TNC, KONKEP – Cerita Romeo and Juliet melegendah sebagai wujud keabadian cinta di dunia. Kisah yang sama pun terjadi di Pulau Wawonii, air terjun Tumburano yang terletak di Kecamatan Wawonii Utara menjadi wujud keabadian cinta di masa lampau.
Konon, objek wisata alam ini merupakan tempat sepasang kekasih mengakhiri hidup mereka, karena hubungan kedua insan tersebut tak mendapatkan restu orang tua.
Juru rawat air terjun Tumburano, Rustam (77) mengisahkan keabadian cinta yang kini terus menjadi cerita turun temurun. Kisah cinta sejati itu bermula ketika seorang pria dari masyarakat biasa bernama Duru Balewula, bertemu dengan seorang wanita cantik keturunan bangsawan yakni Wulangkinokooti.
Pada pertemua pertama, kata Rustam, Balewula langsung merasakan benih-benih cinta disanubarinya, sehingga hubungan mereka berlanjut pada jalinan cinta. Sayangnya, orang tua Wulangkinokooti (wanita) tak merestui hubungan cinta antara anaknya dan pria dari kasta biasa-biasa saja itu.
“Duru Balewula ini pekerjaannya hanya pasang jerat ayam hutan saja (Kumate) . Suatu saat, Balewula berkunjung ke Pula Ronte, kawasan di mana keluarga Wulangkinokooti berdomisili. Kemudian kedua insan tersebut bertemu dan mulai saling mengagumi hingga mencintai,” ujarnya kepada awak media, Minggu (27/8/2017).
Dengan kondisi yang tak sehat lagi, pria paru baya ini sesekali mencoba mengingat kisah yang didapatkan dari orang tuanya itu. Kemudian kembali mengisahkannya kepada para awak media, yang menemui dirinya di kediamannya.
Lebih lanjut, Rustam menjelaskan, alasan orang tua Wulangkinokooti tak merestui hubungan keduanya. Perbedaan kasta menjadi alasan utama tak direstuinya jalinan cinta Romeo and Juliet versi Wawonii tersebut.
Suatu saat, orang tua Wulangkinokooti hendak ke kebun. Sebelumnya, sang ibu berpesan kepada anak gadis itu agar menjaga kapas yang sedang dijemur. Akan tetali, saking asyiknya duduk berdua sembari menikmati daun sirih, kapas yang sedang dijemur tak sempat diangkat saat hujan turun. Ketika orang tuanya kembali dari kebun, ditemuinya kapas yang basah.
“Kenapa kapas ini basah nak, saya rasa ini pasti ada tamu mu tadi. Kalau laki-laki itu yang datang, jangan harap kamu bisa berjodoh dengan dia, ” cerita Rustam, mengulang perkataan ibu Wulangkinokooti.
Hari berganti hari, jalinan cinta keduanya pun terus berlanjut tanpa restu. Hingga suatu saat, keduanya kembali bertemu saat orang tua Wulangkinokooti sedang ke kebun. Saat itu mereka membahas soal solusi atas hubungan ini.
“Wulangkinokooti mengatakan bahwa dirinya tak sanggup menjalani kondisi tersebut, karena sampai kapan pun orang tuanya tak akan memberikan restu. Akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri hidup, ” kisahnya.
Waktu yang disepakati pun tiba, keduanya berdiri bersama di puncak air terjun Tumburano, dengan ketinggian kurang lebih 80 meter lebih. Sebelum memutuskan mengakhiri hidup, Duru Balewula dan Wulangkinokooti terlebih dahulu bermain musik, menggunakan alat musik seruling dan renta yang terbuat dari daun enau.
Setelah itu, Wulangkinokooti menjatuhkan alat musik renta miliknya dari ketinggian tersebut, lalu dirinya menyusul terjun. Duru Balewula pun melakukan hal yang sama, usai menjatuhkan serulingnya dia pun menyusul kekasihnya. Cinta tak direstui itu akhirnya abadi menyatu dengan ketinggian, dan kesegaran air terjun di kawasatan wisata tersebut.
* Wanita Tercantik
Wulangkinokooti merupakan wanita tercantik saat itu, dia juga merupakan keturunan dari kaum bangsawan. Selain memiliki raut wajah cantik, dia juga dianugerahi kulit yang putih nan mulus.
Dalam cerita, keputihan kulit Wulangkinokooti digambarkan tak ada yang mengalahkan pada zamannya. Saking putihnya, makanan dan minuman yang masuk ke kerongkongannya nampak jelas. Rambut panjang miliknya setebal jeruk besar jika digulung.
Laporan: Ikmal













