TenggaraNews.com, KONAWE -Deklarasi Jaringan Kerja Kebudayaan (Jaker) sukses dilaksanakan di salah satu warkop di Unaaha, Ibukota Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Jum’at malam 22 Agustus 2020.
Dalam deklarasi ini juga mementaskan karya kreatif, antara lain musik tradisional kreatif dan progresif, pentas sastra kinoho, pentas sastra moanggo, pentas puisi merdeka, stand up comedy dan pemutaran Vidio dokumenter sejarah lokal.

Pendiri Jaker Konawe Jumran menjelaskan, deklarasi Jaker ini adalah jaringan pekerja seni budaya yang bergerak dibidang daya cipta, kreatifitas dan minat jaringan utama ini meluputi sastra, seni, filsafat, agama dan budaya baik dalam bentuk pemikiran maupun karya.
“Sama halnya dengan pentingnya sebuah pondasi rumah, tanpa basic struktur yang kuat dan berkarakter masyarakat kita juga akan mudah tumbang oleh badai perubahan global dan kapitalisme,” ujarnya.
Lantas apa yang menjadi ketakutan dari badai perubahan global itu, menurut pendiri Jaker ini tidak lain adalah hilangnya nilai-nilai kearifan lokal. Lalu digantikan budaya pop atau budaya global yang dikuasai dan didominasi negara-negara adidaya yang norma dan etiknya sangat kontras dengan budaya kita.
Lanjutnya, kegiatan Jaker ini mencoba membuka penjelasan tentang faktor-faktor eksternal dan internal dari kebudayaan. Diimana faktor eksternalnya adalah soal kapitalisme, sedangkan faktor internalnya adalah tentang kearifan lokal.
“Kapitalisme telah melahirkan industri budaya, yang kemudian juga melahirkan konsumerisme yang syarat dengan individualisme dan ketidakpedulian yang akhirnya menghilangkan identitas masyarakat lokal,” jelas Jumran.,
Maka, jika kita adalah sebagai konsumen budaya, mestinya harus kritis, bisa selektif memilih referensi gaya hidup dan budaya untuk mendefinisikan diri dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Laporan : Helni









