TenggaraNews.com, WAKATOBI – Tak ada yang menyangka. Semua di luar dugaan. almarhum Immawan Randy dan Muhammad Yusuf Kardawi harus gugur dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.
Wafatnya kedua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari tak hanya menjadi duka bagi keluarganya, namun pelipur duka lara menjelma pada sanubari Sang pejuang 1998, yang juga mantan Presiden Mahasiswa (Presma) UHO, Salih Hanan.
Tepatnya pada malam Ahad, sekitar pukul 21.00 Wita, bertempat di Pantai Marina Beach, Kabupaten Wakatobi, bersama para generasi penerus bangsa, satu persatu membacakan puisi duka cita dalam peristiwa Semptember Berdarah (Sedarah).
Gumang mereka yang begitu tegas, dihiasi pancaran cahaya lilin yang membentuk lingkaran, terbaca seakan mereka yang gugur selalu hidup dalam teriakan kebenaran para generasi bangsa.
Digenggamnya lampu lilin oleh para generasi hidup itu, mereka mengelilingi sepertiga putaran Marina Beach, sambil melantukan lagu perjuangan mahasiswa, dengan raut wajah gersang seolah tangis tak mampu tuk di embangi.
Disebelah barat, seorang tergesa-gesa dengan celana hitam jaket kuning, menghampiri suara-suara generasi pejuang dan terus mendekat.
Setibanya pada kerumunan itu, Ia duduk diatas deker sambil tersenyum, namun aneh, tiba-tiba Ia pun menunjukan wajah kesedihan, namun gerak tubuhnya begitu kuat.
Tak lama kemudian, Ia mulai diperkenalkan kawan seperjuanganya, “Inilah Saudara sekaligus aktor pejuang kita pada masanya yang selalu punya jiwa semangat hingga saat ini, ini lah Saudara kita, Salih Hanan,” kata kawanya itu.
Lampu-lampu lilin yang mulanya digenggam, satu persatu mulai ditempel berjejer pada pembatas jalan, yang menambah geramnya suasana duka seakan berada diruang gelap gulita.
Salih Hanan, mulai bergerak dari tempat duduknya kehadapan para genari penerus perjuangan bangsa, setibanya dihadapan mereka, tarikan napas yang dalam dan hembusan kata duka paling dalam kepada Almarhum Adinda Randi dan Yusuf, sebagai pengawal ucapanya.
Kemudian, Ia mulai menyampaikan beberapa hal.
“Pertama, saya ingin tekankan kepada adik-adik, bahwa tak ada seorang manusiapun di dunia ini yang diberikan hak untuk menindas orang lain, namun perlu kita sadari bahwa itulah peristiwa yang terjadi, karena di dalam demonstrasi sesuatu hal apa saja bisa terjadi,” tuturnya.
Lantunan edukasi Ia berikan kepada sanak pemuda pemudi bangsa, bahwasanya ketika berproses secara intelektual dan mandiri maka kita pun dapat berbuat sebagaimana yang lain.
Ia juga mengajak kepada seluruh elemen, lembaga, dan komunitas lainya agar saling berkordinasi dan bersatu, jangan ada perbedaan satu sama lain, karna kita semua adalah komponem bangsa.
Mantan Presma itu sangat menekankan, bahwasanya tak ada permusuhan bagi kaum intelektual, polisi, pemerintah, dan siapa saja bukan musuh mahasiswa.
Namun Ia pun mengeluarkan suara lantangnya.
“Tapi yang pasti, musuh kita adalah ketidak adilan, penindasan terhadap hak-hak asasi manusia, dan musuh kita adalah penindasan terhadap hak-hak demokrasi kita” ujarnya.
Sebelum mengakhiri kalimatnya itu, Ia sampaikan agar sekujur tubu memasrahkan diri, haturkan doa dan bela sungkawa untuk almatlrhum Randi dan Yusuf.
“Hidup mahasiswa, hidup mahasiswa, hidup mahasiswa,” salam ucapan akhirnya bersama generasi penerus perjungan di Marina Beach.
Laporan: Syaiful









