TenggaraNews.com, KENDARI – Geliat perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara kian nampak hidup. Hal itu bisa dilihat dengan masuknya sejumlah usaha franchise ke bumi anoa, yang menjamur hingga ke pelosok daerah.
Indomaret misalnya, usaha retail modern ini telah menghiasi sejumlah titik di ibukota Provinsi Sultra dan kabupaten/kota lainnya, sejak awal 2018 lalu. Kehadiran usaha waralaba modern ini dipreduliksi sejumlah pihak, akan mematikan perkembangan usaha retail mandiri.
Pengamat perekonomian nasional, Abdul Rahman Farisi (ARF) mengatakan, bahwa kehadiran usaha retail sembako sistem waralaba ini juga akan berimbas terhadap keberadaan dan ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Olehnya itu, kata ARF, pemerintah harus memberikan perhatian khusus kepada para pelaku UMKM tradisional berbasis retail, agar tidak tergeser oleh menjamurnya usaha retail modern ini.
“Meski kehadiran usaha waralaba juga mendatangkan keuntungan bagi daerah, kita tidak lantas melupakan peran pengusaha UMKM disini,” ujar ayah dua anak ini
Menurut dia, bentuk perhatian yabg dimaksud bisa dilakukan melalui kebijakan pembagian zonasi atau pemetaan, soal tempat dan waktu harus dibatasi.
“Agar berkesinambungan, dan tidak lantas mematikan semangat wirausaha putra putri daerah kita,” terang ARF.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Boge ini menjelaskan, bahwa dalam melakukan zonasi tersebut, kebijakan pemerintah bisa mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang pedoman penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern.
“Permendag tersebut bisa menjadi acuan bagi pemerintah, untuk melibatkan sekurang-kurangnya 80 persen produk lokal dalam segmen retail modern maupun tradisional,” ungkap Boge.
Selain itu, hal lain yang juga bisa dilakukan pemerintah kepada para pelaku UMKM yakni peningkatan kualitas produk, pelatihan dan sosialisasi
Laporan: Ikas Cunge








