TenggaraNews.com, WAKATOBI – Proyek pembangunan pengaman pantai dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai Rp 23,8 Miliar di Pantai Waha, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, dianggap telah merusak keindahan pantai tersebut.
Masyarakat terkena dampak pembangunan proyek Kementrian PUPR Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Sulawesi Tenggara, minta pantai itu dikembalikan seperti semula.
Proyek pembangunan pengaman pantai senilai Rp 23,8 Miliar itu dikerjakan oleh PT. Tri Artha Mandiri yang berkantor di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Masyarakat Wangi-wangi, menyebut nama pantai Waha adalah pantai pasir putih yang menghubungkan tiga wilayah pesisir desa yaitu, Desa Wapia-Pia, Desa Waha dan Desa Koroe Onowa.
Letaknya berada di Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sultra. Kira-kira sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi Pantai Waha dari pusat ibu kota Kabupaten Wakatobi.
Sebelum ada pekerjaan, pantai tersebut merupakan icon wisata berkelas dunia dan satu-satunya yang ada di Wakatobi.
Banyak wisatawan dari mancanegara maupun wisatawan domestik yang datang ke Pantai Waha yang membentang di tiga desa tersebut.
Tak hanya icon wisata pantai, namun juga setelah wisatawan dapat menikmati keindahan pantai, sekitar 1 km ke arah laut. Di tempat tersebut, para wisatawan akan disuguhkan dengan surga bawah laut panorama karang yang indah.
Namun, sejak proyek pembangunan pengaman pantai dari Kementerian PUPR dikerjakan, Pantai Waha menjadi rusak akibat dikeruk alat berat exacavator milik kontraktor PT. Tri Artha Mandiri.
Proyek ekerjaan tersebut telah menghilangkan potensi wisata kelas dunia, yaitu pantai pasir putih, mengurangi daya tarik wisata selam.
Salah seorang nelayan La Upa yang dimintai komentarnya mengungkapkan, sebagai masyarakat awam tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pantai.
“Kita masyarakat orang bodoh tetap kita takut, apalagi adanya petugas yang jaga keamanannya, kan masyarakat takut, apalagi kasian kita orang bodoh, jadi kasian kita nelayan mau bergerak bagaimana kita pasrah sajalah,” pungkas nelayan La Upa, Sabtu, 4 September 2021.
Tak hanya itu, para nelayan juga membayangkan ketika datanya musim angin nanti (angin barat), dimana mereka harus mencari tempat perlindungan perahu yang dipakai menangkap ikan.
Pasalnya, para nelayan ketika musim angin barat telah tiba mereka langsung menaikan bodi ke pesisir pantai, sehingga meskipun gelombang ombak besar, perahu mereka sudah berada di atas pantai.
Harapan mereka juga untuk diperhatikan oleh pemerintah setempat telah hilang, pasalnya sudah beberap kali mereka mengadu namun belum ada perhatian.
Bahkan, pasca kunjungan sekretaris daerah (Sekda) dan Bupati, kontraktor semakin gencar bekerja. Pagar penghalang yang dibuat warga secara gotong royong pun mereka robohkan, dan bahkan ada nada ancaman dari pekerja kepada nelayan setempat.
Meskipun, dalam kondisi yang seperti itu, para nelayan hanya meminta satu hal, kembalikan warisan budaya leluhur mereka yang dijaga dan dipelihara sejak lama bahkan mungkin sebelum Indonesia merdeka, karena pantai itu satu-satunya kekayaan bersama yang mereka miliki, kebanggaan Wakatobi yang berkelas internasional.
Laporan : Syaiful









