TenggaraNews.com, KONAWE – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki kekayaan potensi pariwisata. Salah satu destinasi yang ramai dikunjungi adalah Pantai Toronipa, yang berada Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.
Untuk sampai ke obyek wisata ini, pengunjung bisa menggunakan roda dua dan roda empat, dengan waktu tempuh dari ibukota Provinsi Sultra kurang lebih 30-40 menit. Hanya saja, jika berkunjung saat ini, dimungkinkan perjalanan anda akan sedikit terganggu, karena jalan wisata menuju ke destinasi tersebut sedang dalam pengerjaan. Sehingga waktu tempuh untuk sampai ke sana bisa mencapai hingga satu jam.
Pantai Toronipa terus bersolek, sejumlah sudut di obyek wisata ini nampak banyak terjadi perubahan, yang kian mempercantik dan membuat pengunjung kagum saat mengunjungi wisata bahari tersebut.

Beberapa gazebo yang sudah reot dilakukan renovasi. Bahkan, terdapat juga yang sudah dibangun semi permanen. Begitu pula dari aspek kebersihan, Pantai Toronipa nampak jauh lebih tertata dan bebas dari tebaran sampah.
Proyek jalan wisata yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan juga mulai memberikan dampak positif kepada masyarakat setempat. Hal itu ditunjukan dengan jumlah pengunjung yang trendnya cenderung naik.
Indah, salah satu pengelola obyek wisata bahari tersebut mengatakan, meski jalan wisata tersebut masih dalam tahap pengerjaan, namun Ia bersama masyarakat lainnya yang memiliki gazebo dan berjualan di kawasan itu sudah mulai merasakan dampak positifnya.
Indah menambahkan, jumlah pengunjung naik hingga 20 persen dari periode sebelumnya. Kendati demikian, perempuan berprofesi tenaga pengajar ini tak menyebutkan secara detail berapa angka kunjungan saat ini dan periode sebelumnya.
“Alhamdulilah, padahal ini jalan belum selesai pengerjaannya, tapi jumlah pengunjung sekarang meningkat hingga 20 persen,” ungkapnya, Rabu 13 November 2019.
Indah menyebutkan, masing-masing pemilik lahan di destinasi tersebut mengelola puluhan gazebo. Penghasilan dari sewa gazebo sepenuhnya dikelola pemilik lokasi tanpa adanya pungutan dari Pemda.

Selain itu, pemilik lokasi juga mendapatkan jatah bagi hasil dari biaya masuk pengunjung, yang pembagiannya dilakukan setiap enam bulan. Selain kepada pemilik lahan, dana karcis masuk tersebut juga dibagi kepada pemerintah kelurahan, kecamatan dan aparat pengamanan.
“Keamanan tidak ada masaalah. Alhamdulilah, sampai saat ini kondisi di sini selalu aman-aman ji,” katanya.
Di temui di tempat terpisah, Fadly yang juga merupakan salah satu pengelola dan pemilik lahan mengungkapkan, suasana Pantai Toronipa semakin rindang dengan adanya beragam pohon pelindung, seperti cemara dan pinus serta pohon kelapa.
“Sekarang banyak pilihan spot untuk berfoto,” singkat Fadly.

Beragam fasilitas, seperti air bersih, ban pelampung, banana boat dan bola pantai juga disiapkan. Sehingga, selain air laut yang bersih, pengunjung juga bisa menikmati suasana berlibur dengan cara lain, yakni bersuka ria bersama melalui sejumlah fasilitas yang telah disiapkan masyarakat setempat.
” Iya, sekarang sudah banyak sarana bermain lainnya. Jadi, ke sini tidak hanya mandi-mandi saja, tapi bisa juga bermain bola pantai dan banana boat,” ungkapnya.
Sekjend DPP ASITA, Titus Indrajaya mengatakan, pembangunan di sektor pariwisata membutuhkan keseriusan top leader di daerah (Gubernur). Sehingga keterlibatan pihak terkait melalui konsep pentahelix bisa terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.
Sebab, jika sektor pariwisata hanya dibebankan kepada satu pihak saja, maka potensi yang ada tidak dapat dikelola secara maksimal, sehingga tak ada dampak ekonomi baik untuk pemerintah dalam bentuk PAD maupun terhadap masyarakat.
“Jadi, dengan kerja sama yang apik seluruh stakeholder, maka potensi yang ada terkelola dengan baik, dan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat dan PAD,” ujarnya.
Laporan: Ikas









