TenggaraNews.com, MUNA – Debat kandidat Pilkada Kabupaten Muna yang dilaksanakan hari ini di gedung Galampa Kantolalo, menjadi salah satu tolok ukur untuk menilai kemampuan pasangan calon (Paslon).
Debat Kandidat ditujukan agar masyarakat bisa melihat langsung pemaparan serta adu gagasan visi misi dan program antar pasangan calon. Sehingga dari proses itu, masyarakat bisa menilai secara objektif serta membandingkan secara langsung kemampuan setiap Paslon
Juru Bicara Paslon LM Rajiun Tumada – H. La Pili (RaPi), Wahidin Kusuma Putra mengatakan, ada tiga aspek yang bisa dijadikan rujukan oleh masyarakat untuk memberikan penilaian pada debat kandidat Pilkada Muna yang diikuti oleh dua Paslon tersebut.
Pertama, kata dia, materi yang biasanya berkaitan dengan substansi masalah yang menjadi topik debat kandidat. Pada aspek ini, masyarakat harus menilai kemampuan kandidat dalam menemukan serta memaparkan substansi masalah, serta kualitas pendapat dan pernyataan dari kandidat.
Dijelaskannya. masyarakat bisa melihat apakah pendapat yang disampaikan itu relevan atau tidak dengan materi debat. Apakah kandidat menyampaikan solusi yang logis bagi masalah yang ada atau tidak. Dan yang lebih penting, lanjutnya, apa yang disampaikan harus sesuai dengan fakta – fakta di lapangan.
“Misalnya Pak Rajiun yang menyatakan bahwa penimbunan Teluk Motewe yang dilakukan oleh Rusman Emba adalah program mubazir, yang sudah menghabiskan anggaran kurang lebih Rp50 miliar, dimana menurutnya anggaran Rp50 miliar itu masih jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki infrastruktur dasar di daerah pedesaan dan pesisir, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkapnya, kamis 5 November 2020.
Pernyataan itu didukung dengan fakta – fakta di lapangan yang dilihat dan didengar sendiri oleh Rajiun, saat mengunjungi kurang lebih 600 titik wilayah di Kabupaten Muna selama 1 tahun terakhir.
Fakta – fakta ini juga yang mendorong lahirnya gagasan LM. Rajiun Tumada untuk memprioritaskan anggaran pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur dasar, yang menjadi kebutuhan utama masyarakat Muna.
Selanjutnya, Wahidin menambahkan, aspek penilaian kedua adalah soal sikap kandidat dalam menyampaikan materi atau pendapatnya. Masyarakat bisa melihat dan menilai sendiri bagaimana bahasa tubuh, mimik wajah, pandangan mata, intonasi suara, volume suara dan pengaturan nafas.
Masyarakat juga bisa menilai bagaimana keserasian dan kekompakan Paslon, serta jauh lebih penting adalah artikulasi juga sikap kandidat dalam penggunaan bahasa yang dipakai, seperti kefasihan, keakuratan tata bahasa, gaya bahasa, hingga diksi dan pemilihan kata.
“Pak Rajiun menunjukan sikap yang sangat baik dalam debat. Meskipun berlawan, namun dia tetap menunjukan sikap menghargai dan menghormati lawan debatnya,” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, bahasa tubuh Rajiun juga menunjukan keserasiannya dengan La Pili sebagai pasangannya, berbeda dengan fitnah yang berkembang selama ini.
Menurutnya lagi, mimik wajahnya yang dipenuhi dengan senyuman sepanjang acara juga menunjukan pembawaannya yang santai, yang tidak menganggap Pilkada Muna sebagai beban. Penggunaan bahasa saat memaparkan pendapatnya juga sangat fasih, tata bahasanya akurat juga menggunakan diksinya tepat. Tidak terburu – buru dan pengaturan nafasnya sangat baik.
Lebih lanjut, Wahidin menjelaskan, aspek ketiga yang menjadi penilaian masyarakat adalah metode. Metode ini terkait dengan cara penyampaian materi, substansi dan pendapat oleh masing-masing kandidat. Bisa dilihat dari cara penyampaian gagasan, penggunaan waktu, serta menyampaikan jawaban penolakan atau bantahan saat debat.
Aspek ketiga tersebut dipenuhi oleh LM.
Rajiun Tumada, dimana, terlihat saat mantan Kasat Pol -PP itu dengan tenang menjawab serangan dari LM. Rusman Emba soal panjang jalan Muna Barat 786 KM yang sudah diaspal yang menurut petahana tidak masuk akal.
“Pak Rajiun membungkam serangan Rusman dengan metode yang sangat gampang dipahami. Dia memaparkan klasifikasi jalan juga material aspal yang digunakan sesuai dengan klasifikasi jalan, sehingga klaim soal panjang jalan yang sudah teraspal di Muna Barat menjadi masuk akal saat dikaitkan dengan ketersediaan dan alokasi anggaran,” jelasnya.
Saat LM. Rajiun Tumada memberikan pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Rusman Emba adalah tentang teluk Motewe yang ditimbun tanpa lelengkapan dokumen AMDAL, jalan warangga yang dibangun tidak sesuai nomenklatur.
Dimana, nomenklaturnya adalah pembanguan jalan Motewe – Watuputih, hal itu dijawab dengan gagap oleh LM.Rusman Emba.
Menurut Wahidin, Dari semua aspek penilaian debat kandidat itu, pasangan berakronim RAPI tampil dengan sangat memuaskan dan sudah memenuhi keseluruhan aspek penilaian tersebut.
Hal itu menunjukan tingginya kualitas kepemimpinan LM.Rajiun Tumada dan rendahnya kualitas kepemimpinan Rusman Emba. Ia berharap, debat kandidat ini bisa membuka kesadaran masyarakat agar memilih pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik yang akan memimpin Kabupaten Muna pada periode 2021 – 2026.
“Debat Kandidat ini sudah menunjukan rendahnya kualitas kepemimpinan Rusman Emba dan tingginya kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh LM. Rajiun Tumada. Perbedaan kualitas kedua kandidat sangat jelas terlihat. Saya yakin masyarakat Muna tidak akan lagi salah dalam menentukan pilihannya. Tanggal 9 Desember akan menjadi hari kemenangan bagi Pasangan RaPi juga menjadi tonggak awal kebangkitan Muna,” tutupnya.
Laporan: Phoyo









