu.
Lanjut Zahra, tindakan Sajad itu untuk membela keluarga mereka. Kejadian serupa pernah dilakukan saat ia bersama warga Afganistan lainnya berada di Sumbawa NTB. Setelah itu di bawah ke Manado katanya dijanjikan kehidupan yang layak dan ternyata ditempatkan di balik jeruji besi.
“Kami meminta pemerintah Indonesia agar dapat membantu dan mencarikan jalan keluar bagi warga Afganistan,” harap Zahra.
Sementara itu, Kepala Tata Usaha Rudenim Manado Muhammad Suma saat diwawancarai enggan berkomentar lebih. Namun, dirinya menyebutkan pihak Imigrasi bertanggungjawab atas meninggalnya Sajad.
“Imigrasi bertanggujawab. Mulai dari perawatan di rumah sakit sampai pemakaman. Kita sudah siapkan lokasinya di Kelurahan Perkamil,” kata Suma.
Jenazah Sajad disemayamkan di Masjid Ulil Albab, Kampus Universitas Sam Ratulangi, Manado.









