TenggaraNews.com, WAKATOBI – Sebagai daerah kepulauan yang 97 persenya adalah laut dan tiga persen daratan, tentu sumber daya air bersih sangatlah penting bagi keberlansungan hidup masyarakat dan makhluk hidup lainya yang mendiami Kabupaten Wakatobi.
Di era pembangunan dan pertumbuhan manusia seiring perkembangan zaman, sebagai daratan kecil tentu sangat berpengaruh terhadap keadaan struktur wilayah, terutama kwalitas sumber air di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi.
Tentu hal tersebut perlu diantisipasi sejak dini, meskipun persediaan air bersih masih tergolang melimpah saat ini. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dalam pemetaan kawasan di dalam revisi RTRW Kabupaten Wakatobi, telah memetakan sumber-sember mata air yang ada di Kabupaten Wakatobi.
Bekerja sama dengan tim ahli dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makasar, saat ini telah dilakukan penelitian terhadap sumber-sember air yang ada di Pulau Wangi-wangi, yang digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Banyaknya sumber air yang masih belum terjangkau oleh sumber daya, sehingga sebagai langkah awal fokus kajian yang dilakukan, masih pada wilayah-wilayah strategis.
Ketua Tim Pakar dari Unhas, Prof. Sumbangan Baja mengungkapkan, saat ini para tim sedang melakukan pemetaan sumber-sumber air, meskipun belum mengcover secara keseluruhan.
“Tentang bagaimana kita memetakan air yang ada di dalam tanah, dimana ada air dan di mana tidak ada air, yang memang itu tidak nampak dari atas, dan ini nanti kita akan memetakan sumber-sumber air yang dipakai oleh PDAM,” ungkap Prof. Sumbangan Baja, Kamis 12 Maret 2020.
Dia juga menambahkan, output dari penelitian yang dilakukan nantinya adalah diketahuinya jaringan-jaringan air di bawah tanah, yakni areal pengisian air dan areal keluarnya air, seberapa banyak potensi besaran maupun kualitas airnya.
Prof. Sumbangan Baja mengatan, meskipun ketersediaan air banyak namun jika kualitasnya sudah tercemar, maka itu juga tidak layak digunakan.
Perlu diketahui, salah satu penyebab tercemarnya kualitas air di Pulau Wangi-wangi nantinya ke depan adalah limbah dan pembuangan sampah yang bukan pada tempatnya.
Hal itu dikarenakan sifat tanah geologi di Pulau wangi-wangi berpori (jenis tanahnya batu gamping), yang memudahkan masuknya limbah atau bahan-bahan cemar lainya maupun dari laut jika ada intrusi.
Tak hanya itu, limbah kotoran dari septictang masyarakat juga bisa mencemari kualitas air, karena sifat struktur tanah Pulau Wangi-wangi yang berpori itu.
“Kita tahu semua bahwa model septic tank kita yang diwangi-wangi ini kan hanya menggali, kemudian membuang kotoran dan disitulah ditampung, tanpa kita sadari tempat pembuangan kotoran tadi itu berpori dan bisa saja merembes kemana-mana,” ujar Prof. Sumbangan Baja.
Akan tetapi, Prof. Sumbangan Baja menyampaikan, mengenai hal tersebut, akan diketahui dari pemetaan dan penelitian yang tengah dilakukan oleh para tim.
“Itu semua nanti akan diketahui, karena kan dia geolistrik tiga dimensi itu dipetakan dengan alat yang digunakan, untuk identifikasi kualitas sumber air di Pulau wlWangi-wangi,” ungkapnya.
Olehnya itu, peran aktif dan kesadaran masyarakat Wakatobi dalam menjaga keberlansungan sumber air kedepanya sangatlah penting.
Menurut Prof. Sumbangan Baja, langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) sudah tepat, dalam rangka menjaga ketersediaan dan kwalitas sumber daya air di masa yang akan datang.
Laporan : Syaiful









