TenggaraNews.com, Muna – Bakal Calon (Balon) Bupati Muna, LM. Rajiun Tumada kembali menghadiri undangan masyarakat di Kabupaten Muna. Kali ini, Bupati Muna Barat (Mubar) itu berkunjung ke Desa Lapole, Sabtu 26 Oktober 2019.
Agenda tersebut dihadiri ribuan warga di wilayah Muna Timur itu, yang terdiri dari dua kecamatan yakni Kecamatan Maligano dan Batukara.
Salah satu anggota Masyarakat Pecinta Rajiun (MPR), Ardit mengaku sangat bangga bisa bertatap muka secara langsung dengan sang pelopor pembangunan Muna Barat. Sebab, selama ini dirinya hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut mengenai sosok LM. Rajiun Tumada.
“Tentu ini adalah kesyukuran bagi kita masyarakat Muna Timur yang ada di kecamatan Maligano, bisa berjumpa langsung dengan beliau (LM. Rajiun,red). Kami yakin, Insya Allah jika beliau terpilih nanti, dirinya kedepan bisa memimpin Muna lebih baik lagi. Ini akan menjadi harapan besar bagi kita semua,” ucapnya.
Namun, Ardit menyesalkan tindakan salah satu oknum warga di wilayah itu, karena tiba-tiba saja kursi yang telah disewa oleh panitia ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) terpaksa harus dipulangkan kembali, lantaran oknum tersebut tidak mau jika kursi itu disewakan.
“Kami tidak tahu menahu, tadinya kursi itu telah siap untuk dipakai oleh para tamu yang hadir, namun tiba-tiba ditarik kembali dengan alasan yang tidak jelas,” paparnya.
Ditambahkannya, bahwa dalam rangka untuk menyukseskan kegiatan deklarasi MPR serta pengukuhan Garda BSB di Kecamatan Maligano dan Batukara, banyak sekali mendapat hambatan, rintangan dan teror.
“Tentu teror itu ditujukan kepada panitia penyelenggara, tapi kami tidak takut, kami akan lawan. Kami bersungguh-sungguh untuk memenangkan dan menenangkan Pilkada pada tahun 2020 mendatang,” katanya.
Menanggapi hal itu, LM. Rajiun Tumada mengatakan, dalam proses demokrasi di tahun 2020 memdatang semua punya hak politik. Kedatangan dirinya di Kecamatan Maligano adalah bagian dari silaturahmi kepada keluarga. Namun, kemudian ada unsur kesengajaan dari oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menghalang-halanginya, itu pun harus dimaafkan.
“Jadi janganlah dihalangi, berpolitiklah secara terbuka. Kalau memang di sini tidak diberi kursi maka bisa saya bawakan dari sana. Marilah kita ciptakan demokrasi yang damai, tentram dan berkeluarga di Kabupaten Muna ini,” pungkasnya.
Laporan: Phoyo









