TenggaraNews.com, KENDARI – Kondisi Andi Sitti (72) memprihatinkan pasca menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kendari selama 13 hari. Disekujur tubuh wanita lanjut usia (Lansia) asal Desa Dawi-dawi, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka itu nampak sejumlah luka.
Kepada TenggaraNews.com, salah satu kerabat pasien, Erwin menceritakan kondisi Andi Sitti usai dijemput di RSJ. Saat ini, kata dia, bibinya tersebut hanya terbaring di tempat tidur, sudah tidak bisa lagi berjalan (Lumpuh).
Padahal, lanjutnya, saat keluarga mengantar ke RSJ, kondisi Andi Sitti hanya menderita gangguan mental dan masih bisa berjalan. Anehnya, setelah menjalani perawatan, terjadi perubahan terhadap kondisi fisik pasien yang kini tak bisa lagi berjalan.
“Keluarga kaget, karena tante saya lumpuh dan banyak luka-luka di badannya. Bahkan, matanya lebam seperti habis dipukul, ini yang tidak diterima keluarga,” jelasnya, akhir pekan lalu.

Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh Sarmila, salah satu cucu Andi Sitti. Dihubungi melalui selularnya, wanita yang akrab disapa Mila mengatakan, bahwa pihak rumah sakit terkesan melakukan pemulangan paksa terhadap neneknya. Padahal, kondisinya saat itu masih memprihatinkan.
“Waktu pertama masuk RSJ kondisi nenek saya sehat-sehat ji. Memang sempat mengamuk di ruang UGD karena nda mau diperiksa sama petugasnya, sehingga diikat di atas ranjang,” katanya.

Sarmila menambahkan, saat masuk ke UGD RSJ, Ia dimintai uang sebesar Rp1 juta untuk biaya perawatan.
“Petugasnya bilang, nenek saya bisa mi pulang, nanti biar dirawat katanya di RSJ. Sebelumnya, salah satu petugas RSJ telpon terus saya. Dia suruh saya datang ambil nenekku, karena alasannya dia sudah lemah,” tambahnya.
Alasan pihak rumah sakit membuat Sarmila dan keluarganya dibuat bingung. Pasalnya, pihak rumah sakit yang mendesak keluarga untuk memulangkan pasien.
“Saya pikir sudah sehat mi saya punya nenek karena petugasnya bilang bawa pulang mi katanya nenekku. Tapi justru keadaanya makin parah. Saya juga dimintai uang saat mau keluar dari ruangan perawatan Flamboyan. Disitu saya bayar Rp1 juta 14 ribu dan bukti pembayarannya hanya pakai kwitansi,” jelasnya.
Sarmila menambahkan, bahwa pihak keluarga tak diberi penjelasan sedikitpun oleh pihak RSJ terkait kondisi nenek Sitti yang memprihatinkan.
Berdasarkan kondisi itu, pihak rumah sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai standar pelayanan dan diduga melalaikan pasien.
Jurnalis TenggaraNews.com bersama beberapa awak media online sempat menemani keluarga pasien untuk meminta klarifikasi pihak RSJ. Saat itu, Kepala Bidang Perawatan Medis RSJ Kendari telah memberikan penjelasan kepada pihak keluarga pasien. Hanya saja, dr. Murniaty menolak jika penjelasannya tersebut dipublish dalam pemberitaan.
“Jangan. Ada pimpinan,” pintanya kepada awak media.
Sebelumnya, Direktur RSJ Kendari, dr. Abd. Razak telah dua kali membuat janji untuk bertemu awak media. Akan tetapi, hingga berita ini dipublish agenda tersebut selalu batal.

Jurnalis TenggaraNews.com juga pernah meminta untuk melakukan wawancara melalui telfon, namun dr. Abd Razak menolak sembari meminta agar diwawancara langsung di ruang kerjanya.
Selasa 7 Januari 2020, jurnalis TenggaraNews.com berhasil menghubungi dr. Abd. Razak. Dan dia bersedia diwawancarai selepas shalat Dzuhur di RSJ.
“Selesai shalat Dzuhur yah. Tapi cepat, karena saya mau keluar,” terangnya.
Lalu, selepas Dzuhur, jurnalis TenggaraNews.com bersama beberapa wartawan (Sultranews dan Zonasultra) mendatangi RSJ, yang terletak di Jalan dr. Sutomo, Kelurahan Punggolaka, Kecamatan Puuwatu.
Akan tetapi, Abd. Razak tak berada di tempat. Situasi rumah sakit tampak sepi, nampak pintu ruangannya terkunci dan tak ada staf. Kemudian, jurnalis TenggaraNews.com mencoba menelfon via WhatsApp namun tak diangkat. Begitu pula saat dikirimkan chat terkait keberadaan para awak media, juga tak mendapatkan jawaban.
Karena masih ada agenda liputan lainnya, para awak media memutuskan meninggalkan RSJ. Saat awak media sedang melakukan liputan di tempat lain, tiba-tiba telefon genggam jurnalis TenggaraNews.com berdering, dari layar handphone tersebut nampak tertera nama Direktur RSJ yang melakukan panggilan via WhatsApp.
Abd Razak mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di ruangan kerjanya. Akan tetapi, awak media tak bisa kembali ke RSJ, karena masih melalukan liputan di tempat lain, sehingga Direktur RSJ memberikan penjelasan terkait keluhan keluarga nenek Sitti.
Melalui Sambungan selularnya, Abd. Razak tak menerima jika pasien itu disebut lumpuh usai menjalani perwatan di rumah sakit yang dipimpinnya itu.
“Jangan pakai kata lumpu, itu terlalu berlebihan, ” ujar mantan Direktur RSUP Bahteramas ini saat menelfon jurnalis TenggaraNews.com via WhatsApp.
Menurut dia, kondisi fisik nenek Sitti disebabkan karena faktor Lansia. dr. Abd. Razak juga menjelaskan, bahwa RSJ bukan tempat untuk Lansia.
Laporan: Ikas









