TenggaraNews.com, KONAWE – Ny Jero Padmi warga Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kecewa dengan pelayanan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Konawe dalam melayani pasien.
Meski pasien Jero Padmi dinyatakan negatif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium antigen SARS-CoV-2, namun pihak rumah sakit melakukan perawatan lanjutan di gedung SKB Unaaha.
Sementara gedung SKB tersebut terletak di samping gedung rumah sakit darurat pasien COVID-19.
“Kaka ipar saya kemarin masuk IGD langsung dilakukan pemeriksaan antigen SARS-CoV-2 dan hasilnya negatif. Kemudian berdasarkan hasil diagnosis menunjukan bahwa adanya indikasi peningkatan sel darah putih, sehingga dokter menyarankan untuk pemeriksaan lanjutan yaitu pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR),” kata Nengah Kote, keluarga Ny Jero Padmi, Minggu 25 Juli 2021.
Tetapi belum keluar hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), namun Ny Jero Padmi langsung dirujuk dan di pindahkan dari IGD BLUD Rumah Sakit Konawe ke Gedung SKB Unaaha, dengan alasan dititip sementara , sambil menunggu hasil PCR.
Anehnya di gedung SKB Unaaha yang seharusnya diperuntukan bagi pasien yang belum terpapar positif COVID-19, malah bercampur dengan para pasien yang sudah positif COVID-19.
“Walaupun tidak satu kamar, tetapi itu akan mengganggu bagi pasien secara psikologis,” ujar Nengah.
Menanggapi masalah yang dihadapi Ny Jero Padmi, Direktur BLUD RSUD Konawe Dr. Agus Lahida menjelaskan, bahwa gedung SKB Unaaha adalah ruang intermediate atau rumah singgah bagi pasien yang menunggu hasil pemeriksaan PCR.
Pemeriksaan PCR adalah untuk memastikan, apakah pasien terpapar atau tidak. Dan pengambilan sampelnya sama dengan pemeriksaan antigen SARS-CoV-2, namun yang membedakan PCR lebih pada sisi DNA-nya.
Pemeriksaan antigen SARS-CoV-2 itu lebih cepat hanya 15 menit keluar hasilnya, sedangkan PCR membutuhkan waktu selama 6 jam baru keluar hasilnya.
“Berdasarkan protokol kesehatan setiap pasian yang kami berikan skoring dan dicurigai covid, maka kami akan melakukan antigen SARS-CoV-2 karena itu yang paling cepat untuk mengetahui hasil pemeriksaannya,” terangnya.
Pada hasil pemeriksaan antigen SARS-CoV-2, pasien Jero Padmi menunjukan negatif. “Tetapi kami tetap berpegang secara klinis bahwa ada kemungkinan terpapar positif COVID-19, sehingga sesuai juknis dari Depkes maka dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu pemeriksaan PCR,” ungkapnya.
“Jadi sambil menunggu hasil pemeriksaan PCR selama 6 jam yang kita belum mengetahui. apakah terpapar COVID-19 atau negatif sehingga kita harus memisahkan pasien-pasien yang bukan COVID-19,” jelasnya.
Pasien yang berada di gedung SKB Unaaha merupakan pasien yang belum dinyatakan positif terpapar COVID-19 atau pasien yang masih menunggu hasil PCR.
Selanjutnya untuk pasien yang dititipkan di SKB Unaaha, paling lama satu hari berada di tempat tersebut, sehingga begitu keluar hasil pasien tersebut harus bergeser ke Rumah Sakit Darurat COVID-19, jika hasilnya positif. Tetapi jika hasilnya negatif, maka dapat dikembalikan ke rumah sakit induk untuk dilakukan perawatan lanjutan, apa bila pasien masih ada keluhan.
Jika pasien disarankan oleh dokter untuk isolasi mandiri (isoman), berarti hasilnya positif terpapar COVID-19, tetapi gejalanya ringan yang tidak membutuhkan oksigen. Sedangkan di Rumah Sakit Darurat COVID-19, hanya pasien COVID-19 dengan gejala sedang dan berat.
“Selanjutnya pasien yang diduga positif terpapar COVID-19 yang berada di SKB selama 8 hari, saya akan cek langsung apabila terbukti pasien tersebut berada di gedung SKB Unaaha melebihi dari satu hari sesuai SOP, maka saya akan menindak anggota saya, “ katanya.
Sementara itu, Ketua Tim gugus tugas COVID-19 Konawe Ferdinand Sapaan menambahkan, bahwa hasil pemeriksaan PCR pasien Jero Padmi belum keluar, tetapi pasien tersebut sudah mengarah ke indikasi COVID-19, sehingga diarahkan dulu ke gedung SKB Unaaha untuk mengantisipasi
Sekretaris Daerah Kab. Konawe ini juga berharap agar keluarga pasien lebih bijak melihat situasi ini dan kami juga berharap agar masyarakat Konawe semuanya negatif sehingga mereka tidak ada beban saat beraktifitas dengan orang lain
Laporan : Helni Setyawan









