TenggaraNews.com, KENDARI – Kepala Perwakilan BI Sultra, Minot Purwahono membeberkan perkembangan nilai tukar rupiah, dimana sejak Maret lalu mengalami tekanan yang cukup dalam. Hal tersebut disebabkan akibat respon baik dari kalangan investor asing terhadap kondisi perekonomian Amerika Serikat yang tumbuh baik.
Akibatnya, permintaan banyak dan nilai dollar naik, sedangkan rupiah mengalami penurunan.
“Kita kan sudah melihat, sejak tahun kemarin Amerika Serikat mengumumkan pertumbuhan perekonomiannya yang membaik, dan hal itu langsung direspon baik para investor asing yang selama ini berinvestasi di Indonesia,” ujar Minot, belum lama ini.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, keputusan para investor asing mengalihkan investasi ke negeri Paman Sam tersebut telah menyebabkan terjadinya sedikit goncangan, baik di pasar keuangan maupun pasar modal.
“Seperti kita ketahui bersama, selama ini Indonesian merupakan tujuan investasi dari pengusaha luar negeri. Tapi, kondisi perekonomian Amerika yang membaik menyebabkan sebagai pengusaha tersebut mengalihkan investasinya dari Indonesia,” jelasnya.
Kendati demikian, kata Minot, pelemahan mata uang negara tersebut tak hanya dirasakan Indonesia saja yang mengalami hal tersebut, negara-negara lain pun seperti Rusia dan Brasil turut merasakan imbas dari membaiknya perekonomian Amerika Serikat.
“Rupiah melemah 3,44 persen,” singkatnya.
Menurut Minot, pergerakan nilai tukar rupiah di luar dari yang diperkirakan. Olehnya itu, pihaknya melakukan RBG tambahan di bulan Mei kemarin, padahal biasanya hanya sekali tapi ini terjadi dua kali dalam sebulan
“Suku bunga acuan meningkat menjadi 25 bps yakni 4,75 persen. Kenaikan tersebut merupakan yang kedua kalinya pada Mei 2018 ini, sebagai upaya jangka pendek untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” pungkas Minot.
Laporan: Ikas Cunge








