TNC, JAKARTA – Tekad Oheo Sinapoy untuk meruntuhkan praktek dinasti politik di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mendapatkan dukungan dari masyarakat dan sejumlah tokoh, yang telah malang melintang di kanca perpolitikan.
Laode Ida merupakan salah satu tokoh Sultra yang mengapresiasi pemikiran dan obsesi Oheo. Menurut dia, Balon wakil gubernur ini sangat progresif, dan menghendaki pegelolaan daerah otonom beralaskan prinsip-prinsip good governance dan clean government. Harapan itu semua sangat inline dengan agenda reformasi.
“Perlu diingat bahwa mandat utama reformasi adalah meniadakan KKN. Dimana praktik dinasti justru jauh sudah sangat melanggar agenda reformasi, dan revolusi mental ala Presiden Jokowi,” ujar komisioner Ombudsman RI tersebut, Senin (31/7/2017).
Para penggerak reformasi termasuk dirinya yang ada dalam barisan itu, sadar betul akan kecenderungan hal tersebut saat ini. Bahkan, pemimpin barisan gerakan reformasi, Prof. M. Amin Rais kini masih ada, masih sehat dan bahkan masih aktif termasuk dalam Parpol yang didirikannya yakni PAN.
Sehingga, kata dia, sangat ironis jika justru kader-kader dalam parpol yang didirikan Amin Rais sendiri, secara telanjang mempertontonkan pelanggaran dan penghianatan terhadap nilai-nilai reformasi di hadapan sang pendiri.
“Saya kira Oheo ketika mengkritisi nepotisme, sebenarnya sedang mengingatkan seluruh warga bangsa ini, untuk kembali ke khittah reformasi. Sekaligus mengingatkan agar para warga hati-hati dalam memilih pemimpin,” katanya.
Sebab, sangat mustahil pemimpin yang dinastik dan korup akan sejahterahkan rakyat, yang terjadi justru sebaliknya. Tergradasinya moralitas aparat birokrasi, menumpuknya harta pada penguasa dinastik, terjadinya kerusakan lingkungan, dan berbagai wujud yang jauh dari cita negara bangsa ini.
Laporan: Arsenio Abqari
![]()
Editor: Ichas Cunge









