Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami
No Result
View All Result
Tenggara News
No Result
View All Result
Home Nasional

MRT Lebak Bulus, Akhir Sebuah Perlawanan?

OPINI

Redaksi by Redaksi
July 13, 2019
in Nasional
0
Smiley face

Ramai! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi dan perasaan para pendukung pasca pertemuan Prabowo dengan Jokowi. Kaget, kecewa, bahkan tak sedikit yang marah. Lalu lintas medsos padat dengan meme, gimic dan tulisan yang nadanya seragam: “Goodbye Jenderal”.

Bagi mereka yang jeli mengawal informasi, peristiwa pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT Lebak Bulus hari ini tak mengagetkan. Terutama bagi mereka yang biasa mengintip dapur belakangnya BPN. Tak ada yang mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Semua berjalan secara terencana dan sistematis.

Kita awali pada sikap Prabowo usai pemungutan suara tanggal 17 April. Malamnya langsung konferensi pers mengumumkan kemenangannya. Konsolidasi dengan BPN, partai koalisi, para tokoh dan ulama solid. Hari-hari kemudian rumah Prabowo di Kertanegara nomor 4 ramai para pendukung. Kordinasi terus jalan. Satu kata: point of no return. Yakini kemenangan. Maju terus, dan tak ada kata mundur. Gerakan kedaulatan rakyat menjadi tema perjuangan. Tolak bertemu dengan elit istana. Tak akan ambil jalur ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sampai di sini, Prabowo dengan semua elemen pendukung satu barisan dalam perjuangan. Sangat solid. Timbul tenggelam bersama rakyat. Itulah mutiara kata yang keluar dari lidah jenderal bintang tiga ini.

Sampai tiba saatnya, ada perubahan haluan. Prabowo ajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Drama ke MK sempat diwarnai konflik sejumlah tim hukum. Kubu Bambang Widjajanto vs kubu Dasco. Meski akhirnya bisa diselesaikan dengan menyisakan beberapa catatan. Terutama oleh Amien Rais, tokoh yang cukup berpengaruh di BPN.

Tidak saja ke MK, Prabowo juga meminta, bahkan membuat video yang berisi instruksi kepada semua pendukungnya agar tidak demo ke MK. Cukup di rumah dan berdoa. Dan instruksi ini harus ditaati. “Sami’na wa atha’na”.

You Might Also Like

Mendagri Larang Kepala Daerah Keluar Wilayah

Produksi Beras Indonesia Tahun 2025 Melonjak Tinggi 34,77 Juta Ton

Tindak Perusahaan Perusak Kawasan Hutan, Ditjen Gakkum Kehutanan dan Jampidum Teken Kerjasama

Pembahasan UU ASN Berikan Solusi Bagi PNS dan PPPK

Kendati Prabowo membuat instruksi larangan ke MK, para ulama, tokoh dan pendukung tetap turun aksi ke MK. Apa artinya? Prabowo dan para pendukung sudah jalan sendiri-sendiri. Tak lagi ada kordinasi dengan para ulama dan tokoh. Disinilah persimpangan jalan itu dimulai.

Peristiwa ini menunjukkan begitu nyata bahwa Prabowo tak lagi bersama dan satu barisan dengan para pendukung dan simpatisannya. Santer kabar bahwa video larangan aksi ke MK dari Prabowo dibuat setelah mantan danjen kopassus ini berjumpa dengan sejumlah elit istana. Ada deal? Yang pasti kalau mereka bertemu tidak mungkin sekedar menikmati secangkir kopi.

Kordinasi sama PKS? Kecil kemungkinan Prabowo tak berkomunikasi dengan sekutunya, yaitu PKS. Partai yang lima tahun menemani Gerindra sebagai oposisi. Suka duka bersama. Dan sudah bisa ditebak, apa keputusan PKS? Tetap memilih oposisi. No negosiation. Oposisi harga mati. Keputusan ini bisa dibaca dari semua jubir PKS yang satu suara di media.

Cukup dengan cerita ini, mestinya publik tak perlu kaget ketika MK membacakan amar putusan (27/6/2019). Dan tak perlu kaget juga jika Prabowo ketemu Jokowi hari ini (Sabtu, 13/7/2019). Biasa aja kali!

Smiley face

Apakah pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT Lebak Bulus itu menandai adanya rekonsiliasi politik? Apa pengertian rekonsiliasi politik? Bagi-bagi kursi! Pertanyaannya mesti dibalik: setelah semua rentetan cerita itu terjadi, mungkinkah Prabowo bisa menghindari istana?

Sebagai tambahan fakta, pertama tentang pidato, tepatnya obrolan Prabowo di depan emak-emak di Kertanegara jumat kemarin (12/7/2019). Apakah Prabowo menyebut kata “oposisi” sebagaimana tuntutan emak-emak itu? Tidak! Retorikanya sedemikian rapi dan terukur. Ini dibuat agar kedua pihak yaitu istana dan emak-emak merasa nyaman dan tak tersinggung. Kedua, lihat mimik, gestur, sikap dan isi pidato Prabowo saat bertemu Jokowi di MRT. Dua fakta ini bisa jadi basis pertanyaan: masih mungkinkah Prabowo tidak gabung ke istana?

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah: kenapa Prabowo mengambil sikap seperti itu? Harus disadari bahwa posisi Prabowo itu sentral. Selama Prabowo jadi rival penguasa, maka perlawanan rakyat akan berlanjut. Ini ancaman bagi stabilitas politik, dan bahkan ekonomi. Dan jika ada momentum tertentu, ini bisa jadi ledakan sosial.

Dan nampaknya, istana tak cukup percaya diri untuk mampu membangun komunikasi politik yang efektif dengan rakyat, terutama para pendukung Prabowo. Padahal, jika negara ini baik-baik saja, pemerintah menunjukkan prestasinya yang baik dan hukum berlaku adil, maka perlawanan macam apapun akan dapat diurai. Istana seperti kurang percaya diri sehingga harus berkorban sesuatu untuk mengupayakan adanya rekonsiliasi.

Prabowo itu simbol dan icon perlawanan rakyat selama ia jadi oposisi. Maka, istana berkepentingan untuk menghentikannya. Caranya? Tanya Prabowo. Dia yang tahu dan sudah merasakannya.

Prabowo sempat dianggap berada dalam dilema. Maju kena, mundur kena. Maju sebagai oposisi, akan berhadapan dengan penguasa. Bagaimana nasib partainya? Bagaimana nasib para tersangka? Dalam konteks ini, mungkin Prabowo tak memikirkan nasib dirinya. Sampai disini, ada kesan Prabowo bermoral. Tapi, apakah itu pilihan yang tepat?

Di mata pendukung, itu tak saja keliru, tapi tersesat. Prabowo dianggap pecundang. Menyerah sebelum pertandingan selesai. Tak sedikit yang menuduhnya penghianat.

Pendukung bertanya: kalau tak sanggup melihat korban, kenapa ikut perang? Kenapa tidak pensiun dini, itu akan lebih aman dan nyaman. Kalau jenderal tak bisa lihat darah, kenapa tak jadi hansip atau satpam? Itulah narasi yang berkembang di medsos dari pagi hingga sore hari ini.

Akhirnya para pendukung hanya bisa berucap dalam ratapan mendalam “ternyata Prabowo memang tak siap untuk bertarung di gelanggang’. Kenapa tidak ngomong dari awal? Keluh para pendukung.

Pertemuan di MRT sepertinya akan menjadi akhir dari semua bentuk perlawanan. Kecuali jika di kemudian hari Prabowo membuat peryataan sebagai oposisi. Ini baru benar-benar kejutan. Ah, bercanda.

 

 

Oleh: Tony Rosyid
Penulis merupakan pengamat politik dan pemerhati bangsa

Post Views: 251
Tags: #MRT Lebak Bulus#Opini#pertemuan jokowi dan prabowo
Previous Post

Trend Pelajar Pengguna Narkoba di Kendari Meningkat, BNN Temukan Ratusan Kasus

Next Post

Melihat Pemuda Kreatif Desa Wandoke, Limbah Pipa Paralon Disulap Menjadi Lampu Hias Cantik

Redaksi

Redaksi

Related News

Mendagri Larang Kepala Daerah Keluar Wilayah

Mendagri Larang Kepala Daerah Keluar Wilayah

by Redaksi
December 10, 2025
0

TenggaraNews.com, JAKARTA - Mendagri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menerbitkan surat edaran (SE) larangan kepala daerah bepergian ke luar wilayahnya....

Produksi Beras Indonesia Tahun 2025 Melonjak Tinggi 34,77 Juta Ton

Produksi Beras Indonesia Tahun 2025 Melonjak Tinggi 34,77 Juta Ton

by Redaksi
November 4, 2025
0

TenggaraNews.com, JAKARTA – Produksi beras nasional tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dan menandai langkah besar Indonesia menuju swasembada pangan. Berdasarkan...

Tindak Perusahaan Perusak Kawasan Hutan, Ditjen Gakkum Kehutanan dan Jampidum Teken Kerjasama

Tindak Perusahaan Perusak Kawasan Hutan, Ditjen Gakkum Kehutanan dan Jampidum Teken Kerjasama

by Redaksi
November 1, 2025
0

TenggaraNews.com, JAKARTA -  Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) bersama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) menandatangani...

Pembahasan UU ASN Berikan Solusi Bagi PNS dan PPPK

Pembahasan UU ASN Berikan Solusi Bagi PNS dan PPPK

by Redaksi
October 15, 2025
0

TenggaraNews. com, JAKARTA  - Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Reni Astuti menegaskan bahwa pembahasan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU...

Next Post
Melihat Pemuda Kreatif Desa Wandoke, Limbah Pipa Paralon  Disulap Menjadi Lampu Hias Cantik

Melihat Pemuda Kreatif Desa Wandoke, Limbah Pipa Paralon Disulap Menjadi Lampu Hias Cantik

Peduli Pendidikan, PT. Paramitha Dianugerahi Penghargaan dari Mahasiswa UHO

Peduli Pendidikan, PT. Paramitha Dianugerahi Penghargaan dari Mahasiswa UHO

Trending News

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

Korban Meninggal Bertambah, Mahasiswa Teknik Hembuskan Nafas Terakhir Usai Operasi

September 27, 2019
Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

Ayah Randi: Kasihan Anaku, Saya Pikir Dia yang Akan Mandikan Jenazaku

September 27, 2019
Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

Tiba-tiba Dicerai Istri, Suami Milyarder di Wakatobi Jadi Melarat

September 17, 2019

About

The best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc.

Categories

  • ADVETORIAL
  • crime & Justice
  • Daerah
  • Education
  • Ibukota
  • Kombis
  • Komunitas
  • Kongres PAN
  • Nasional
  • News
  • Operation
  • OPINI
  • Opinion
  • Perempuan dan Anak
  • Politic
  • Politika
  • Ramadhan Story
  • TNC Edukasi
  • TNC Health
  • TNC Inspiration
  • TNC Sportainment
  • TNC TV
  • Uncategorized
  • Veteran

Tags

#Ali Mazi #Asrun #Basarnas #Bombana #Demo #DPR RI #Gerindra #Golkar #Hugua #Jakarta #Jakarta Barat #Kendari #Kolaka #Konawe #Konkep #Konsel #konut #Korupsi #KPU #Kriminal #Muna #Narkoba #Opini #Pariwisata #PDIP #Pemkot #Pilcaleg #Pilgub #Pilgub Sultra #Politik #Polres #polres muna #Rusda Mahmud #Sjafei Kahar #Sultra #Tambang #Teguh Setyabudi #tenggaranews #Tenggaranews.com #TNI #VDNI #Wakatobi Dr Bahri Pemda Mubar Virus Corona

Recent Posts

  • Polsek Kaledupa Dinilai Tidak Profesional Tangani Laporan Masyarakat
  • Usut Penyebab Kematian Baim, Polisi Periksa 4 Orang Saksi
  • Purchase Now
  • Features
  • Demos
  • Support

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Politika
  • Nasional
  • Kombis
  • OPINI
  • TNC Inspiration
  • ADVETORIAL
  • Redaksi
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Peraturan Dewan Pers
    • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2022 Tenggara News – Portal Media Online Sulawesi Tenggara