TenggaraNews.com, BUTON UTARA –
Wakil ketua TiM Pemenangan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara (Butur), Abu Hasan dan Suhuzu (AHS), Sirwan,ST, mengungkapkan, mendekati pelaksanaan Pilkada di Butur, makin gencar terjadi perang opini yang menyesatkan.
Dimana terjadi penggiringan opini publik ke salah satu calon, tanpa didasari data ilmiah hasil survey.
Seperti klaim yang dilakukan Abdul Salam Sahadia tim Paslon Ridwan Zakaria dan Ahali (RIDA), dimana hasil survey menyebutkan lebih tinggi dibandingkan Paslon petahana.
Pernyataan itu tidak bisa dijadikan rujukan ilmiah, karena sifatnya subjektif dan tendensius menggiring opini.
“Biasanya realese hasil survey itu pasti di publis oleh penanggung jawab lembaga survey itu sendiri,” kata Sirwan, Sabtu 7 Nopember 2020.
Sirwan yang juga sebagai Ketua PSI Buton Utara, mengungkapkan klaim angka survey, dimana Paslon RIDA memperoleh 40 persen, sementara AHS dan ASRUL tidak ditahu secara pasti berapa angkanya.
“Dalam catatan kami jika hal ini dijadikan sebagai referensi data pembanding, pada bulan Jui pasangan AHS tingkat elektabilitasnya sudah berada di 38 persen dan RIDA 34 persen. Artinya cukup tinggi lompatannya dari 34 persen ke 40 persen. Ada kenaikan 6 digit rentang waktu 3 bulan, dengan margin of error katanya 3 sampai 4 persen.
“Rasionalnya kalaupun data itu benar elektabilitasnya mencapai 40 persen margin erornya 3 atau 4 persen, kami mengasumsikan bahwa sebenarnya RIDA masih di bawah AHS yakni 36 persen sampai 37 persen,” jelasnya.
“Ini fakta yang tidak bisa dibantah, apa iya pasangan kami dalam rentang 3 bulan ini tidak ada kenaikan. Justru kami berkeyakinan AHS melebihi angka 40 persen,” tegas Sirwan.
Ini dapat dilihat dari lebih separuh dari 91 desa/kelurahan di 6 kecamatan kampanye terbatas yang diselesaikan pasangan Abuhasan-Suhuzu.
” Alhamdulilah semua berjalan baik, antusias masyarakat yang hadir selalu melebihi jumlah kuota kursi yang disediakan berjumlah 50 orang dalam tenda.Setiap hari ada sekitar 3 titik lokasi kampanye yang kami isi, dan kami belum pernah menggabung 3 titik tersebut menjadi 1 titik,” katanya.
Sirwan kemudian menyarankan, agar tim sukses disebelah, mungkin lebih kreatif dan inovatif lagi. Jangan setiap momentum suksesi dari 2010 sampai saat ini, cuma hasil survey terus yang dijual atau dijadikan alat propaganda menggiring opini publik yang menyesatkan.
Laporan : Rustam









