TenggaraNews.com, KENDARI – Pengamat politik Sulawesi Tenggara Najib Husain, melihat alat peraga kampanye (APK) berupa baliho yang dipasang calon anggota legislatif (Caleg) di Kota Kendari, lebih cenderung memasang foto pribadi agar terlihat gagah atau cantik. Kemudian di baliho menambahkan logo partai, nomor urut dan nama Caleg.
“Saya melihat ada nama Caleg ditulis besar-besar, supaya terlihat jelas. Padahal ada hal yang jauh lebih penting, agar masyarakat menjatuhkan pilihannya pada Caleg tersebut. Apa itu yang saya maksud, yaitu visi dan misi Caleg,” kata Najib Husein di hadapan peserta Diskusi Publik “Menelaah Lorong Gelap Kampanye Pemilu 2019” yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Online Indonesia (DPD JOIN) Kota Kendari bekerjasama Bawaslu Kota Kendari, KPU Kota Kendari dan DPP Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (DPP PEKAT IB), Sabtu 19 Januari 2019 di Claro Hotel Kendari.
Dengan visi dan misi yang jelas, menurutnya dapat mempengaruhi masyarakat pemilih untuk menentukan pilihannya.
“Tapi memang ada yang saya peroleh informasinya, bahwa saat mendesain baliho, Caleg minta jasa desain agar membuatkan baliho. Soal materi baliho diserahkan ke pihak desain. Katanya, ikut saja desain baliho caleg lain. Nah ini kan ironis, seorang Caleg tidak punya visi dan misi yang jelas. Publik juga patut mempertanyakan, kalau Caleg tersebut terpilih, mau buat apa di parlemen,” jelasnya.
Prinsip umum kampanye itu, menurut Najib, seseorang Caleg mau jualan apa terhadap masyarakat?
“Jualan utamanya tentu visi, misi dan progam kerja, apabila terpilih sebagai anggota dewan. Jualannya itu apakah benar-benar berpihak ke masyarakat, ataukah memang dibutuhkan masyarakat. Jika visi, misi dan programnya, dibutuhkan masyarakat, saya yakin ini yang akan mempengaruhi suara pemilih untuk menentukan pilihannya,” ujarnya.
Integritas Caleg harus benar-benar dijaga dengan baik. Jangan justru dikembangkan isu-isu jual beli suara atau lebih dikenal dengan istilah money politik.
“Cara-cara ini tidak mendidik dalam perpolitikan Indonesia. Tidak mendidik masyarakat. Jangan lakukan hal seperti ini,” tegasnya.
(Rus)









