TenggaraNews.com, KENDARI – Komisioner KPK RI, Laode M. Syarif menyoroti keberadaan terminal khusus (tersus) alias jetty milik PT. Daka Group di Desa Boedingi, yang tepat berada di samping sekolah dasar (SD).
Melalui cuitan di akun twiter miliknya, komisioner lembaga anti rasuah ini meminta Bupati Konawe Utara (Konut) dan Kapolres Konawe agar melihat dan memperhatikan kondisi di lapangan.

Cuitan tersebut ditulis Laode M. Syarif sembari meretwet status dan gambar yang diposting Koordinator Presedium Forum Mahasiswa Pemerhati Investasi Pertambangan (Forsemesta) Sultra, M. Ikram Pelesa.
“Contoh nyata. Menambang dekat sekolah tapi semua diam. Pak bupati-pak Kapolres tolong dilihat dan diperhatikan,” tulis Laode M. Syarif di akun twitwernya, sembari mentage akun Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, Kementerian ESDM, Bareskrim Polri, Kemenkes RI dan Div Humas Polri.
Sebelumnya, Koordinator Presedium Forsemesta Sultra, M. Ikram Pelesa memposting sejumlah gambar SDN 3 Lasolo Kepulauan di Desa Boedingi, yang nampak tepat berdampingan dengan jetty milik PT. Daka Group.

Sejumlah gambar yang dipublish di akun Medsos tersebut tak hanya menunjukan posisi jetty yang berdampingan dengan sekolah, namun ada juga aktivitas para anak didik yang sedang membersihkan lantai sekolah, karena debu dari wilayah IUP dan jetty milik PT. Daka Group yang menempel ke kaca, tembok, pintu dan lantai sekolah.
“PT. Daka Group, sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di desa Boedingi dan Boenaga. Selain dengan dugaan ilegal mining, perusahaan tersebut juga membangun Jetty di halaman SD 3 Boedingi, hingga mengakibatan sekolah tersebut tidak dapat digunakan untuk belajar (https://twitter.com/MIPelesa/status/1117353278239428608?s=19),” tulis M. Ikram Pelesa.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun TenggaraNews.com, aktivitas membersihkan sekolah akibat debu pertambangan tersebut dilakukan oleh siswa setiap hari. Tak hanya itu saja, suara mesin dari jetty juga kerap mengganggu aktivitas belajar mengajar di satuan pendidikan ini.

Sekolah ini dibangun sejak tahun 2010 lalu. Jauh sebelum ada aktivitas pertambangan di daerah tersebut, dan mulai melakukan proses belajar mengajar pada tahun 2011 lalu. Saat itu, hanya tiga ruangan saja yang menjadi tempat para anak didik menerima pembelajaran dari guru.
Namun, ruangan-ruangan itu sudah tidak digunakan lagi, karena kondisinya sudah rusak parah. Untung saja, ada beberapa ruangan baru yang dibangun oleh pemerintah, yang kini menjadi tempat belajar mengajar mereka.
Selain dekat dengan sekolah, jetty PT. Daka Group ini juga berdampingan dengan pemukiman warga Desa Boedingi.
Saat tim redaksi menyambangi SDN 3 Boedingi, pihak PT. Daka Group sedang sibuk melakukan pengapalan ore nickel.
(Kas/red)









