TenggaraNews.com, PADANG – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Limpako Unand memiliki cara yang unik dalam memperingati hari ulang tahun HUT ke-74 Republik Indonesia. Dikala para pengurus organisasi lain sibuk menghadiri undangan dari Pemkot/Pemkab atau undangan kampus sebagai peserta upacara, para kaum intektual ini memilih menggelar upacara bendera dengan cara dan konsep yang berbeda, dengan menggelar upacara di area persawahan di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sabtu 17 Agustus 2019.
Rangkaian upacara di areal persawahan tersebut untuk mengenang perjuangan petani tua, yang harus merintih sampai hari ini. Hal ini juga merupakan bentuk kritik kepada pemerintah.
Pesertanya, bukan hanya anggota Limpako Unand saja. Namun, ada juga para bapak-bapak dan Ibu-ibu serta pemuda-pemudi yang berdomisili di dekat areal persawahan juga ikut ambil bagian menjadi peserta upacara.
Busana yang mereka gunakan juga layaknya rakyat biasa. Ada yang mengenakan kaos biasa saja, kain batik serta kameja. Bahkan salah seorang warga ada yang memakai baju pejuang.
Penggagas kegiatan sekaligus Ketua Limpako Unand, Akmal Arianto menjelaskan, kegiatan upacara tersebut sengaja digelar di sawah dan melibatkan para masyarakat dan petani setempat, serta pemuda-pemudi yang ada di sana.
“Semua warga negara di Indonesia harus punya rasa memiliki Indonesia, nasionalisme, skaligus menghormati jasa-jasa para pahlawan yang gugur membela negara Republik Indonesia,” ujarnya, Minggu 18 Agustus 2019.
Akmal juga mengungkapkan, pihaknya memilih melaksanakan upacara di area persawahan, karena sebagian warga sekitar tidak bisa mengikuti upacara yang dilaksanakan oleh pemerintah, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
“Sebagian warga ingin sekali melaksanakan upacara, walaupun itu dilaksanakan secara sederhana, tapi tidak mengurangi dari pada khidmat dari pada nilai-nilai upacara tersebut,” kata Akmal Arianto.
Negara agraris dengan puluhan juta petani yang menggantungkan hidup melalui sawah dan ladang patut menjadi perhatian khusus rezim penguasa.
“Sebagai organisasi kedaerahan yang berasal dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota, yang notabene masyarakatnya banyak menggantungkan hidup dari bertani, kami memilih untuk melaksanakan upacara bersama di tengah sawah, sebagai bentuk kritik agar pemerintah lebih memperhatikan lagi nasib petani Indonesia, ucap Akmal.
Selain itu, Limpako Unand juga aktif bekerja sama dengan masyarakat Pauh, untuk menebar senyuman pada para penerus bangsa. Agar kelak mereka ingat kebahagiaan ketika tanggal 17 Agustus mulai datang, karena saat itu orang mengadakan lomba.
Laporan: Fauzaki
Editor: Ikas









