Tenggaranews.com, MUNA – Pasca lebaran Idul Fitri 1440 H/2019 M, Bupati Muna Barat (Mubar) LM Rajiun Tumada menghadiri halal bihalal 1 syawal di Lorong Labora Kelurahan Laiworu Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (12/6/ 2019.
Kegiatan halal bihalal tersebut dilakukan setelah ba’da Ashar di Rumah Surachman selaku Kabid Irigasi Mubar. Turut dihadiri Wakil Bupati Muna Barat Drs. Ahmad Lamane beserta, Sekda Mubar LM Husein Tali, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh masyarakat Gulamas (Gu, Lakudo dan Mawasangka) di wilayah kabupaten Muna serta ratusan masyarakat dari berbagai kalangan.
Dalam sambutannya Rajiun menyampaikan terima kasihnya kepada tuan rumah yang telah mengundangnya untuk menghadiri halal bihalal. Sekaligus silaturahim kepada warga lorong Labora, karena hal tersebut merupakan pertautan dan persaudaraan sebagai wujud kebersamaan untuk membangun daerah bukan hanya di Mubar tapi Muna juga adalah merupakan bagian dari saudara.
Kendati demikian kehadirannya jangan di persepsikan sebagai bentuk ajang politik menghadapi Pemilihan bupati (Pilbub) 2020 yang akan datang.
” Ini masih dalam suasana lebaran, jadi jangan dikaitkanlah dengan politik, masih terlalu dini, toh pemilihan itu masih lama dilaksanakan, ” ujar mantan Pol PP Sultra ini.
Rajiun juga berpesan kepada ASN, tenaga honorer dan pengabdi lainnya ang bertugas di Bumi Sowite yang hadir, sebaiknya untuk mundur 50 langkah dari kebelakang pada acara Halal bihalal yang di selenggarakan tuan rumah.
“Tentu harus saya sampaikan kepada mereka jika ada yang hadir disini, pasalnya ada ASN yang di mutasi serta honorer di pecat akibat pernah terlihat mengikuti buka puasa bersama (bukber) beberapa waktu yang lalu tentu jika ada yang datang bisa bernasib yang sama, ” ungkap Rajiun.
Dia juga menyayangkan pada waktu bulan suci Ramadhan saat menghadiri bukber di salah satu rumah bawahannya, ada kejadian yang luar biasa didalam hidupnya dan hal itu baru pertama kali di alaminya, dimana terjadi buka puasa tandingan.
“Kok bisa ada buka puasa tandingan padahal falsafah orang Muna, falsafah budaya kita saling menghargai, saling menhormati, saling mematuhi sebagai bentuk adat dan budaya yang tidak bisa dilepas dari wujud kenyataan kita. Tetapi yang muncul adalah budaya keirian, kedengkian dan intimidasi dan kalau ini dipertahankan maka Muna dan Mubar tidak akan bangkit seperti daerah lain di Sulawesi tenggara, ” jelasnya.
Rajiun berharap Muna dan Muna Barat dapat membangun kebersamaan dan merapatkan barisan. Ini dalam rangka mewujudkan keinginan dan harapan masyarakat Muna dan Mubar, sebagai bagian dari suku Muna secara keseluruhan yang lahir dari empat pilar besar “Fato ghoerano” maka d pastikan Muna-Mubar tidak akan ketinggalan seperti daerah lain.
” Daerah ini di butuhkan ketegasan dan kedisiplinan bukan otoriter, pemaksaan dan suka intimidasi. Kalau semua ini kita hilangkan maka keinginan dan harapan kita pasti akan terwujud, ” tutupnya.
Laporan : Phoyo
Editor : Rustam









