TenggaraNews.com, KENDARI – Muhammad Sutamin nampak menunjukan raut wajah penuh keyakinan, saat pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya Assunnah ini menemui sejumlah awak media, Senin 13 Januari 2020 di salah satu restoran di Kota Kendari.
Muhammad Sutamin hadir dengan mengunakan baju kokoh dan songko putih, didampingi Nur Rahmat Karno selaku kuasa hukumnya, dan beberapa rekan uztads serta santri.
Tak perlu menunggu waktu lama, ustadz Sutamin langsung menyapa awak media dan memulai kalimat pembuka untuk menceritakan kisah pilu yang menimpanya.
Dengan suara lantang tanpa ada keraguan, Sutamin menyampaikan bahwa dirinya ingin mengklarifikasi semua pernyataan Mardin More dan anaknya yang merupakan anggota TNI AL, Letkol Marinir AF di salah satu media online.
Sutamin menegaskan, bahwa apa yang disampaikan Mardin More dan anaknya merupakan bentuk pendustaan besar untuk membela diri.
Dia membenarkan, bahwa oknum TNI AL yakni Letkol Marinir AF melakukan penodongan pistol sebanyak dua kali kepada ustadz Sutamin. Penodongan pertama dilakukan di Ponpes yang dipimpinnya, kemudian aksi penodongan kali kedua dilakukan di Pos AL Kolaka.
Tindakan intimidasi itu dilakukan di Kelurahan 19 November, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis 9 Januari 2020 lalu.

Letkol Marinir AF mendatangi Ponpes Ihya Assunnah bersama Mardin More (ayahnya) serta dua personil Pos AL Kolaka yakni Lettu S dan Serka A.
“Dia menarik pistolnya dengan gemetaran seperti orang kesurupan lalu menodongkan di kepala saya. Kemudian, Mardin More panik sehingga menarik pistol anaknya itu, tapi Kolonel AF menarik sangkurnya seraya mengarahkan ke saya dengan kondisi gemetaran juga,” beber Sutamin.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, tak hanya penodongan saja yang dilakukan oleh Letkol AF. Sejumlah tindakan intimidasi pun dialami Sutamin, mulai dari diseret hingga ditarik-tarik. Dan tindakan tak bermoral itu turut disaksikan beberapa santri.
Sutamin juga membantah dalil Letkol AF Cs, yang berdalih bahwa kehadiran mereka di Ponpes tersebut merupakan upaya mediasi atas sengketa lahan yang kini tengah bergulir di proses peradilan, antara Mardin More selaku pelapor dan Ponpes Ihya Assunnah.
Sebab, jika tujuannya untuk melakukan mediasi, maka kondisi yang terjadi tak akan seburuk seperti yang dialami ustadz Sutamin berupa intimidasi.
Terkait dugaan penembakan sebagai bentuk intimidasi yang lebih serius, yang disebut Letkol AF Cs hanya bunyi petasan, Sutamin sekali lagi menegaskan, bahwa pihak Mardin More telah melakukan dusta besar.
“Mereka bilang letusan senjata itu bunyi petasan? Yang perlu diketahui, Pos AL Kolaka itu tidak dikelilingi pemukiman warga. Dan kalau itu petasan, maka bunyi tersebut tidak mungkin diikuti dengan perkataan itu tembakan peringatan,” jelasnya.
Menurut Sutamin, intimidasi tersebut sudah lama direncanakan. Sebab, kasus ini muncul di akhir September 2013 lalu dan Letkol AF kerap melakukan pengancaman melalui telefon. Hal itu dilakukan sejak Letkol AF masih berpanhkat Mayor.
“Dia (Letkol AF) menyampaikan bahwa pesantren ini akan digusur. Waktu itu dia masih berpangkat Mayor, dan AF mengatakan bahwa tunggu saja jadi Letkol,” katanya.
Ditanya terkait pengakuan Mardin More sebagai salah satu pendiri Ponpes Ihya Assunnah, Sutamin dengan tegas membantah pernyataan tersebut.
“Itu tidak benar. Mardin More itu hanya pendukung saja, banyak saksinya. Dia tidak pernah terlibat dalam kepengurusan yayasan,” tambahnya.
Dia juga menegaskan, lahan yang diklaim Mardin More tersebut sudah dibeli oleh yayasan Ihya Assunnah. Hal itu dikuatkan dengan bukti transfer sebesar Rp100 juta ke rekening Mardin More.

Akibat tindakan intimidasi Letkol AF Cs, banyak santri yang merasa trauma dan tak mau lagi masuk pesantren. Bahkan, kedua anak Ustadz Sutamin nampak trauma jika melihat seseorang yang berseragam TNI.
Olehnya itu, Muhammad Sutamin mewacanakan akan melaporkan tindakan intimidasi ketiga oknum personel TNI AL ke Pomal dan ke tingkat yang lebih tinggi lagi di pusat.
Bantahan Letkol Marinir AF Cs
Sebelumnya, Letkol Marinir AF membantah melakukan penodongan terhadap pemimpin Pondok Pesantren Ihya’ Ahsunnah, Muhammad Sutamin dengan senjata api.
Dikutip dari sejumlah media online, Letkol Marinir AF mengaku, jika dirinya hanya memegang airsoft gun saat itu.
“Pistol itu bukan organik, itu air softgun. Tidak ada amunisi dan tak ada gas. Seperti senjata mainan. Senjata itu tidak dikeluarkan, hanya dipegang saja,” kata Letkol AF di Polres Kolaka, Jumat 10 Januari 2020 sebagaimana dilansir di laman cnnindonesia.com.
Dikutip dari laman inews.id, terkait bunyi letusan saat ada di POM AL, Letkol Marinir AF mengatakan bunyi tersebut bukan berasal dari pistol. Tapi berasal dari anak-anak yang sedang bermain petasan.
“Yang bunyi adalah letusan mainan anak-anak. Kebetulan di depan itu ada anak-anak yang sedang bermain,” ucap Ahmad.
Masih dari laman inews.id, Letkol Marinir AF juga menyesalkan informasi yang beredar di media sosial. Dia akan melaporkan balik atas tuduhan pencemaran nama baik.
“Kami juga kan melaporkan hal ini, karena ini pencemaran nama baik. Apalagi kami secara priabdi maupun insititusi disebut ada oknum TNI,” ujarnya.
Laporan: Ikas









